I.
Nama lengkap bangunan itu adalah Politeknik Kesehatan
Kemenkes Tasikmalaya Program Studi Keperawatan Cirebon, tapi saya (juga hampir
semua mahasiswanya) lebih senang menyebutnya Akper Depkes Cirebon. Selain
terlalu panjang, rasanya ada sedikit sentimen tersendiri kenapa tidak mau
disebut sebagai Poltekes Kemenkes Tasikmalaya.Mungkin seperti perseteruan
antara Manchester United dan Manchester City. Bagi mereka kami adalah tetangga
yang berisik, begitu pula sebaliknya, bagi kami mereka adalah tetangga yang berisik.
Bangunan itu terletak di Jl. Pemuda No. 38. Kau cukup
berjalan beberapa puluh meter ke arah timur dari lampu merah Pemuda atau
perempatan By Pass. Kau akan melewati sebuah mesjid yang diberi nama Mesjid
Cimanuk. Dulu waktu saya masih kuliah tingkat 1, saya sering sholat Jum’at di
mesjid itu. Tapi kemudian pindah ke mesjid lain karena khotbahnya kelamaan. Konon
pula, di mesjid itulah Dendi sering memodusin korban-korbannya. Kampus kami
terletak persis di samping mesjid itu.
Tapi sebelum melewati mesjid kau akan melewati sebuah warung
rokok kecil di sekitaran situ. Boim, teman saya, dengan resmi menamakan warung
itu dengan Warung Masgar. Alasannya karena penjaga warungnya adalah 2 orang
Mas-Mas (1 cukup ganteng, 1nya lagi wajahnya mirip tokoh Mario Bross) yang
berasal dari daerah Garawangi, Kuningan. Jadi disingkat Masgar. Di warung itu
saya dan teman-teman biasa nongkrong untuk ngopi dan merokok.
Tentang Warung Masgar ini saya mempunyai sebuah cerita yang
lucu. Waktu itu kami hendak berangkat untuk praktek di RSJ Marzoeki Mahdi di
Bogor. Seperti biasa saya dan teman-teman nongkrong dulu di Warung Masgar
sebelum bus yang kami tumpangi berangkat. Saya tidak ingat siapa saja yang ikut
nongkrong disitu, mungkin ada saya, Cacing, Kempot, Boim, Mas Maung, Mbol. Tapi
yang jelas tidak ada si Omesh, karena waktu itu Omesh belum datang. Dan karena
nungguin Omesh datang pula maka bus yang kami tumpangi berangkat terlambat dari
jadwal yang sudah ditentukan.
Setelah Omesh datang bus pun berangkat. Ngeeeeeeng.
Meninggalkan kampus, lalu melewati Warung Masgar tempat tadi kami nongkrong
sebelum berangkat. Tiba-tiba saya lihat si Masgar dadah dadah sambil
melambaikan tangannya ke arah kami. Kami seisi bus pun bersorak dan membalas
lambaian tangannya.
“Dadaaaaaah, Masgaaar”
“Bay bay, Masgar. We’ll miss you”
“Masgar, i love you” (eh, sepertinya tidak ada yang bilang i
love you sih). Yang jelas kami semua merasa terharu karena tak menyangka Masgar
mempunyai sisi yang romantis dan melankolis juga. Melepas keberangkatan kami ke
Bogor dengan lambaian tangannya yang tidak berhenti sampai dia tidak terlihat
dari jendela bus lagi.
Bus terus melaju melewati Kedawung lalu tiba di perempatan
Plered yang selalu ramai karena ada pasar. Kalau belok kanan dari perempatan
itu kau akan sampai di Trusmi. Tapi waktu itu bus yang kami tumpangi terus berjalan
lurus, tidak belok kanan karena kami memang mau ke Bogor bukan ke Trusmi.
Tiba-tiba si Cacing teriak,
“eh, ini aing mana?” Kata dia sambil menggerak-gerakkan
tangan dan pundaknya.
“Apaan, Cing?”
“Ini, ini aduuuuh apa tuh namanya?” katanya lagi sambil
nunjuk-nunjuk pundaknya.
“Apaan sih, Cing? Pundak?” tanya Bang Mamat
“Bukan”
“Guling?” si Bayu ikutan nanya
“Bukan!”
“Bantal?”
“Bukan, iiih!”
