Rabu, 23 April 2014

(Hanya) Sebuah Catatan Kecil Tentang Para Pecinta Buku



-Ricky P. Rikardi-

I.
Nama lengkapnya adalah James Douglas Morrison tapi dunia lebih mengenalnya sebagai Jim Morrison. Vokalis The Doors. Dia adalah eksponen utama dan garda terdepan dari adagium sex, drugs and rock & roll yang terkenal pada dekade 60an. Hidupnya dipenuhi dengan kontroversi dan adiksi. Kematiannya di Paris pun masih menyisakan misteri hingga hari ini. Tapi diluar berbagai kontroversi dan sikap destruktifnya, Jim Morrison adalah seorang kutu buku kelas berat. Dia adalah seorang rockstar dan pecinta buku yang paling menggairahkan sepanjang tahun 60an.

Dalam buku biografi berjudul No One Here Gets Out Alive, sebuah biografi tentang Jim Morrison karya Jerry Hopkins dan Danny Sugerman, ada beberapa kisah menarik tentang Jim Morrison dan buku. Diceritakan ketika Jim SMA, gurunya pernah menegur ibu Jim karena dianggap tidak pernah mengurus Jim. Jim hampir selalu memakai baju dan celana yang sama setiap hari ke sekolahnya. Gurunya mengira orang tua Jim tidak pernah memberinya uang untuk membeli pakaian. Ketika gurunya menyampaikan hal ini, ibu Jim kaget. Karena menurutnya Jim selalu diberi uang yang bahkan dirasa cukup untuk membeli baju. Usut punya usut ternyata uang yang diberikan ibunya tidak pernah Jim belikan baju, melainkan dia belikan buku.

Atau cerita yang satu ini. Jim mempunyai sebuah permainan menarik. Jika ada temannya yang berkunjung ke kamarnya maka ia akan menyuruh temannya tersebut untuk mengambil sebuah buku lalu membacakan salah satu kalimat yang terdapat di buku tersebut tanpa memberitahu Jim buku apa yang diambilnya. Jim kemudian akan menebak judul buku tersebut. Dan dia tidak pernah salah dalam permainan ini.

II.
Nama kecilnya adalah Koesno. Tapi orang Indonesia lebih mengenalnya dengan Soekarno, atau Bung Karno. Jangan pernah memperdengarkan lagu-lagu The Doors pada Bung Karno. Beliau pasti akan marah besar. Baginya lagu-lagu The Doors tidak jauh berbeda dengan lagu-lagu The Beatles. Musik ngak ngik ngok. Budaya barat. Kontra revolusioner! Haram meniru-nirunya. 

Meskipun begitu, setidaknya ada dua kesamaan antara seorang Soekarno dengan Jim Morrison. Pertama, sifat flamboyan mereka terhadap wanita (silahkan dihitung ada berapa banyak affairs mereka dengan beberapa wanita selama hidupnya). Dan kedua, kecintaannya kepada buku.

Soekarno juga adalah seorang kutu buku kelas berat. Baginya buku ibarat sebuah ladang perang berbagai pemikiran. Ditangannya sebuah buku tidak akan pernah awet, karena dia akan mencorat-coretnya membolak baliknya hingga buku itu lecek. Dari situlah berbagai pemikirannya terbentuk. Salah satunya adalah ideologi yang beliau namakan dengan Marhaenisme. Inilah komunisme versi Indonesia. Menurut Soekarno, apa yang dialami oleh rakyat kecil di Indonesia berbeda dengan apa yang dialami oleh rakyat di Eropa. Karena itu, menurutnya, kita tidak bisa serta merta meniru komunisme Eropa dan menerapkannya di Indonesia. Tentu kita tahu, pemikiran ini tidak hanya berasal dari perenungannya saja, melainkan dari berbagai buku yang beliau baca. Mulai dari karya Karl Marx hingga Mahatma Gandhi.

III.
Moh. Hatta atau Bung Hatta seperti antitesis dari seorang Soekano. Jika Soekarno itu agitatif dan narsis, maka Hatta lebih pendiam dan kalem. Sebuah perpaduan yang unik. Bertolak belakang tapi saling melengkapi. Tapi jika bisa dicari apa persamaan diantara mereka, maka jawabannya adalah kecintaan mereka kepada buku.

Ada sebuah kisah lucu ketika Soekarno, Hatta dan Sjahrir diasingkan di Banda Neira. Ketika ditanya barang apa yang ingin dibawakan untuk mereka, Soekarno menjawab kalau dirinya ingin sebuah Kemeja Arrows. Sedangkan Sjahrir minta dibawakan koran-koran berbahasa Belanda. Lalu apa yang diminta oleh Hatta? Hatta meminta dibawakan buku-bukunya yang berjumlah total 13 peti!

