Semuanya berawal dari sebuah obrolan di warung kopi bersama
Mas Maung. Siang itu, sambil menikmati kopi dari cangkir masing-masing (saya
memesan kopi hitam dan Mas Maung memesan kopi susu) kami berbincang-bincang
mengenai berbagai hal. Dari mulai wanita, agama, Tuhan hingga berujung kepada
pertanyaan klasik yang anehnya selalu mengganggu pikiran kami berdua, yaitu KENAPA MAS MBEB SAMPE SEKARANG MASIH
JOMBLO???!! (sengaja saya cetak tebal untuk menambah kesan dramatis). Bagi
kami berdua kejombloan yang diderita oleh Mas Mbeb itu terasa janggal dan aneh.
Apalagi jika melihat sepak terjang Mas Mbeb selama ini. Di mata kami berdua
sosok Mas Mbeb itu hampir mendekati sosok pria idaman mertua. Penghasilan
cukup, ganteng emmp segitu sih iya,
lucu, cerdas, loyalitas terhadap pekerjaan tinggi, selera musik dan fashion
tidak terlalu mengecewakan, pernah menjadi Duta Cuci Tangan Gedung A RSCM. Apa
lagi yang kurang coba? Dengan sederet prestasi seperti itu menurut kami berdua
(seharusnya) Mas Mbeb itu tidak jomblo. Minimal punya seorang gebetan laah, atau syukur-syukur punya 3 orang
gebetan seperti Mas Maung. Dari situ kemudian saya dan Mas Maung mencoba
mengkaji dan ber-brainstorming untuk
mengetahui alasan kenapa Mas Mbeb sampe sekarang masih jomblo. Hipotesa kami
berdua, Mas Mbeb itu terlalu bersikap keibuan*! Bersikap keibuan disini artinya
sebagai seorang cowok Mas Mbeb itu terkesan kurang macho, kurang nakal, dan
terlalu lurus.
Adalah Yosie Rivanto, seorang pemerhati aktifitas asmara Mas
Mbeb sekaligus salah seorang yang pernah menjadi korban perselingkuhan, yang
pernah mengajukan sebuah teori bahwasannya “cewek
itu cenderung lebih tertarik kepada cowok nakal daripada cowok baik-baik”.
Teori ini juga sangat menarik perhatian saya. Untuk menguji hipotesa saya dan
Mas Maung, juga untuk menguji kebenaran teori yang diajukan oleh Yosie Rivanto
saya kemudian iseng-iseng bertanya kepada beberapa orang teman cewek yang saya
punya. Apakah benar mereka cenderung menyukai cowok yang nakal daripada cowok
yang baik-baik?
Sebelumnya harus saya definisikan terlebih dahulu apa itu
kriteria seorang cowok nakal dan cowok baik-baik. Nakal disini bukan berarti
kriminal. Jadi seorang preman atau pengedar narkoba tidak termasuk kepada
golongan cowok nakal. Idealnya seorang cowok nakal itu adalah seseorang yang
mempunyai prinsip atas kenakalan yang diperbuatnya. Misalnya, lu waktu SMA
sengaja gondrongin rambut karena menurut lu rambut tidak ada pengaruhnya
terhadap tingkat kecerdasan maupun tingkat kelulusan Ujian Nasional. Artinya
kenakalan yang lu perbuat tidak didasari hasrat ingin pamer semata (biarlah
hasrat ingin pamer menjadi milik Mas Bowo dan Deden). Sebagian responden yang
saya tanya dalam survey ini bisa memahami kriteria cowok nakal dan baik-baik
yang saya maksudkan seperti poin diatas.
Setelah menentukan kriteria cowok nakal dan cowok baik-baik
seperti yang saya maksud, sekarang kita akan melihat bagaimana hasil dari
survey tersebut. Total responden yang saya wawancarai ada 10 orang cewek.
