Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Maret 2014

Kembang Api Untuk Dherisa Dan Alasan Kenapa Sebuah Taksi Dibakar Massa

-Nikholai Crutski-

“Dheee, tungguin gue dong?” seorang laki-laki tampak berjalan tergopoh-gopoh. Berusaha mengimbangi langkah seorang gadis yang berjalan dengan cepat di depannya. Gadis itu menoleh sejenak. Beberapa helai rambutnya bergoyang tertiup angin malam Tahun Baru.

“Lu lelet sih” protes gadis itu

“Buru-buru amat. Ada apaan sih?”

“Gue mau liat kembang api. Ntar kita telat kalo lu jalannya lelet kayak gitu” mukanya tampak cemberut. Laki-laki itu hanya bisa nyengir kuda.

“Lu sendiri kan tahu disini rame banget. Gue susah jalan cepet-cepet” laki-laki itu memulai pembicaraan setelah mereka kembali berjalan. Sesekali matanya memperhatikan keadaan di sekitarnya yang sudah berubah menjadi keramaian seperti di sebuah karnaval. Sebenarnya mereka sedang berjalan di sebuah jalan protokol di ibukota. Hanya karena malam ini adalah malam Tahun Baru jalanan itu diubah menjadi sebuah karnaval untuk menyambut pergantian tahun.

Mereka sudah berjalan selama lebih dari 30 menit menuju panggung utama acara malam itu. Keringat mulai bercucuran membasahi kaos putih yang dipakai oleh laki-laki itu. Namanya Deden.

Sementara gadis yang berjalan bersamanya sedari tadi masih terlihat bersemangat. Ajakannya untuk melihat kembang api di malam pergantian tahun membuat Deden tak kuasa untuk menolaknya. Dia adalah teman dekat Deden sejak SMP. Meskipun sempat berpisah ketika mereka mulai memasuki bangku perkuliahan tetapi pertemanan diantara mereka tetap lekat. Namanya Dherisa.

Sesekali Deden yang tertinggal beberapa langkah dibelakangnya memperhatikan rambut gadis itu yang berayun-ayun. Malam ini rambut panjang gadis itu diikat ke belakang, tidak dibiarkan tergerai seperti biasanya. Deden selalu menikmati keceriaan yang gadis itu bawa.

Sejak kapan? Tanyanya dalam hati. Entah sejak kapan kecerian gadis itu berhasil membuat Deden ikut ceria. Termasuk malam ini. Meskipun pada awalnya Deden menolak ajakan gadis itu untuk melihat kembang api tapi pada akhirnya Deden tetap luluh juga mendengar rengekannya yang seperti anak TK.

***

“Apa hal yang lu suka di dunia ini?”

“Senja. Mungkin”

“Kenapa?”

“Entahlah. Buat gue senja dimana pun selalu terlihat indah. Oh iya gue nemu sebuah kertas berisi puisi di tong sampah.”

“ oh ya? Puisi apa?”

“gue bacain ya?”

“oke”

Ada yang mengejar cintanya hingga ke Karawang 
Ada yang bertemu calon mertuanya di pesantren 
Tapi aku hanya terdiam disini, 
Karena pelukmu terlalu erat untuk kulepas 

Ada yang menangisi cintanya di tengah derai hujan 
Atau hanya diam saja dan terjebak di masa lalu 
Tapi aku hanya tersenyum disini, 
Melihat mimpiku yang indah di masa depan 

Ada gadis yang bosan dengan tanaman dan wewangian hutan 
Meski aku senang mendengarnya bercerita tentang kupu-kupu dan belalang 

Mereka bilang itu pengorbanan, 
Atau hanya demi lubang di selangkangan? 

Mereka hanya tidak paham 
Mereka hanya akan kehilangan 

Jadi jangan salahkan hujan yang sudah terjatuh 
Jangan salahkan malam yang sudah menjauh 
Marilah duduk disini, kawan. . 
Menyaksikan senja berlabuh di atas sana 
Bersama kawanan burung yang terbang ke utara 

Mari duduk bersamaku, kawan. . 
Mendengar celoteh manis cangkir kopi 
Yang berbincang mesra dengan asap rokok yang kita bakar 

Kita yang tidak pernah peduli Tidak akan pernah merasa tersakiti. . 

“Itu puisi lu sendiri kali?”

“Hahaha. Bukan. Sumpah deh gue nemu di tong sampah”

“Terus puisi siapa?”

“Gak tau. Gak ada nama penulisnya”

“Judulnya apa, Den?”

“Mereka Yang Kupanggil Teman”

Itu perbincangan yang terjadi beberapa tahun silam. Di loteng rumah Deden. Gadis itu memang suka bermain di rumah Deden. Katanya malas kalau bermain ke rumah pacarnya, “ngajakin mesum mulu”. Deden hanya tertawa menanggapinya. Dan ya, perbincangan itu terjadi ketika senja mulai turun.

Deden mengingat-ngingat kembali percakapan diantara mereka, sambil sesekali tubuh gemuknya harus berdesak-desakan dengan kerumunan orang yang juga datang ke acara di malam tahun baru itu. Sekali lagi dirinya tertinggal jauh di belakang. Gadis itu terlalu bersemangat. Tubuh mungilnya juga membantunya untuk bisa menyusup kesana kemari melewati kerumunan orang. Deden tidak berambisi untuk mengejarnya lagi. Biar saja, nanti dia juga pasti nungguin. Kata Deden dalam hati

“Lu sendiri, apa hal di dunia ini yang lu suka?”

“Gue? Banyak sih yang gue suka. Payung, hujan, es krim, balon. Apa lagi ya? Oh iya kembang api!”

“kayak anak kecil. Pantesan lu diselingkuhin terus. Hahaha”

“ah kampreet! daripada lu jomblo terus. Jangan-jangan lu gak suka cewek ya?”

“ihh kagak laah! Belum ada aja cewek yang gue suka.”

“Bilang aja gak laku. Hahaha”

“gak percayaan lu. Dulu gue pernah suka sama cewek”

“Oh ya? Siapa?”

“Namanya Senja”

“ah boong banget si kampret”

“Gue serius, Tot. Namanya emang Senja”

“Nama yang cantik. Terus?”

“gue suka. Tapi gue gak berani ngomong”

“Hahaha. Payah lu ah.”

“Waktu itu gue masih culun sih.”

“Terus? Terus?” “Ya terus dia gak pernah tau kalo gue suka”

“Cemen. Cemen. Malu ah gue teman sama lu. Hahaha”

“Masalahnya sebelum gue sempat bilang dia keburu gak ada”

“Maksudnya?”

“Dia bunuh diri”

Percakapan di loteng itu terhenti beberapa detik. Senja sudah selesai melaksanakan tugasnya. Kini dia berubah menjadi malam. Sebuah awal dari geliat aktivitas yang baru.

“Lu tau kenapa gue suka kembang api?”

“Gak.”

“Waktu kecil gue takut banget sama gelap. Jadi kalo malem-malem listrik mati gue pasti nangis. Terus buat ngehibur gue, bokap suka nyalain kembang api. Dari situ gue mulai suka kembang api”

“Lucu juga ya?”

“Sedih tau”

“Ko sedih?”

“Karena kembang api ngingetin gue sama bokap”

“Ohh. Lu gak pernah cerita tentang bokap lu?”

“Gue suka sedih sih kalo ngomongin bokap. Lu suka sedih gak kalo mikirin Senja?”

“Sedih sih”

“Gue juga sama, sedih. Bokap gue mati bunuh diri”

Deden tidak ingat lagi apa yang mereka perbincangkan lagi setelah itu. Mungkin mereka hanya saling diam. Memikirkan kesedihan mereka masing-masing. Atau mungkin waktu yang terlalu lama membuat ingatan Deden tumpul? Entahlah.

***

Deden akhirnya bisa mengejar langkah gadis itu. Nafasnya sedikit tersengal-sengal. Gadis itu hanya bersedekap melihat Deden.

“Payah lu. Segitu doang udah ngos-ngosan”

“Panas tau! Banyak orang lagi”

“Kayaknya kita gak bisa lebih deket lagi ke panggung nih. Padet banget”

“Ya udahlah, disini aja. Cape juga gue ngejer-ngejer lu terus”

“Pantes lu gendut terus. Jalan segini aja udah ngos-ngosan. Padahal jalan kaki kan efektif buat ngebakar lemak”

“ah diem lu ah. Sekarang mana kembang apinya?”

“Ya bentar lah. Baru juga jam berapa?”

Suasana bertambah semakin ramai dan padat. Kerumunan orang tumpah ruah dan menyesaki jalanan tersebut. Beberapa menit lagi sebelum pergantian tahun. Sesekali kembang api kecil terlontar dan menyala di udara. Deden dan gadis itu masih menunggu kembang api yang lebih besar dan lebih banyak. Ketika detik-detik pergantian tahun sudah mulai menghitung mundur suara terompet mulai terdengar semakin ramai dan memekakkan telinga. Tetapi tidak ada kembang api lagi di malam itu.

“Mana kembang apinya?”

“gue juga gak tau”

“Lu kata siapa sih bakalan ada kembang api disini?”

“Gue baca di berita”

“mana? Gak ada? Udah masuk tahun 2014 nih”

Gadis itu hanya bisa terdiam. Raut mukanya penuh dengan kekecewaan. Ternyata tidak ada kembang api raksasa yang mewarnai ibukota di malam tahun baru ini.

“kita pulang aja lah” kata gadis itu sambil menyeret tangan Deden.

“eh jangan nangis dong lu?”

“gak. Cuma males aja gue. Kita pulang aja deh”

“iyee iyee. Tapi ini tangan gue jangan ditarik-tarik gitu”

***

Deden hanya termenung menyaksikan deretan angka di argo taksi yang terus berjalan. Sementara Dherisa tampaknya masih sedih karena pesta kembang api yang diharapkannya batal. Tatapan matanya diarahkan ke jalanan, menyaksikan deretan lampu-lampu kota yang semarak. Setelah tahu bahwa pesta kembang api itu batal Dherisa langsung mengajak Deden pulang. Mereka kost di 2 tempat yang berbeda dan berjauhan sehingga terpaksa Deden mengantar Dherisa terlebih dahulu.

“Lu tahu kenapa sampe sekarang gue gak punya pacar?” Deden mencoba memecahkan kebisuan diantara mereka.

“Karena lu gay?”

“Anjriit. Bukan itu, Tot!”

Dherisa terlihat nyengir. Meskipun tidak sampai terbahak seperti biasanya.

“Terus kenapa?”

“Itu karena...” suara Deden berubah menjadi lirih.

“Di gang depan yang ada foto calegnya belok kiri ya, Pak?“ tiba-tiba Dherisa berkata kepada supir taksi. Taksi pun berbelok ke kiri. Tepat diujung gang taksi itu berhenti. Sama seperti omongan Deden.

“Eh, kenapa kenapa lu gak punya pacar?” Dherisa kembali teringat pada perbincangan mereka sebelumnya.

“Gak jadi deh, udah sampe nih”

“Oh ya udah”

Mereka berdua turun dari taksi. Deden mengantar Dherisa hingga ke depan gerbang pondokan kostnya.

“Eh sori udah ngajakin lu nih. Taunya sih kembang apinya gak ada”

“Udah lah gak apa-apa. Itung-itung tadi gue olahraga. Ngempesini ini nih” kata Deden sambil mengusap-ngusap perutnya yang buncit.

“Hahahaha. Gilaa ih perut lu”

“Seksi, Tot”

“Emak lu seksi!”

“Hahahaha”

“Udah ya gue masuk dulu. Lu mau mampir dulu?”

“Apaan udah malem gini. Gue juga udah ngantuk”

“Oke deh. Makasih ya?”

Dherisa membuka gembok yang mengunci pintu gerbang kosannya. Dilambaikan tangannya ke arah Deden. Rambutnya yang dikuncir masih bergerak kesana kemari ketika Dherisa berbalik dan meninggalkan Deden. Pemandangan itu selalu terekam kuat di dalam ingatannya. Deden pun kemudian berbalik dan memasuki taksi yang sedari tadi menunggunya. Tubuhnya yang subur dihempaskan begitu saja ke atas jok taksi. Dan perlahan taksi itu pun mulai berjalan meninggalkan pondok kost Dherisa.

“lu tahu kenapa sampe sekarang gue gak punya pacar? Itu karena sebenarnya gue sayang sama lu” Deden bergumam. Sayang sekali, gumaman Deden tidak bisa didengar oleh Dherisa tetapi malah didengar oleh supir taksi sehingga sang supir menjadi kaget kemudian hilang kendali lalu taksi itu pun menabrak gerobak pemulung yang ada di pinggir jalan.

Esoknya peristiwa itu menjadi sebuah headline utama di koran kriminal ibukota, “Sebuah Taksi Dibakar Massa Karena Menabrak Gerobak Milik Pemulung”. Ah ternyata kembang api itu tidak terjadi tepat di malam pergantian tahun, tetapi beberapa jam setelah pergantian tahun. Dan justru terjadi di taksi yang ditumpangi oleh Deden.

Mesteer Cornelis, 17 Maret 2014

Selasa, 04 Februari 2014

Heaven Is You

Seorang gadis tengah berjalan pulang menuju rumahnya dengan terhuyung. Langkahnya oleng, tapi ia tidak sedang mabuk. Sepanjang perjalanan gadis tersebut berdoa, agar ia tidak terjatuh di jalan dan bisa selamat sampai rumah. Gadis tadi mengetuk pintu rumahnya dengan kesadaran yang hampir menghilang. Nyeri yang amat sangat di kepalanya seperti menghisap seluruh tenaga dan kesadarannya. Tak kuat menahan sakit, sang gadis itu pun ambruk tepat ketika ibunya membukakan pintu untuknya.

Dengan panik, ibu dari gadis tersebut membawa anaknya menuju Unit Gawat Darurat rumah sakit terdekat. Sang ibu tidak peduli bahwa saat ini ia masih memakai seragam kerjanya, keselamatan anak lebih penting baginya.

Sang gadis pun sadar, tepat 15 menit setelah dilakukan CT-Scan kepala. Betapa terkejutnya gadis tersebut beserta ibunya ketika dokter menjelaskan hasil CT-Scan tadi. Tumor kepala, itulah yang dikatakan dokter. Menjelaskan penyebab mengapa sang gadis sering mengalami nyeri kepala yang hebat.

Kalian tentu tahu apa yang selanjutnya dilakukan sang gadis. Ya benar, ia menangis. Ia tak terima memiliki penyakit seperti itu. Kenapa Tuhan harus mengujinya dengan penyakit seperti itu? Apa salahnya? Bahkan ia selalu menuruti nasihat ibunya. Lantas apa yang salah?

Hari yang ditakutkan oleh sang gadis akhirnya datang juga. Hari ketika dokter memberitahukan bahwa ia harus di operasi. Sang gadis sudah memperkirakan ini sebelumnya.

Sang gadis tak tahu harus memutuskan apa. Di satu sisi ia ingin tumor itu diangkat agar ia tidak merasakan sakit lagi. Tapi di satu sisi ia takut akan efek yang ditimbulkan oleh pembedahan ini. Seperti yang sudah dokter beritahukan padanya, tumor di kepalanya terletak di bagian otak yang berfungsi menyimpan memori. Jika operasi gagal, bisa saja ia amnesia kan?

Malamnya si gadis terbangun karena haus. Tak sengaja matanya menangkap sosok ibunya yang tengah berdoa sambil menangis. Ia pun pura-pura memejamkan matanya kembali dan mendengarkan doa yang sedang dipanjatkan ibunya. Perlahan air mata mulai menetes dari matanya yang tertutup.

“Aku menolak dilakukan operasi”. Itulah keputusan final yang diambil sang gadis. Dokter yang merawatnya menggelengkan kepala tak percaya. Tumornya tergolong ganas dan ia malah menolak operasi. Sang gadis juga tak mau memberikan alasan mengapa ia menolak.

Sudah dua bulan berlalu. Sang gadis sudah tak mampu menahan sakit yang terus menerus timbul dari kepalanya. Obat penahan nyeri yang diberikan dokter seakan tak memiliki efek lagi. Ia semakin kurus karena terus menerus muntah. Ia juga merasa akhir-akhir ini penglihatannya makin buram.

Malam itu sang gadis tengah menulis di selembar kertas. Ketika ibunya bertanya, ia hanya tersenyum tak berniat untuk menjawab.

“Ibu, aku lelah dan ingin tidur”. Sang ibu pun menyelimuti tubuh kurus dan pucat putri sulungnya itu. Tak lupa kecupan kecil di kening, semoga putrinya bebas dari segala rasa sakit.

Hari sudah beranjak siang, tapi sang gadis tak kunjung bangun dari tidurnya. Ibunya pun membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh putrinya. Betapa terkejutnya si ibu mendapati tubuh anaknya telah dingin dan luar biasa pucat. Di tangan sang putri terdapat selembar kertas. Dengan perasaan takut, si ibu membaca isi kertas tersebut.