Meskipun Soekarno dan Hatta sama-sama seorang kutu buku tapi ada perbedaan yang sangat mencolok diantara mereka dalam perlakuannya terhadap buku. Buku di tangan Soekarno itu tidak pernah awet dan dipenuhi coretan tangannya. Hal itu justru sangat diharamkan oleh Hatta. Dia tidak pernah mencoret-coret bukunya (kecuali untuk tanda tangan) dan bahkan dia pun tidak pernah melipat kertas bukunya. Buku di tangan Hatta benar-benar seperti benda yang sangat berharga. Saking berharganya bahkan sampai ada lelucon kalau istri pertama Bung Hatta adalah buku.

Dan yang paling keren tentu saja ketika Bung Hatta menikah. Beliau pernah menyatakan tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Janji itu kemudian ditepatinya. Beliau menikah 3 bulan setelah Indonesia merdeka. Lalu apanya yang keren? Bung Hatta menghadiahkan sebuah buku hasil tulisannya sendiri sebagai sebuah mas kawin! Benar-benar anti-mainstream. Bung Hatta adalah hipster zaman kemerdekaan!

IV.
Bisa dibilang nasib Tan Malaka lebih sial dan tragis dibandingkan dengan Soekarno dan Hatta. Namanya sebagai salah seorang bapak pendiri bangsa kerapkali tidak dituliskan dalam sejarah. Tenggelam dibawah Soekarno dan Hatta. 

Kisah hidupnya benar-benar seperti sebuah kisah fiksi. 20 tahun meninggalkan Indonesia, melanglang buana menuju Belanda, Moscow, China, Hongkong, Singapura membuat petualangan Che Guevara mengelilingi Benua Amerika pun terlihat cemen. Statusnya sebagai buronan internasional membuatnya harus selalu waspada dimanapun dirinya berada. Tan Malaka terkenal licin dan jago menyamar. Tapi hidupnya berakhir tragis, mati ditembak di tangan anak bangsanya sendiri.

Berbeda dengan Soekarno yang selama hidupnya mempunyai banyak istri, Tan Malaka malah tidak menikah sama sekali. Hidup sebagai buronan memaksanya untuk tidak terikat kepada sesuatu. Entah itu keluarga atau pun rumah. Bahkan koleksi buku-bukunya pun harus selalu siap untuk dia tinggalkan jika keadaan dirasa tidak aman.Karena itu dia pernah merasa iri kepada Bung Hatta dan Leon Trotsky, yang meskipun mereka diasingkan tetapi mereka masih bisa membawa koleksi buku-bukunya.Tan Malaka tidak bisa seperti Trotsky ataupun Bung Hatta. 

Oleh sebab itu untuk menyiasatinya Tan Malaka mempunyai metode tersendiri yang disebutnya sebagai metode jembatan keledai. Ini adalah teknik untuk menghapal sesuatu dengan mengambil salah satu suku kata depannya. Contoh yang paling sering kita temukan adalah Mejikuhibiniu untuk mengahapal warna-warna pelangi. Konon di kepalanya, Tan Malaka mempunyai banyak jembatan keledai untuk mengahapal setiap hal penting yang pernah dibacanya dari sebuah buku. Hal ini dilakukan karena dia tidak bisa membawa koleksi buku-bukunya dengan bebas. Tidak percaya? Silahkan baca magnum opus-nya yang berjudul Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika). Madilog ditulis ditempat persembunyiannya, dengan bermodalkan ingatan dan metode jembatan keledai.

V.
Ricky Pradita Rikardi lahir hampir satu abad setelah kelahiran Soekarno. Meski keduanya sama-sama berzodiak Gemini, tapi dia belum lahir saat Soekarno membacakan teks proklamasi. Begitupun ketika Orde Lama tumbang dan Orde Baru lahir, bahkan zygotnya pun belum terbentuk. Ketika pada akhirnya Orde Baru tumbang dengan lengsernya Soeharto, Ricky Rikardi malah sedang asik-asiknya bermain gundu daripada misalnya, ikut berdemonstrasi di Gedung MPR.

Begitupun soal musik. Dia merasa memiliki kedekatan yang lebih mesra dengan Generasi X dibawah komando Kurt Cobain dan kawan-kawan grunge-nya dibandingkan dengan Generasi Bunga di era Jim Morrison. Meskipun sedikit-sedikit menyukai musik The Doors dan sosok Jim Morrison, tapi album favoritnya di Generasi Bungan justru jatuh kepada album The Velvet Underground And Nico milik band kampret-tai-ucing The Velvet Underground. 

Setelah dibaca-baca, dibanding keempat sosok sebelumnya, hanya sosok nomer terakhir saja yang sungguh sangat tidak ada sisi kerennya sama sekali. Dan paling kacrut diantara semuanya.

Jadi hanya ada 2 alasan kenapa sosok yang tidak mempunyai sisi heroik dan kerennya sama sekali bisa masuk dalam daftar ini, pertama karena dia sendiri yang nulis. Kedua, karena tentu saja dia juga seorang pecinta buku. Kan judulnya juga hanya Catatan Kecil Para Pecinta Buku?

0 komentar:

Posting Komentar