Sebenarnya ada 11, cuma yang seorang lagi ketika saya tanya jawabannya cuma “ya
kali” dan itu tidak menjawab hasil survey juga terdengar menyebalkan. Oke,
jumlah respondennya memang terlalu sedikit (harap maklum karena teman cewek
saya terhitung sedikit karena saya suka dimarahin sama si Bundaaa) tapi
setidaknya saya bisa mendapatkan sedikit gambaran dari mereka mengenai
ketertarikan mereka kepada cowok.
2 dari 10 orang cewek menyatakan kalau mereka lebih tertarik
kepada cowok baik-baik. Mereka yang menyatakan seperti itu adalah Ninda
Putriyanti Pamungkas dan Yulianti. Ninda atau biasa dipanggil Doti adalah
seorang mahasiswi program pendidikan Kesehatan Masyarakat di Universitas
Indonesia. Sementara Yulianti atau biasa dipanggil “Ngoook” oleh si Clys adalah
seorang perawat hemato-onkologi di RS Dharmais. Ninda mengatakan, “kalau gue
pribadi sih gak tuh (maksudnya gak tertarik kepada cowok nakal)”, sementara
jawaban Yulianti juga tidak jauh berbeda dengan jawaban Ninda, “Gak. Gue bukan
penganut paham tersebut”.
2 orang responden mengatakan kalau hal itu sebenarnya
tergantung dari ceweknya sendiri, meskipun secara pribadi mereka sendiri lebih
tertarik kepada cowok baik-baik. 2 orang yang berpendapat seperti ini adalah
Yeyen Anggraeni dan Tri Fitriani. Yeyen adalah praktisi kesehatan lingkungan di
RSPI Surianti Saroso dan Tri Fitriani atau yang akrab dipanggil Fitri adalah
perawat di RS Pusat Otak Nasional.
Sementara sisanya, yaitu 6 orang responden menyatakan kalau
mereka memang cenderung lebih tertarik kepada cowok yang nakal daripada cowok
baik-baik. Ke 6 orang tersebut adalah Mbak Fika, Mak Lia, Mbak Tia, Maulita
Permata Sari, Deby (temennya Yosie Rivanto) dan Khaerunnisa alisas Nisa XoXo.
“Kenapa nanya-nanya? Mau nambah dirimu?” kata Mbak Tia
“Ya kagak laah, Mbak. Gue lagi survey nih, Mbak” jawab saya
“Iya. Cowok nakal lebih menarik. Kalo cowok baik-baik kan
ntar bawaannya jadi garing.”
Begitulah pendapat dari Mbak Tia. Sementara Mak Lia punya
pendapat dan analisanya sendiri. Seperti ini,
“Biasanya iya. Kayaknya bangga aja punya yang nakal. Lucu
dan aneh ya? Mungkin ini analisanya, kan cowok nakal itu pemberani (pemberontak
dan berani mati) dan biasanya tindakannya dipandang romantis dan sweet bagi cewek. Aneh kan cewek?
Makanya gue gak mau kawin sama cewek. Kalo secara pribadi, gue waktu zaman
masih muda dulu, SMP-SMA-kuliah, gue suka cowok yang berandalan. Sampe 9 tahun
lho, gue kejar. Dia nembak gue tolak. Tapi dia pacaran sama orang lain gue
gangguin”
Begitulah analisa (dan curhatan) dari Mak Lia. Maklum usia
Mak Lia sudah tidak muda lagi. Kini beliau sudah berkeluarga, suaminya juga
ganteng lho (saya pernah ketemu satu kali). Meskipun kalau menyimak dari
ceritanya saya juga jadi bingung sebenernya yang nakal itu cowoknya atau Mak
Lia sendiri?
Sekarang kita berlanjut kepada jawaban dari Mbak Fika atau
saya sering manggil beliau dengan sebutan Mamanya Juno.
“Mamanya Juno, diriku mau bertanya. Apakah benar kalau cewek
itu cenderung lebih tertarik/menyukai cowok nakal daripada cowok baik-baik?”
“Ya, Om. Hahaha”
“Alasannya kenapa, Mbak?”
“cowok yang bebas dan cuek itu cenderung menraik. Kenapa?
Karena kalo sampe dia merhatiin satu cewek , dia bisa merasa sangat spesial
(gak pake telor)”
Sebagai bahan catatan, ketiga responden diatas (Mbak Tia,
Mak Lia dan Mbak Fika) statusnya sudah berkeluarga. Sekarang kita juga akan
menyimak jawaban dari ketiga responden lain yang statusnya masih belum
berkeluarga. Mereka adalah Maulita Permata Sari atau sering saya panggil Moo, Deby
(temennya Yosie Rivanto) dan Nisa XoXo. Kita mulai dari si Moo.
“Tergantung dari masing-masing sih, Cruut. Tapi kalo gue,
iya. Lebih menarik badboy daripada
yang baik-baik dan pendiem. Hahaha. Kayak misalnya, A Eja sama Sandy. Gue jauh
lebih tertarik sama Sandy kan?”
“Ohh gitu. Alasannya kenapa, Moo?”
“Kalo menurut gue sih lebih LAKI yang badboy gitu, Cruut. Cuma yaa badboy
juga ada aturannya juga. Gak terus dia badboy,
gak ngerti aturan, jadinya preman deh”
“Alif Kodratullah juga badboy
tuh, ko lu lebih suka sama Sandy?”
“Alif udah nikah keleeeeeus”
“tuh liat kata tulisan di pantat truk, jangan ngaku cantik kalo belum
macarin PRIA BERISTRI”
“hahaha. Issh kalo gue mah amit-amait ahhh”
Begitu pendapat si Moo. Menurutnya cowok nakal itu lebih
laki daripada cowok baik-baik.
Sementara si Deby temennya Yosie mempunya pendapat sendiri.
“Hahaha kata siapa? Sometime
perempuan itu bukannya suka cowok yang nakal sih tapi dia gak suka cowok yang
munafik. Karena sebagian besar cowok baik itu munafik. Munafik gak mau berbuat
nakal padahal mau bangeeeeet. Wkwkwkwk. Kalo cowok nakal yaa bukannya pencuri
ya atau maling yaa? Kalo buat have fun
atau clubbing mah biasa. Daripada tua
nakalnya. Wkwkwk. Sekarang didefinisikan dulu nakal yang seperti apa sih?”
“Yaa seperti yang lu bilang tadi. Minimal waktu sekolah
pernah disetrap guru deh. Masa lu gak paham juga?”
“Hahahaha. Kalo menurut gue pribadi sih biasanya cowok yang
kayak gitu cuek gitu terus bikin penasaran dan gue lebih suka cowok cuek
daripada cowok bacot. Hahaha. Kenapa sih?”
“Gue lagi survey buat bahan tulisan. Oke deh thanks udah mau
berbagi. Eh betewe cowok bacot itu yang model-model gimana sih?”
“Jiaaah malu deh gue. Wkwkwk. Iyaa yang suka ngumbar-ngumbar
romantis atau suka gombal-gombal gak jelas gitu. Hahahaha”
Pendapat si Deby hampir sama dengan pendapatnya Mbak Fika.
Bagi mereka cowok nakal itu cenderung lebih cuek dan itu membuat mereka
tertarik. Si Deby juga berhasil menambah kriteria cowok baru dalam
perbendaharaan kata saya, yaitu cowok bacot.
Terakhir mari kita simak jawaban dari Nisa XoXo yang sering
gue panggil “Den”.
“Den, gue mau bertanya nih. Apakah benar kalo cewek itu cenderung
lebih tertarik/menyukai cowok nakal daripada cowok baik-baik?”
“Kenapa nanya begituan, Bang Brooo?”
“Ini demi menjawab pertanyaan hidup yang paling hakiki,
KENAPA MAS MBEB SAMPE SEKARANG MASIH JOMBLO?”