Ibu, jika kau membaca kertas ini berarti mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia.  
Bu, aku mendengar doa yang kau ucapkan setiap malam saat kau shalat tahajud. Kau meminta pada Allah agar penyakitku disembuhkan, bahkan kau meminta dirimu saja yang menderita sakit seperti ini. 

Terima kasih Bu tapi aku tak mau kau yang sakit, biar aku saja yang merasakannya. Banyak orang yang bergantung padamu Bu, termasuk juga aku. Maka dari itu, jangan buat mereka kecewa. 

Ibu, aku menyayangimu. Maafkan aku karena selama ini aku selalu menyusahkanmu. Aku terlahir dengan tubuh yang ringkih. Aku sering sekali sakit, dan aku tahu itu pasti membebani pikiranmu. Apa yang bisa kau harapkan dari anakmu yang penyakitan ini, Bu? Maafkan aku. 

Terima kasih sudah menjadi malaikat dalam kehidupanku, Bu. Terima kasih atas segalanya. Aku tak dapat membalasnya, tapi Allah pasti akan menempatkanmu di surgaNya. Aku yakin akan hal itu. Karena aku pun telah merasakan nikmatnya surga yang berasal dari kasih sayangmu. 

Bu, sudah ya aku lelah. Aku ingin tidur dulu. Bangunkan aku saat subuh bu, aku takut tak mendengar azan dan malah meninggalkan shalat.

Si ibu jatuh terduduk dengan air mata mengalir deras setelah membaca isi kertas tersebut. Ia terus memegangi tangan anaknya yang bahkan telah dingin dan mulai kaku. Ia tak mampu berkata-kata. Memanggil perawat yang berada di ruangan depan pun ia tak kuasa melakukannya.


“Ibu menyayangimu nak, Ibu tak pernah merasa terbebani meskipun kau sering sakit. 

Kau adalah permata dalam hidupku, harapanku. Aku tak ingin kehilanganmu. Tapi jika Allah memiliki kehendak, aku tak bisa menyangkalnya. Selamat jalan anakku. Ibu akan selalu mendoakanmu.”


--Nisa Xoxo--

Senin, 02 Desember 2013

CINTA SELEMBAR KERTAS


Oleh : Louz_Zyack

Perjalan Kertas petang ini sedikit berbeda, hujan tiada hentinya tercurah dari langit. Pasti banjir di daerah Pocin, keluhnya. Kertas memperbaiki posisi duduk di kursi Mayasari. Menghela napas sejenak. Pikirannya melayang ke daerah asalnya. Seperti film flashback, semua pertanyaan hidupnya bergumul dalam perhelatan di petang itu. Ingin rasanya dia pulang, tapi bagaimana bisa.

Bunyi nyaring telepon genggamnya mengganggu sejenak perenungannya. Dari Lembar, kekasih pujaan hatinya, walau hanya dalam hati dan penantian panjang, belum saatnya. Lembar, Lembayung Kirana namanya. Segera menekan tombol unlock dan segera membaca sms Lembar.

"Kertas! Kamu lupa ya, hari ini aku ada di LA! Kapan main?" Bunyi sms Lembar.

Hanya desahan yang keluar dari mulut Kertas. Lupa dia kalau Lembar sedang di Lenteng Agung. Biasanya dia jarang pulang kesana, hidup Lembar hanya di Kuningan, Cempaka Putih, dan Lenteng Agung. Dan Kertas tahu itu.

Jarinya kini asyik menekan tuts telepon genggamnya.

"Maaf, aku lupa. Aku sudah ada di Margonda, lagipula sudah malam. Besok saja kita ketemu bagaimana?" Balas Kertas.

Setelahnya dia kembali ke perhelatan di kepalanya. Memutar ceritanya. Astaga, semua terlalu kompleks bagi Kertas, pria berusia 23 tahun yang kini bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta. Kertas, sang Kertarajasa anak kesayangan ibundanya tercinta.

Menatap terawang langit yang mulai gelap gulita, untung saja hujan sudah berhenti. "Ya! TERMINAL! TERMINAL!" Teriak abang kondektur. Pemberhentian akhir. Bersiap turun sebelum melanjutkan ke arah Parung, tak jadi rupanya dia ke Pocin.

Jam 19.00, masih belum terlalu malam baginya. Toh, tantenya juga pasti baru datang dari Kuningan. Lelah dia terkantuk-kantuk di angkot 03, lepas malam yang melelahkan. Kertas tak mampu tidur, tapi mengantuk. Pria melankolik yang tinggi mimpi.

"Kak Kertas!!!" Jerit Sora, sepupu kecilnya. Suatu kejutan Kertas datang berkunjung. "Kak, kak." panggil Dondon, adik Sora. Tersenyum, lalu berkumpul bersama. Merasakan kehangatan keluarga yang mulai dirindukannya setelah bekerja. Juga untuk mengalihkan pikirannya tentang Lembar. "Bagaimana kerjaanmu?" tanya Teh Murni. "Ya begitu. Kerjaan perawat saja. Ada senang, ada capek juga." jawab Kertas datar, "Tapi seneng kan dapet gaji?" Goda Om Danar, suami Teh Murni, sambil terkekeh. "Itu sih iya, Om." jawab Kertas ikut terkekeh. Malam yang menyenangkan dan hangat. Mengakhiri hari Kertas itu.

***

"Katanya jam 9?!" Ucap gadis manis di depannya. Berpakaian simple tanpa memperhatikan model terkini, dengan rambut ikat kuda dan poni depan. Tampak muda dan sporty. Kau tak pernah berubah Lembar, bisik Kertas dalam hati.