“Terus apaan dong? Topi? Sabun? Sepatu? Kondom? Cangcut? Rinso?
Oskadon? Bu Dedoh? Bu Sriyatin?” Semua
hal kami sebutkan satu per satu tapi ternyata bukan itu jawabannya.
“Oh iya aing inget! TAS!!!” kata si Cacing ketika akhirnya
dia ingat.
“Tas aing mana ya?” kata Cacing bertanya kepada kami semua.
Saya dan teman-teman pun segera mencari tas Cacing dalam bus tapi tidak ketemu.
“Coba diinget-inget lagi Cing terakhir dimana?”
Cacing berpikir keras mengingat-ngingat kembali.
“Anjiiiing!”
“Kenapa, Cing?”
“Aing inget”
“Dimana?”
“di Masgar!!!”
Akhirnya kami semua sadar kalau ternyata Masgar memang bukan
lelaki romantis yang mengiringi kepergian kami dengan lambaian tangan. Saat itu
dia mungkin sedang mencoba memberi tahu kami, “wooooy ini tas siapa ketinggalan
di warung??!”. Tapi sayang, tidak ada seorang pun dari kami yang menyadarinya. Pada
akhirnya tas itu dititipkan kepada Pak Eyet yang menyusul berangkat ke Bogor
esok harinya, karena pada saat Cacing inget keberadaan tasnya mobil bus yang
kami tumpangi sudah sampai di Palimanan.
II.
Sebelum memasuki kampus kau akan ketemu dengan pos satpam di
dekat pintu gerbang. Saya tidak pernah tahu siapa nama bapak-bapak satpam itu.
Tapi suatu kali, kelas kami pernah sampai mau berantem dengan salah satu bapak satpam
itu. Gara-garanya, teman-teman saya selalu iseng mindahin motor yang sudah di
parkir ke atas teras. Paling jauh, mindahin motor si Mul ke belakang kampus. Suatu
ketika ada kakak tingkat yang marah-marah, dia mengaku kalau motornya ada yang
mindahin dan menuduh kelas kami sebagai pelakunya. Tentu saja tidak ada seorang
pun diantara teman-teman saya yang mengaku, karena seiseng-isengnya kami motor
yang selalu kami pindahin adalah motor teman-teman kami sendiri. Tidak pernah
ada kasus kami mindahin motor selalin motor teman sekelas. Karena tidak ada yang mengaku Bu Dedoh sampai
harus turun tangan dan tentu saja dia bawa bapak satpam. Bapak satpam ngajakin
berantem kalau belum ada yang mau mengaku. Akhirnya si Mbol berdiri, dia bilang,
“Kami akan bertanggung jawab untuk apa yang sudah kami
lakukan. Tapi, berantem sampai mati pun kami tetap tidak akan bertanggung jawab
untuk hal yang tidak pernah kami lakukan!”
Anjing! Gagah banget si Mbol waktu bilang gitu. Coba saya
cewek sudah klepek-klepek pasti.
Setelah si Mbol bilang gitu, satu per satu teman cowok di
kelas ikutan berdiri. Wah gawat, perang nih! Kata saya dalam hati. Untung saja Bu
Dedoh bisa mencegahnya. Tapi setelah itu kami dilarang mindah-mindahin motor
lagi meskipun itu motor punya teman sekelas.
Belakangan, setelah saya lulus saya jadi tahu kalau kasus
itu hanya karangan dari kakak tingkat yang ingin cari gara-gara saja. Coward!
III.
Kampus kami terdiri dari 3 gedung utama. 1 yang paling depan
adalah gedung administrasi, juga merangkap ruang dosen, aula dan perpustakaan.
2 gedung dibelakangnya yang saling berhadap-hadapan adalah kampus keperawatan
dan kebidanan. Katanya sih masih ada beberapa gedung lagi yang rencananya akan
dibangun, tapi sampai saya lulus tidak pernah ada bangunan baru lagi.
Di samping gedung utama adalah tempat dimana para mahasiswa
biasa memarkir motornya. Tempat biasa Bang Mamat akan datang dengan motor
Mionya yang bersuara ngiiiiiiiiiiiing,yang bisa didengar dari radius 500 meter.
