Senin, 09 September 2013

Perawat Berhati Malaikat


Menulis biografi atau kisah tentang tokoh sudah sering orang lakukan, istilah lainnya terlalu mainstream. Untuk mencari biografi seorang tokoh terkenal tinggal ketik saja namanya di beranda Google maka ratusan bahkan ribuan artikel akan mudah ditemukan. Kali ini saya akan mencoba menulis tentang seorang perawat yang baik hati. Yang tak lain dan tak bukan adalah temen saya.

Menulis kisah tentang orang terdekat terinspirasi sejak masa saya SMA, saat itu kita disuruh membuat kisah atau biografi orang yang kita kagumi. Siswa-siswi pun berlomba untuk menulis biografi tokoh-tokoh terkenal, misalnya K.H Abdul Halim, Raden Dewi Sartika,dll. Tidak disangka ternyata yang dapat nilai terbaik adalah Ade Sudjana yang membuat profil tentang kakaknya sendiri. Menurut guru Basa Sunda saat itu, kadang kita terlalu memuja-muja tokoh yang jauh sedangkan disekeliling kita juga ada seseorang yang patut kita jadikan contoh, misalkan orang tua yang selalu bekerja untuk membiayai anaknya. Dari pengalaman itulah saya ingin menuliskan sebuah kisah tentang perawat yang baik hati, tidak hanya kepada pasien, namun kepada teman-temannya pun dia selalu baik. Diantara begitu banyak kebaikannya, saya akan mencoba menuliskan kisah yang membuat hati saya tersentuh. Dia adalah Panji Pratama Saputra. Seorang perawat dengan perawakan tambun yang murah senyum. Panji selalu menjadi orang terdepan kalo ada masalah, tak jarang juga dia menjadi koordinator sebuah acara. Cerita tentang kebaikan Panji ini bukanlah karena dia telah mengantar saya ngapel dari Cirebon ke Linggarjati, tetapi sesuatu yang menurut saya lebih menyentuh daripada itu semua.

Hari Rabu siang entah tanggal berapa, saya, Panji dan Derry sedang main laptop di lobi kampus tercinta Poltekes Kemenkes Cirebon. Sambil menunggu cuaca lebih adem. Maklum dengan letak geografis 108.33° dan 6.41° lintang selatan pada pantai utara Pulau Jawa dengan ketinggian 5 meter dari permukaan laut, Kota Cirebon terasa sangat panas pada siang hari. Hari itu Panji membawa sepeda motor ke kampus, dan setelah pulang rencananya saya, Panji dan Derry akan main ke kosan saya. Oiya, saya dan Derry itu satu kosan. Sambil menunggu adem, tentunya asik juga kalo ke kosan bisa nebeng ke Panji, pikir saya.

Jam menunujukan angka dua, tiba-tiba Derry mulai membereskan barang-barangnya. Saya dan Panji tidak memperdulikan hal itu, sampai akhirnya Derry membuka percakapan

“saya pulang duluan yah?” Kata Derry

“gak bareng, Der?”jawab saya

“gak ah, duluan aja. Mau istirahat” sahut Derry dengan wajah penuh kelelahan

“naik apa Derr pulang ke kosannya?” tiba-tiba Panji mulai ikut dalam percakapan

“jalan kaki aja Ji.” jawab derry penuh percaya diri

“naek motor punya saya aja nih, Derr?” ucap panji

“terus kamunya naik apa, Ji?” tanya Derry dengan penuh penasaran

“biar saya jalan kaki sama Anton” jawab Panji

Seketika itu saya kaget, saya saja merasa enggan untuk pulang jalan kaki sementara Panji rela jalan kaki menuju kosan yang jaraknya tidak bisa dibilang dekat, padahal yang punya motor kan dia sendiri. Walaupun akhirnya Derry dengan penuh kedewasaan mengalah dan pulang dengan jalan kaki.

Dari kejadian diatas, saya belajar apa arti keikhlasan. Belajar dari Panji yang dengan ikhlas meminjamkan motor buat temannya agar tidak kepanasan, sementara dia rela pulang berjalan kaki panas-panasan. Kebetulan saat itu saya sedang memegang laptop, saya pun mulai membuka akun facebook. Kemudian memasang status “saya tidak sebaik Panji Pratama Saputr”’ yang dengan bangga saya persembahkan buat Panji.

Waktupun bergulir, tak terasa saya sudah bekerja di Jakarta Panji bekerja di Bandung. Hari Minggu yang entah tanggal berapa saya berada di rumah dan berencana berangkat ke Jakarta. Kebetulan atau memang takdir Panji juga sedang berada di rumah, diawali dengan basa basi tidak jelas akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta lewat Bandung. Tentu saja dari rumah saya ke Bandungnya nebeng sama Panji. Nanti dari Bandung disambung naik bis menuju Jakarta.

Sore Minggu saya menunggu kedatangan Panji dirumah saya, tak berapa lama menunggu, Panji datang sesuai waktu yang ditentukan. Memang dia jarang terlambat. Setelah pamitan sama orang tua saya, kami pun berangkat menuju kota kembang. Dalam perjalan banyak hal yang kami obrolin , dari mulai kerja sampai ke masalah pacar. Sampai akhirnya hujan pun turun.

“Ji, ke pinggir dulu. Kita berteduh” Panji pun memarkir motornya di sebuah bangunan untuk berteduh.

“kita tunggu hujan reda aja ya, Ji?” seru saya

“kayanyah ujannya lama Ton, mending lanjut aja”

“emang bawa jas hujan dua?”

“saya cuma bawa 1, Ton, tapi kamu aja yang pake”

“lho, nanti kamunya kebasahan, Ji?”

“terus kamu mau ke Jakarta basah-basahan?” seru Panji dan sempat mengakhiri percakapan untuk sementara waktu.

iya juga sih, saya juga berpikir gimana nanti di dalam bisnya kalo saya basah kuyup, bisa mengganggu orang lain juga. saya pun mencoba memberi solusi.

“ya udah Ji, biar saya aja yang nyetir motor”

“udah saya aja Ton, kamu kan belum punya SIM disini mobilnya gede-gede terus jalannya juga rusak.” jawab Panji.

Tahu saja Panji kalau saya masih trauma terhadap kecelakaan motor yang menimpa saya waktu SMA, sejak saat itu saya masih belum lancar mengendarai motor di jalan raya.

Sulit untuk mengakui akhirnya saya harus berutang budi lagi sama Panji, semakin sulit saja ketika mengetahui Panji besoknya panas demam. semakin saya mengingat kebaikan Panji terhadap saya, semakin saya ingin meneteskan air mata. Konyol memang, sialan! Sudah saatnya tulisan ini diakhiri sebelum saya terjerumus lebih dalam. Sekian.

Oleh : Antonio Nurhega. AMK

2 komentar: