-Ricky P. Rikardi-
I.
Nama lengkapnya adalah James Douglas Morrison tapi dunia
lebih mengenalnya sebagai Jim Morrison. Vokalis The Doors. Dia adalah eksponen
utama dan garda terdepan dari adagium sex,
drugs and rock & roll yang terkenal pada dekade 60an. Hidupnya dipenuhi
dengan kontroversi dan adiksi. Kematiannya di Paris pun masih menyisakan
misteri hingga hari ini. Tapi diluar berbagai kontroversi dan sikap
destruktifnya, Jim Morrison adalah seorang kutu buku kelas berat. Dia adalah
seorang rockstar dan pecinta buku yang paling menggairahkan sepanjang tahun
60an.
Dalam buku biografi berjudul No One Here Gets Out Alive, sebuah biografi tentang Jim Morrison
karya Jerry Hopkins dan Danny Sugerman, ada beberapa kisah menarik tentang Jim
Morrison dan buku. Diceritakan ketika Jim SMA, gurunya pernah menegur ibu Jim
karena dianggap tidak pernah mengurus Jim. Jim hampir selalu memakai baju dan
celana yang sama setiap hari ke sekolahnya. Gurunya mengira orang tua Jim tidak
pernah memberinya uang untuk membeli pakaian. Ketika gurunya menyampaikan hal
ini, ibu Jim kaget. Karena menurutnya Jim selalu diberi uang yang bahkan dirasa
cukup untuk membeli baju. Usut punya usut ternyata uang yang diberikan ibunya
tidak pernah Jim belikan baju, melainkan dia belikan buku.
Atau cerita yang satu ini. Jim mempunyai sebuah permainan
menarik. Jika ada temannya yang berkunjung ke kamarnya maka ia akan menyuruh
temannya tersebut untuk mengambil sebuah buku lalu membacakan salah satu
kalimat yang terdapat di buku tersebut tanpa memberitahu Jim buku apa yang
diambilnya. Jim kemudian akan menebak judul buku tersebut. Dan dia tidak pernah
salah dalam permainan ini.
II.
Nama kecilnya adalah Koesno. Tapi orang Indonesia lebih
mengenalnya dengan Soekarno, atau Bung Karno. Jangan pernah memperdengarkan
lagu-lagu The Doors pada Bung Karno. Beliau pasti akan marah besar. Baginya lagu-lagu
The Doors tidak jauh berbeda dengan lagu-lagu The Beatles. Musik ngak ngik ngok. Budaya barat. Kontra
revolusioner! Haram meniru-nirunya.
Meskipun begitu, setidaknya ada dua kesamaan antara seorang
Soekarno dengan Jim Morrison. Pertama, sifat flamboyan mereka terhadap wanita
(silahkan dihitung ada berapa banyak affairs
mereka dengan beberapa wanita selama hidupnya). Dan kedua, kecintaannya kepada
buku.
Soekarno juga adalah seorang kutu buku kelas berat. Baginya
buku ibarat sebuah ladang perang berbagai pemikiran. Ditangannya sebuah buku
tidak akan pernah awet, karena dia akan mencorat-coretnya membolak baliknya
hingga buku itu lecek. Dari situlah berbagai pemikirannya terbentuk. Salah
satunya adalah ideologi yang beliau namakan dengan Marhaenisme. Inilah
komunisme versi Indonesia. Menurut Soekarno, apa yang dialami oleh rakyat kecil
di Indonesia berbeda dengan apa yang dialami oleh rakyat di Eropa. Karena itu,
menurutnya, kita tidak bisa serta merta meniru komunisme Eropa dan
menerapkannya di Indonesia. Tentu kita tahu, pemikiran ini tidak hanya berasal
dari perenungannya saja, melainkan dari berbagai buku yang beliau baca. Mulai dari
karya Karl Marx hingga Mahatma Gandhi.
III.
Moh. Hatta atau Bung Hatta seperti antitesis dari seorang
Soekano. Jika Soekarno itu agitatif dan narsis, maka Hatta lebih pendiam dan
kalem. Sebuah perpaduan yang unik. Bertolak belakang tapi saling melengkapi.
Tapi jika bisa dicari apa persamaan diantara mereka, maka jawabannya adalah
kecintaan mereka kepada buku.
Ada sebuah kisah lucu ketika Soekarno, Hatta dan Sjahrir
diasingkan di Banda Neira. Ketika ditanya barang apa yang ingin dibawakan untuk
mereka, Soekarno menjawab kalau dirinya ingin sebuah Kemeja Arrows. Sedangkan
Sjahrir minta dibawakan koran-koran berbahasa Belanda. Lalu apa yang diminta
oleh Hatta? Hatta meminta dibawakan buku-bukunya yang berjumlah total 13 peti!