"Aku ketiduran habis subuh. Maaf ya." ujar Kertas membela diri. Diliriknya gadis yang sebaya dengannya. Semakin manis saja, walau tiada tanda-tanda fisik dia berubah. Masih tetap kecil, mungil, namun memiliki semangat yang tinggi, dan mendominasi, seperti dirinya. "Kan kau sudah tahu, tidak baik tidur setelah subuh itu. Lagipula kau kan janji jam 9, bukan jam 11." kini Lembar menasehati sambil berkacak pinggang.

"Maaf, aku benar-benar ketiduran." Kertas memasang raut menyesal. Tapi tak ada yang harus disesalinya, toh dia sangat bahagia bertemu Lembar. Mereka meracau dengan pengalaman baru, masa lalu, rencana, dan ambisi mereka. Lembar dan Kertas, sepasang anak manusia yang sedang menikmati kebahagiaan dari tulusnya persahabatan dan cinta.

"Bagaimana project cerpenmu itu? Berhasilkah?" tanya Lembar, dia tahu ambisi terbesar Kertas adalah menerbitkan semua karya-karyanya, buah pemikirannya. Yang ditanya hanya diam, mengangkat bahu sambil terus asyik mengunyah.

"Berarti gagal ya?" tanya Lembar lagi, penasaran.

"Setidaknya kau membaca karyaku kan?" balik Kertas.

"excuse? Atau bentuk lain dari pupusnya harapan?" tanya Lembar.
Bakso Malang pedas yang dipesannya sedari tadi belum disentuhnya, menatap tajam pria dihadapannya. Menanti jawaban pasti.

"Hei,did you hear me, Kertas?!" Lembar menatap Kertas, sebal.

"Iya. Itu bukan hilang asa melainkan bentuk excuse yang memang aku peruntukkan untuk ku sendiri. Sekarang aku hanya berpikir, selama ada yang membaca, aku akan terus menulis." ujar Kertas tegas.

"Walau pun itu hanya aku?" tanya gadis manis itu, menatap lama-lama.

"though it's only you." jawab Kertas.

***

"Oh ya, bagaimana nasib Luna? Katanya kau sempat jalan dengannya?"

Serentetan pertanyaan panjang dari Lembar, selalu begitu. Seakan dia tak pernah puas akan informasi tentang Kertas.

"Luna? Haruskah dijelaskan? Tak akan percaya kau tentang ceritaku. Luna itu sudah aku anggap adik. Teman bertukar pikiran, layaknya kau. Tapi tak sama." ujar Kertas, -tak sama karena aku mencintaimu.- lanjutnya dalam hati.

"Hmm... Sayang sekali kau tak lanjut dengannya. Dia baik, cantik, pandai, pintar masak pula." ujar Lembar masih dengan melahap bakso Malang.

"Kau saja yang suka sama dia! Laki-laki itu suka dengan wanita yang memang bisa membuatnya luluh." Kertas bicara dengan nada yang agak tinggi, sedikit kesal dengan Lembar, selalu saja memuji Luna, seakan sengaja menjodohkan dirinya dengan Luna.

"Yahh, mungkin." ujar Lembar sambil mengangkat bahu.

***

Mata Kertas menatap lama ke arah Lembar, sudah waktunya dia pergi menuju rutinitasnya, begitu pun Lembar.

"Hati-hati! Jangan lupa sms kalau sampai ya!" Jerit Lembar ketika Kertas menaiki Mayasari. Hujan rintik-rintik saat itu. Kertas hanya melambai. Dilihatnya Lembar yang masih mengamati kendaraan umum itu, walau hujan mulai deras.

Kembali Kertas berujar dalam hatinya, aku akan meminangmu suatu saat nanti.

Senin, 18 November 2013

Gadis Yang Mirip Nikita Mirzani Yang Aku Lihat di Circle-K Siang Ini


Agak menyebalkan sebenarnya siang-siang di hari libur seperti ini harus pergi keluar dan menghadapi cuaca Jakarta. Sambutannya akan tetap selalu sama, panas yang terik dan macet yang brengsek. Tapi suara ibunda pertiwi diseberang telepon sana pada akhirnya mau tak mau membuatku harus beranjak meninggalkan kasur yang di hari libur seperti ini gaya gravitasinya seolah meningkat hingga 10x lipat.

“bilangin sama Bi Nining Ibu gak bias datang, ada pemilihan kuwu” suara ibunda pertiwi kembali mengingatkan dari ujung telepon sana, sesaat setelah aku selesai mandi.

Dengan pakaian yang kurasa cukup sopan untuk menghadiri sebuah resepsi pernikahan, aku melangkahkan kaki meninggalkan kamar kostan dengan enggan.

Dugaanku tepat. Jakarta siang itu menyambutku dengan suasana yang sama, macet dan panas. Yang kemudian malah menuntunku masuk ke sebuah Circle K yang berada tidak jauh dari situ.

Aku mengambil sebuah kopi kaleng dingin dan sebungkus Camel Light diantara jejeran rokok. Sengaja aku memilih rokok itu. Aku pernah membaca kalau Kurt Cobain sempat menghabiskan 3 batang Camel Light sebelum meledakkan kepalanya sendiri menggunakan senapan Remington*. Hanya sebatas ingin tahu sensasinya, karena aku tidak berniat bunuh diri siang itu.

Lagipula pada dasarnya aku menyukai semua jenis rokok, dari kretek hingga rokok putih atau “kolobot” sekalipun. Aku tidak mempunyai jenis atau merk rokok favorit, karena itu aku sering gonta-ganti rokok. Itu mungkin bisa menjelaskan apa yang tertulis di buku “Perempuan Bicara Kretek”, bahwa seorang lelaki bisa ditebak dari rokok yang dipilihnya dan caranya menghisap rokok. Hal itu sesuai dengan sifatku yang tidak mempunyai tipe cewek tertentu. Aku pernah berpacaran dengan siswi paling pintar di sekolah, atlet tim bola basket,anggota geng motor, sampai cewek berhijab. Aku tidak mempunyai tipe-tipe cewek tertentu.