Juga terdapat sebuah bangku dan pohon mangga yang daunnya rindang. Tempat yang
cocok untuk beristirahat di kala terik siang. Jika kau berjalan terus ke depan
maka kau juga akan menemukan deretan pohon kersem yang kadang jika buahnya
sudah matang suka dipetik oleh para mahasiswa. Di deretan pohon kersem inilah
sejarah lupa mencatat suatu peristiwa penting. Tapi disini saya akan
mencatatnya agar kelak kau mengingatnya. Di salah satu pohon kersem itulah, pada suatu
siang yang terik, Mas Mbeb ditembak oleh seorang cewek dan akhirnya mereka
jadian. Ini penting untuk dicatat karena selama ini yang kita tahu adalah
MasMbeb selalu jomblo selama 3 tahun kuliah, padahal sebenarnya dia pernah
punya pacar. Dan mereka meresmikan hari jadian mereka dibawah pohon kersem. Aiiih, romantis sekali.
Kampus keperawatan dan kebidanana terdiri dari 2 lantai. Lantai
1 adalah ruang kuliah untuk mahasiswa tingkat 1. Tingkat 2 dan tingkat 3 ada di
lantai 2. Setiap tingkat terdiri dari 2 kelas, A dan B. Saya di kelas A bareng
dengan Yosie Rivanto, Cacing, Mas Maung, Ipunk, Mbol, Boim, Kmepot dan tentu
saja Dendi Nugraha. Mas Mbeb ada di kelas B. Cewek yang nembak Mas Mbeb juga
ada di kelas B.
Di tingkat 1 inilah saya pernah dimarahin oleh Pak Edi. Waktu
itu kipas di kelas tidak nyala, sementara udara di Cirebon sangat panas jadi
saya punya ide untuk membawa kipas angin ke kelas. Biar sejuk. Sayangnya ketika kipas angin saya nyalakan
seisi kelas menjadi ribut (sebenarnya Yosie Rivanto sih yang paling ribut)
sementara saat itu Pak Edi sudah memulai materinya. Otomatis saya dimarahin. Tapi
hanya saat itu saja saya dimarahin Pak Edi karena ternyata sebenarnya Pak Edi
adalah dosen yang baik.
Di kelas itu pula Yosie Rianto pernah hampir berantem lawan
Yoppy Dwi Hakiki. Kau tau apa masalahnya? Cuma pintu! Jadi, si Yosie kebelet
boker mau keluar kelas sementara si Yoppy lagi sakit gigi pengan masuk kelas. Bruuuk.
Tabrakan di pintu. Keduanya lagi sensi, si Yosie sensi karena eenya sudah di
ujung tanduk, si Yoppy lebih sensi lagi karena sakit gigi. Ngotot-ngototanlah
keduanya.
“Ira pengenne apo?!!”
“Gulet bae tah?!”
“Dadi!!”
Wah, udah mau perang lagi tuh. Tapi kali ini bukan Bu Dedoh
yang berhasil mencegahnya, melainkan Mas Maung.
Ya, dialah Mas Maung yang waktu kuliah pacaran sama Tini tapi sering
meliuk-liuk bareng Hempilah.
Di kelas itu memang banyak cerita. Terutama soal asmara. Tapi
kebanyakan yang menyedihkan. Di kelas itu saya dan Ipunk pernah suka sama Lilis
tapi Lilisnya malah jadian sama Anas. Kempot dan Urank suka sama si Puput anak
bidan tapi dua-duanya ditolak. Bayu suka sama Hani terus nembak di depan SMA 4
tapi ditolak karena ternyata Hani sudah jadian sama A Wowo. Omesh suka sama
Fitri tapi Fitri malah jadian sama Kempot. Cacing pergi ke Karawang buat nembak
Sefty Sunarya hasilnya ditolak. Boim nembak si Yayah anak Dharma Husada,
ditolak juga. Kata si Yayah ke Boim, “biarkan perasaan itu mencair”. Entah apa
maksudnya tapi yang jelas semuanya berakhir tragis. Mungkin kelas itu memang dikutuk.
Di samping kelas itu, di dekat tangga yang membawa kita ke
lantai 2, dulu terdapat sebuah kulkas juga sebuah loker yang tidak terpakai
lagi. A Wowo, sebagai ketua HIMA saat itu, mempunyai sebuah program bernama
Kantin Kejujuran. Jadi di kulkas itu diisi oleh bermacam-macam minuman dingin. Siapa
saja yang mau beli tinggal ambil saja dalam kulkas. Uangnya tinggal dimasukin
ke dalam toples yang ada di atas kulkas. Program yang mulia sekali. Jika saja a
Wowo mau maju sebagai calon presiden pasti beliau akan terpilih. Jokowi sama
Prabowo mah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan a Wowo.
Sayangnya, a Wowo lupa kalau dia tidak tinggal di Jepang
tapi Indonesia. Jadi program mulia tersebut dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang
tidak bertanggung jawab, yang dalam hal ini biasanya saya dan Yosie.
“Brooot, haus gak?” kata saya ke Yosie
“Haus, Broot”
“Yaudah ambil Fruit Tea”
“Oke”
Kemudian Yosie akan
mengambil sebotol Fruit Tea dan saya akan memasukan selembar uang seribuan,
padahal harganya 3 ribu rupiah.
“Wah kurang tuh Broot duitnya. Ya wes isun tambahin” kata
Yosie. Kemudian dia ikut nambahin, sebesar 500 perak.
Lama kelamaan program itu bangkrut juga. Karena selalu
merugi akhirnya pintu kulkas selalu dikunci. Kita tidak bisa mengambil minuman
seenaknya. Tapi karena selalu dikunci otomatis tidak ada yang membeli, jadilah
program itu benar-benar bangkrut. Entah sejak kapan kulkas itu selalu terlihat
kosong.
Karena selalu
terlihat kosong, terlintas sebuah ide untuk memindahkan kulkas itu ke dalam kelas.
Saya tidak tahu siapa yang melontarkan ide brilian ini tapi yang jelas pada suatu
hari, dengan dipimpin oleh Bayu Purnomo maka kulkas tersebut dipindahkan ke
kelas kami. Diangkut dari lantai 1 ke lantai 2! Saat itu kami merasa sangat
keren sekali. Bayangkan sebuah kelas mempunyai kulkas di dalamnya! Rasanya selama
kampus kami berdiri baru hari itu ada sebuah kelas yang mempunyai kulkas.
Tapi kekerenan itu tidak berlangsung lama. Bu Ayu langsung
marah-marah ketika melihat kulkas itu sudah nangkring di dalam kelas.
“Kenapa kulkas ada disini? Balikin lagi ke tempatnyaaaa!!!”
Jika sudah begitu tak seorang pun yang berani melanggar
titahnya. Bayu Purnomo, kembali memimpin
pengangkutan kulkas itu kembali ke tempatnya semula.
IV.
Bu Ayu tidak selalu galak. Meskipun sering marahin saya karena
rambut saya gondrong, atau marahin Wastika karena malah ngegambar wayang pas
mata kuliah Bu Ayu, beliau kadang juga baik, malah sekali waktu pernah kena
sial. Ceritanya waktu itu Bu Ayu mempunyai sebuah peraturan. Jika beliau sedang
mengajar maka kita harus datang sebelum beliau datang. Jika kita datang setelah
beliau ada di kelas maka hukumannya kita tidak boleh ikut jam kuliah tersebut.
Sialnya waktu itu jam kuliah Bu Ayu adalah hari Senin jam 8 pagi. Ini adalah
hal yang cukup membahayakan buat saya. Karena setiap akhir pekan saya harus mudik
ke Kuningan, maka saya beresiko datang terlambat pada hari Seninnya. Saya tidak
berharap itu terjadi tapi ternyata terjadi juga. Saya datang terlambat. Sudah lari-lari
menuju kelas ternyata Bu Ayu sudah ada di dalam. Coba ketuk-ketuk pintu
ternyata tetap tidak boleh masuk. Akhirnya selama jam pelajaran tersebut saya
harus menunggu di luar dan suruh mengisi laporan keterlambatan. Kalau tidak
salah, waktu itu sama Dea Julyansyah.
Minggu depannya saya berangkat lebih pagi karena tidak ingin
kembali menunggu di luar. Sebelum jam 8 saya sudah berada di kelas. Tenang
rasanya. Tapi sampai jam 8 Bu Ayu belum juga hadir di kelas. Anak-anak di kelas
sudah mulai pada ribut.
“udah kunci aja pintunya”
Entah siapa yang punya ide seperti itu, tapi kemudian Mbol
tampil sebagai eksekutor. Dia mengambil tali yang biasa digunkan untuk mengikat
gorden lalu memakai tali itu untuk mengunci pintu. Sreet sreet sreet. Pintu pun
terkunci. Mbol kembali duduk di bangkunya.