“Berdasarkan pengalaman gue nih, Bang, jujur gue selalu
ngebayangin punya pacar yang baik, pinter, bla bla bla. Tapi justru yang
kejadian selama ini tuh gue selalu dideketin sama cowok-cowok bandel. Dan sampe
sekarang gue justru naksir sama temen kuliah gue yang badung dan drop out dari kampus ”
“Tapi lu pribadi lebih tertarik cowok baik-baik apa cowok
nakal? Nakal disini bukan nakal kayak preman atau pengedar narkoba gitu”
“iya gue tau, emang bukan pengedar narkoba atau semacamnya
gitu. Itu mah kriminal. Gue sih MAUNYA dapetin cowok yang baik. Tapi TERNYATA
gue naksir yang begajulan gitu. Ahh sial, gue jadi curhat. Lagian ngungkit masa
lalu sih?”
“Siapa yang ngungkit? Lu yang curhat sendiri, Den. Hahaha”
“Itu pertanyaan ngeselin banget, Bang. Kalo menurut gue yaa,
cowok yang bandel itu lebih gemanaaa geetoooh. Hahaha. Najees banget kan?”
“Hahaha. Ya ya ya gue paham, Den”
“Mas Mbeb harus rada badboy
dikit kalo gitu. Hahaha. Biasanya badboy
lebih banyak ditaksir sama perempuan. Eaaaa eaaa. Demi apa obrolan di grup juga
ngebahas hal yang sama? Hahaha”
“Hahaha. Ya ini lagi nguji hipotesa itu”
“wkwkwkwk. Cepet Bang gue juga mau tau hasilnya”
“Ntar buat xiliid 6 (maksudnya zine Nurse Station edisi 6).
Xiliid 5 aja gak jadi-jadi nih”
“Oh gitu. Hahaha. Bisa keleeus gue nulis hal yang sama?”
“Udeeh curhatan lu yang tadi ditulis aja. Hahaha”
Begitulah pemaparan hasil survey kepada 10 teman cewek saya.
Dari survey tadi bisa kita lihat bahwa mayoritas temen cewek saya (6 responden)
mengakui kalau mereka memang cenderung lebih tertarik kepada cowok-cowok nakal,
sisanya 2 orang responden mengaku lebih menyukai cowok baik-baik dan 2 orang
lagi berasumsi jika hal itu kembali ke pribadi ceweknya masing-masing (meskipun
ke 2 orang cewek ini juga mengaku lebih tertarik kepada cowok baik-baik). Tentu
hasil survey ini bukanlah sebuah hasil akhir dan masih terbuka untuk
diperdebatkan. Karena pertama, responden yang saya tanya jumlahnya sangat
sedikit (tidak bisa dijadikan sampel populasi seluruh cewek di dunia), kedua
karena saya sendiri memang bukanlah lembaga survey. Jadi jangan terlalu
dipercaya, toh lembaga survey yang resmi saja masih tidak bisa bebas dari
kepentingan seseorang/golongan? Apalagi saya yang bukan lembaga survey resmi.
Lagipula percaya mah sama Tuhan bukan sama lembaga survey.
Lalu dengan hasil survey ini apakah Mas Mbeb memang harus
berubah untuk menjadi sedikit badboy
biar tidak jomblo terus? Saya harap tidak. Saya sendiri (dan kalian juga
mungkin) masih tetap lebih menyukai Mas Mbeb yang apa adanya. Toh, orang-orang
bijak pun selalu menganjurkan untuk menjadi diri kita sendiri. Atau mengutip
kata-kata Kurt Cobain, “i’d rather be
hated for who i am than loved for who i’m not”. Sebagai umat Kurt Cobain
yang taat saya merasa wajib mengamininya.
Catatan : *bersikap keibuan diambil dari perkataan Bunglay, maksudnya sikapnya terlalu lembur seperti seorang ibu
Ricky P. Rikardi






0 komentar:
Posting Komentar