Aku duduk di kursi yang membelakangi jalan raya yang sedang macet siang itu. Kopi dingin segera kuteguk dan kurasakan kesegarannya membasahi kerongkonganku. Aku tidak segera berangkat ke Bekasi dan memilih untuk bersantai sejenak. Sembari menikmati kopi pertamaku hari itu aku mengeluarkan buku “Potongan Cerita di Kartu Pos”, kumpulan cerpen karya Agus Noor, yang kemarin aku beli disebuah obral buku. Aku baru sampai pada cerpen “Potongan Cerita di Kartu Pos” dari beberapa judul cerpen yang termuat di buku itu.

Secara tidak sengaja pandanganku beradu dengan pandangan seorang gadis yang duduk beberapa meter di depanku. Dia duduk bersama seorang gadis lain dan seorang lelaki. Bentuk alis dan matanya mengingatkanku pada Nikita Mirzani, tentu saja dengan ukuran payudara yang lebih kecil. Mirip sekali. Apalagi dengan rambut panjangnya yang dia kuncir ke belakang. Tidak terlalu cantik memang, tapi enak dilihat.

Meskipun adu-pandangan mata itu terjadi secara tidak sengaja tapi aku bias memastikan kalau dia memang sengaja melihatku. Bukan, bukan karena aku terlalu kegeeran, tapi naluriku untuk hal-hal seperti ini sudah terlatih dengan baik. Aku bisa membedakan mana tatapan mata yang secara tidak sengaja melihat dan mana tatapan mata yang memang sengaja memperhatikan. Dan naluriku ini tidak pernah meleset.

Mata itu jendela hati. Aku setuju dengan pepatah itu. Bahkan temanku, Dherisa Fauziah, bisa menebak watak seseorang hanya dengan melihat tatapan matanya. Tingkat keakuratannya mungkin bisa mencapai 90% . Bukan isapan jempol belaka, aku pernah menyuruhnya menganalisa watak beberapa teman dekatku (termasuk aku sendiri) dan hasilnya tidak meleset terlalu jauh. Meskipun aku tidak mempunyai kemampuan khusus seperti yang dimiliki oleh Dherisa Fauziah, tapi aku bisa membedakan dengan jelas mana tatapan mata yang tidak sengaja memperhatikan dan mana yang sengaja memperhatikan. Seperti yang aku katakana sebelumnya.

Dan aku yakin tatapan mata si gadis yang mirip Nikita Mirzani itu memang sengaja memperhatikanku. Arti dari tatapan matanya itu hanya ada 2, yaitu “aku menyukaimu” atau “heeey ajak aku kenalan dong”

Sekali lagi, aku bukan merasa kegeeran. Tapi insting ini sudah aku latih berkali-kali dan hasilnya selalu tepat. Karena itu aku tidak pernah sekalipun ditolak oleh cewek, karena aku bisa mengetahui apakah dia menyukaiku atau tidak dari tatapan matanya. Contohnya, aku tahu kalau Ayu menyukaiku saat pertama kali tatapan mata kita bertemu. Hal itu terbukti ketika 3 hari kemudian kita jadian. Pun begitu kasusnya dengan Eno, salah satu pasien yang aku lihat di meja operasi. Aku bisa tahu dia menyukaiku dari tatapan matanya. Hal itu kembali dibuktikan ketika kita bertemu kembali lalu malam harinya sudah saling berciuman dengan panas di ruang perawatan.

Aku tahu si gadis mirip Nikita Mirzani itu menyukaiku. Atau paling tidak dia hanya sedang menungguku untuk menghampiri mejanya dan mengajak berkenalan.

Sebenarnya dengan sangat mudah aku bisa saja menghampirinya dan mengajaknya berkenalan. Tapi hal itu tidak aku lakukan. Selain karena aku terlanjur asyik membaca cerpen “Potongan Cerita di Kartu Pos” juga karena aku selalu suka bermain-main dengan takdir.

Maksudnya seperti ini, ada beberapa orang yang selama umur hidup kita di dunia hanya ditakdirkan untuk bertemu satu kali. Tapi terkadang takdir suka berkata lain. Bisa saja, secara tidak sengaja kadang kita akan dipertemukan kembali dengan orang itu di waktu dan tempat yang tidak kita duga. Eno, gadis yang sempat aku ceritakan diatas, adalah salah satu contohnya. Setelah bertemu dengannya di meja operasi tanpa sempat berkenalan atau meminta nomor handphonenya, aku segera melupakannya dan tidak berharap akan bertemu kembali. Tapi ternyata kita malah dipertemukan kembali ketika aku sedang memakai sepatu di beranda sebuah mesjid.

Aku senang sekali bermain-main dengan takdir seperti itu. Maka aku urungkan niat untuk menghampiri meja si gadis yang mirip Nikita Mirzani tersebut dan mengajaknya berkenalan. Aku lebih memilih untuk menikmati kopi dingin, cerpen karya Agus Noor dan beberapa batang rokok Camel Light. Sambil sesekali bergumam, “oooh begini toh mungkin rasanya menjadi Kurt Cobain sebelum bunuh diri”.

Sampai pada akhirnya si gadis yang mirip Nikita Mirzani tersebut memutuskan untuk pergi meninggalkan mejanya, sementara aku masih setia duduk di kursi yang sama. Aku memperhatikannya berjalan menuju tempat dimana sepeda motornya diparkir. Dan tepat sekali, dia sempat melirik ke arahku sebentar.