Beberapa menit kemudian Bu Ayu terlihat berjalan hendak
memasuki kelas. Tapi tidak ada seorang pun yang membuka tali yang mengikat pintu. Terlihat Bu Ayu
berusaha membuka pintu, didorong ditarik didorong lagi ditarik lagi tapi pintu
tetap tidak terbuka. Ketika ada yang berusaha membuka tali itu tiba-tiba saja
Bu Ayu balik badan dan meninggalkan kelas! Waduh, Bu Ayu marah nih gawaaaat! Mbol
segera saja jadi sasaran kemarahan, terutama oleh Ghesti yag selalu
marah-marah.
Untung Mbol bersikap gentle dan segera menyusul Bu Ayu untuk
meminta maaf. Tapi ternyata Bu Ayu tidak marah, katanya beliau juga harus
konsisten dengan apa yang sudah diucapkannya. Bener kan? Bu Ayu tidak selalu
galak.
V.
Itulah kampus saya, Akper Depkes Cirebon. Meskipun di
kalangan para mahasiswa Akper dan rumah sakit kampus kami bisa dibilang
terkenal, lain halnya dengan masyarakat awam. Setidaknya, satu kali dalam
hidupmu kau akan mengalami situasi semacam ini,
“Kuliah dimana, Dek?”
“Di Akper Depkes, Pak”
“Dimana itu?”
“Di jalan Pemuda”
“Oh, Unswagati ya?”
“Bukan, Pak. Akper Depkes”
“Oh iya, STAIN ya?”
“Bukan, Pak. Akper Depkes. Sekolahnya perawat!”
“Oh perawat. Ya, saya tahu. Muhammadiyah kan ya?”
“pppppfffffttttttttt”
Jika sudah begitu jalan satu-satunya adalah segera balik
badan dan ucapkan “kuatkan Baim Ya Alloh”sebanyak 69 kali.
Diakui atau tidak kenyataannya memang seperti itu. Saya
sendiri baru tahu kampus ini setelah diajak mendaftar oleh Endah (mantan pacar
saya). Mas Maung pertama kali mendaftar di Stikes dan Muhammadiyah. Bang Mamat
dan Gembul malah daftar di UPI. Yang sepertinya memang sudah berniat kuliah
disini mungkin cuma Antonio Nurhega. Dan beliau sukses menduduki jabatan Wakil
Presiden BEM. Fufufu.
Tapi buat saya itu bukanlah hal yang penting. Karena yang
paling penting saya bisa lulus dan akhirnya dapet kerja. Juga, yang penting
ketika mengenangnya saya selalu senang. Itu tandanya apa yang saya jalani
selama 3 tahun kuliah adalah hal yang menyenangkan. Kalau tidak senang buat apa
juga saya mengingat-ngingat dan capek-capek menuliskannya.
Dan ya, itulah kampus saya. Setiap sudutnya mempunyai cerita
tersendiri bagi saya. Ada beranda di lantai 2 tempat saya biasa liatin
anak-anak bidan di seberang, tapi tidak pernah terlihat jelas karena mata saya
minus. Ada juga papan whiteboard di kelas yang sering digambarin jorok oleh
teman-teman saya. Biasanya digambarin
gambar penis. Ada penis yang diwarnain hitam terus ditulis “Punya Bayu”. Atau
gambar penis besar dan berotot “Punya Sumedi”. Atau gambar penis yang mungil,
itu sudah jelas ditulis “Punya Yosie”. Dari papan whiteboard kemudian pindah ke
tas, baju bahkan sepatu. Lengah sedikit saja, siap-siap ada gambar penis di tasmu.
Dan ada pagi-pagi yang selalu saya ingat. Setiap kali
berangkat ke kampus. Dengan mata yang masih mengantuk karena keseringan
begadang. Berjalan menaiki tangga. Masuk
kelas, menyimpan tas, lalu keluar lagi dan nongkrong di beranda kelas. Menunggu
dosen masuk. Biasanya saya minjem hp Bang Mamat atau si Mul buat dengerin
musik. Itu sekitar jam 7 atau jam 8 pagi. Mataharinya masih segar. Dan warnanya
bagus sekali.
Ricky P. Rikardi
Kampung Melayu, 14 Februari 2015






0 komentar:
Posting Komentar