Meskipun Soekarno dan Hatta sama-sama seorang kutu buku tapi
ada perbedaan yang sangat mencolok diantara mereka dalam perlakuannya terhadap
buku. Buku di tangan Soekarno itu tidak pernah awet dan dipenuhi coretan
tangannya. Hal itu justru sangat diharamkan oleh Hatta. Dia tidak pernah
mencoret-coret bukunya (kecuali untuk tanda tangan) dan bahkan dia pun tidak
pernah melipat kertas bukunya. Buku di tangan Hatta benar-benar seperti benda
yang sangat berharga. Saking berharganya bahkan sampai ada lelucon kalau istri
pertama Bung Hatta adalah buku.
Dan yang paling keren tentu saja ketika Bung Hatta menikah.
Beliau pernah menyatakan tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Janji
itu kemudian ditepatinya. Beliau menikah 3 bulan setelah Indonesia merdeka.
Lalu apanya yang keren? Bung Hatta menghadiahkan sebuah buku hasil tulisannya
sendiri sebagai sebuah mas kawin! Benar-benar anti-mainstream. Bung Hatta
adalah hipster zaman kemerdekaan!
IV.
Bisa dibilang nasib Tan Malaka lebih sial dan tragis
dibandingkan dengan Soekarno dan Hatta. Namanya sebagai salah seorang bapak
pendiri bangsa kerapkali tidak dituliskan dalam sejarah. Tenggelam dibawah
Soekarno dan Hatta.
Kisah hidupnya benar-benar seperti sebuah kisah fiksi. 20
tahun meninggalkan Indonesia, melanglang buana menuju Belanda, Moscow, China,
Hongkong, Singapura membuat petualangan Che Guevara mengelilingi Benua Amerika
pun terlihat cemen. Statusnya sebagai buronan internasional membuatnya harus
selalu waspada dimanapun dirinya berada. Tan Malaka terkenal licin dan jago
menyamar. Tapi hidupnya berakhir tragis, mati ditembak di tangan anak bangsanya
sendiri.
Berbeda dengan Soekarno yang selama hidupnya mempunyai
banyak istri, Tan Malaka malah tidak menikah sama sekali. Hidup sebagai buronan
memaksanya untuk tidak terikat kepada sesuatu. Entah itu keluarga atau pun
rumah. Bahkan koleksi buku-bukunya pun harus selalu siap untuk dia tinggalkan
jika keadaan dirasa tidak aman.Karena itu dia pernah merasa iri kepada Bung
Hatta dan Leon Trotsky, yang meskipun mereka diasingkan tetapi mereka masih
bisa membawa koleksi buku-bukunya.Tan Malaka tidak bisa seperti Trotsky ataupun
Bung Hatta.
Oleh sebab itu untuk menyiasatinya Tan Malaka mempunyai
metode tersendiri yang disebutnya sebagai metode jembatan keledai. Ini adalah teknik untuk menghapal sesuatu dengan
mengambil salah satu suku kata depannya. Contoh yang paling sering kita temukan
adalah Mejikuhibiniu untuk mengahapal
warna-warna pelangi. Konon di kepalanya, Tan Malaka mempunyai banyak jembatan
keledai untuk mengahapal setiap hal penting yang pernah dibacanya dari sebuah
buku. Hal ini dilakukan karena dia tidak bisa membawa koleksi buku-bukunya
dengan bebas. Tidak percaya? Silahkan baca magnum
opus-nya yang berjudul Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika).
Madilog ditulis ditempat persembunyiannya, dengan bermodalkan ingatan dan
metode jembatan keledai.
V.
Ricky Pradita Rikardi lahir hampir satu abad setelah
kelahiran Soekarno. Meski keduanya sama-sama berzodiak Gemini, tapi dia belum
lahir saat Soekarno membacakan teks proklamasi. Begitupun ketika Orde Lama
tumbang dan Orde Baru lahir, bahkan zygotnya pun belum terbentuk. Ketika pada
akhirnya Orde Baru tumbang dengan lengsernya Soeharto, Ricky Rikardi malah
sedang asik-asiknya bermain gundu daripada misalnya, ikut berdemonstrasi di Gedung
MPR.
Begitupun soal musik. Dia merasa memiliki kedekatan yang
lebih mesra dengan Generasi X dibawah komando Kurt Cobain dan kawan-kawan grunge-nya dibandingkan dengan Generasi
Bunga di era Jim Morrison. Meskipun sedikit-sedikit menyukai musik The Doors
dan sosok Jim Morrison, tapi album favoritnya di Generasi Bungan justru jatuh
kepada album The Velvet Underground And
Nico milik band kampret-tai-ucing The Velvet Underground.
Setelah dibaca-baca, dibanding keempat sosok sebelumnya,
hanya sosok nomer terakhir saja yang sungguh sangat tidak ada sisi kerennya
sama sekali. Dan paling kacrut diantara semuanya.
Jadi hanya ada 2 alasan kenapa sosok yang tidak mempunyai
sisi heroik dan kerennya sama sekali bisa masuk dalam daftar ini, pertama
karena dia sendiri yang nulis. Kedua, karena tentu saja dia juga seorang
pecinta buku. Kan judulnya juga hanya Catatan Kecil Para Pecinta Buku?






0 komentar:
Posting Komentar