Aku kembali melanjutkan membaca cerpen “Potongan Cerita di Kartu Pos” dan tenggelam didalamnya. Cerpen yang bagus. Terbagi dalam beberapa potongancerita seperti sebuah puzzle, yang sampai selesai aku membaca ceritanya tetap tidak menunjukkan siapa pelaku pembunuhan terhadap Girindra yang sebenarnya. Apakah Sutan, Rintan atau bahkan mungkin Frida?**. Agus Noor lebih memilih untuk menggantungkan akhir ceritanya disitu, tanpa memberi jawaban kepada para pembacanya.

Seperti itu pula mungkin aku menggantungkan akhir pertemuanku dengan gadis yang mirip Nikita Mirzani itu. Apakah suatu hari nanti aku akan kembali bertemu dengannya atau mungkin dia juga hanya akan menjadi salah satu bagian dari golongan orang-orang yang hanya aku temui sekali seumur hidup? Entahlah, karena kau pun segera beranjak meninggalkan tempat itu. Teringat pesan ibunda yang mengutusku untuk menghadiri resepsi pernikahan sepupu di Bekasi.

Kampung Melayu, 29 September 2013

Nikholai Crutski

Catatan :

*baca biografi Kurt Cobain, “Heavier Than Heaven” tulisan Charles R. Cross

** baca cerpen “Potongan Cerita di Kartu Pos” karya Agus Noor

Selasa, 22 Oktober 2013

Ini Bukanlah Pesta Ulang Tahunmu


oleh : Nikholai Crutski

Minggu yang panas di bulan April. Kemarau tampaknya masih akan berlangsung lebih lama lagi. Diluar cuaca panas menyengat, padahal matahari baru sepenggalah naik. Di kamar kosnya, Cadila tampak menimbang-nimbang sebuah durian yang tadi dibelinya. Kipas angin berputar berirama menyebarkan aroma durian ke seluruh kamar. Aromanya menyengat hidung. Cadila tidak pernah suka buah durian, meskipun konon katanya sebagian nikmat surga ada pada buah tersebut. Cadila meletakkan buah itu di atas meja dan kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur. Sesekali putaran kipas angin menerpa badannya. Dia mengingat kembali Minggu pagi yang baru saja dilewatinya.

Minggu pagi kali ini berbeda dengan Minggu-Minggu yang lainnya. Hari ini adalah ulang tahun Tini, cinta yang membuat dada Cadila terasa sesak. Meskipun selain Tini, Cadila juga mempunyai cinta yang lain. Namanya Ela. Bedanya, cinta Ela tidak sampai membuat dada Cadila terasa sesak. Cadila tahu hari ini ulang tahun Tini, hanya saja dia tidak bisa memberikan sebuah pesta ulang tahun yang romantis dan tak terlupakan untuk Tini. Tentu saja karena dia kesulitan mencuri-curi waktu luangnya dari Ela. Untungnya hari ini -dengan sedikit trik(baca bohong)- dia bisa lepas sejenak dari Ela. Diam-diam, dengan mengendarai sepeda motor Supra-X tahun 1997, dia berangkat dari rumahnya menuju tempat kosnya yang berada diluar kota.

Ditengah perjalanan, karena tahu dia tidak menyiapkan apapun untuk pesta ulang tahun Tini, secara tidak sengaja dia melihat penjual buah durian di pinggir jalan. Cadila tahu kalau Tini sangat menyukai durian. Maka dihentikanlah laju sepeda motornya di depan penjual durian tersebut. Dibelinya 1 buah durian yang dipilihkan langsung oleh penjualnya. Maka ceritanya pun berakhir seperti paragraf pertama tulisan ini.

***

Matahari sedang mengganas diatas jalanan siang itu. Cadila berusaha sekuat tenaga menahan panasnya. Menerobos jalanan dengan Supra-X kesayangannya. Tujuannya adalah rumah Tini. Dan tak ada yang bisa menahannya siang itu. Sesekali angin bertiup memberi kesejukan pada wajah Cadila, meskipun menurutnya masih kalah jauh sejuknya dari senyuman yang dibawa oleh Tini.

Cadila menghentikan laju motornya disebuah perempatan ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Diambilnya handphone dari saku celananya. Cadila mengetikan sesuatu,

"Tini, lampu merah" dan segera pesan itu melayang ke layar handphone Tini di seberang sana. "Lampu merah" sendiri adalah sebuah kode yang biasa digunakan Cadila jika hendak menjemput Tini. "Lampu merah" menandakan kalau posisi Cadila sudah mendekati koordinat rumah Tini. Itu artinya tidak lama lagi Cadila akan segera tiba.

Segera setelah lampu lalu lintas berwarna hijau Cadila membelokkan arah sepeda motornya ke kanan. Melaju beberapa ratus meter ke depan hingga dia tiba disamping sebuah gang sempit dan berhenti disana. Sekali lagi Cadila mengeluarkan handphone dari saku celananya.

"Tini, gang radiator" isi pesan Cadila kali ini. Sebenarnya gang sempit itu tidak mempunyai nama. Cadila menyebutnya gang radiator hanya karena disana terpampang sebuah papan bertuliskan "service radiator". Tapi kemudian gang radiator pun menjadi kode yang lain untuk mereka berdua.

Cadila tidak pernah tahu dimana letak rumah Tini. Meskipun dia tahu rumahnya pasti ada didalam gang sempit tersebut. Tapi Cadila tidak pernah mencari tahu, Tini melarangnya. Entah untuk alasan apa tapi Cadila tidak pernah memaksa. Baginya hal itu tidak terlalu penting.

Cadila sedang merapikan rambut keriwilnya yang tampak acak-acakan ketika secara tiba-tiba kesejukan menyergapnya. Kesejukan itu berasal dari seorang gadis berkerudung merah maroon yang berjalan dengan anggun beberapa meter dihadapannya. Itulah Tini, cinta yang membuat dada Cadila terasa sesak. Hingga untuk sementara Cadila lupa kalau di dunia ini ada wanita secantik Pevita Pearce dan sesexy Megan Fox. Bahkan Cadila juga lupa kalau dirinya pernah memilih Nabillah JKT48 sebagai oshi-nya.

Butuh beberapa detik untuk mengembalikan kesadarannya seperti semula, tepat ketika wajah bundar Tini berada di depan wajahnya. Lengkap dengan senyum khas Tini.

"Sudah lama nunggunya?"

"Gak ada kata lama saat nungguin kamu"

"Dasar buaya" tangan kecil Tini kemudian memukul bahu Cadila dan segera mendaratkan pantatnya di jok motor Supra-X keluaran tahun 1997 itu. Cadila hanya tertawa melihat adegan itu.

Dinyalakannya kembali mesin motor itu.

"Sekali-kali meluk kek kalo dibonceng tuh"

Kali ini Tini yang tergelak oleh tawa. Berdua mereka menembus panas cuaca siang itu yang semakin mengganas. Seperti cinta mereka. Hanya kali ini tangan mungil Tini melingkar di badan Cadila.

***

Kosan itu tampak lengang ditinggal pulang oleh penghuninya tiap akhir pekan. Hanya kamar Cadila yang terbuka hari itu. Ini kali pertama Tini masuk ke dalamnya. Cukup rapi. Mungkin Cadila sengaja membereskannya terlebih dahulu. Didalamnya hanya ada lemari (merangkap meja belajar) dengan beberapa buah buku berjejer rapi diatasnya, juga sebuah foto Cadila ketika memakai sorban (sekilas tidak mirip aa gym). Lalu ada sebuah kamar mandi sempit, juga sebuah kasur tanpa ranjang, dan sebuah pemutar dvd beserta stereonya. Juga beberapa tumpuk CD musik yang tergeletak begitu saja. Sementara kipas angin masih berputar berusaha mengusir panas dari dalam kamar.

Tini sedang asyik melihat-lihat kamar tersebut ketika dengan tiba-tiba Cadila berlutut di hadapannya, seperti posisi seorang pangeran yang hendak mempersunting seorang putri. Sebuah durian yang sudah terbelah berada di tangannya.

"Selamat ulang tahun, Tini. Ini memang bukan sebuah pesta ulang tahun. Tapi anggap saja durian ini adalah kue ulang tahunnya. Dan aku rela menjadi hadiah untuk ulang tahunmu"

"Ahahaha. Terima kasih, Pangeran. Tapi pestanya terlalu sepi"

Cadila segera mengambil gitar yang tergantung di dinding dekat lemari. Dengan skill setingkat Sir Dandy digenjrengnya gitar itu dengan penuh percaya diri dan mulai bernyanyi,

"Happy birthday to you.. Happy birthday to youu.. Happy birthday happy birthday happy birthday tooooooo youuuuuuuu.."

"Ohhhh stooop it!! Suaramau bagaikan koor massal sepasukan lalat”

"Ahh sialaaan. Jadi mana yang benar? Buaya atau lalat?"

"Keduanya salah. Kamu pangeran kodok"

"Ahaaa. Dan kamu si ranger biru"

"Hahahahaha" keduanya meledak dalam tawa.

"Oke. Sebagai the special one, aku kasih kamu potongan kue yang paling besar” kata Tini sambil menyodorkan 1 biji durian kepada Cadila.

"Ohhh pliiiis jangan duriaaaaan"

"Heyyy siapa bilang durian? Kamu sendiri yang bilang ini kue tart?? Ingat?"

"Ah liciiiik!"

Dengan terpaksa Cadila memakan durian itu. Tini tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan. Sementara Cadila berakhir dengan muntah-muntah di kamar mandi.

***

Rasa durian masih tersisa di lidah Cadila. Setelah puas tertawa-tawa keduanya berbaring diatas kasur, menatap langit-langit kamar itu dengan tatapan kosong. Hanya ada kesunyian yang merambat. Tidak ada yang tahu apa isi dari kepala masing-masing.

"Terima kasih pestanya" kata Tini dengan lirih. Cadila tidak menjawabnya. Dilihatnya wajah Tini yang berada disampingnya, tapi mata Tini masih menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Seperti ada sesuatu yang hendak diucapkan olehnya, namun urung diucapkan.

Cadila bangkit dari tidurnya, mengambil salah satu CD musik dari tumpukan CD yang berada disitu. Dan menyetelnya pada sebuah music player. Ada sunyi sejenak sebelum bunyi sebuah contra bass mengalun mengisi kamar itu.

"Lagu siapa?" Tanya Tini

"Payung Teduh" jawab Cadila sembari merebahkan diri kembali disamping Tini.

Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata

Ketika kita berdua

Hanya aku yang bisa bertanya

Mungkinkah kau tahu jawabnya

Suara itu seakan menggema didalam kamar. Tini tampak mendengarkannya dengan seksama. Sementara diluar matahari sudah mulai kelelahan dan berjalan ke peraduannya. Sinarnya kini berwarna jingga. Menelusup melalui celah jendela. Membuat bayangan kipas angin di kamar itu tampak semakin tinggi.

Malam jadi saksinya

Kita berdua diantara kata

Yang tak terucap

Berharap waktu membawa keberanian

Untuk datang membawa jawaban

Cadila kemudian mengenggam tangan mungil Tini. Mempermainkan jemarinya yang halus. Tini masih membisu.

"Apa doa yang kau pinta pada Tuhan di hari ulang tahunmu ini?"

"Sama seperti biasa. Kecuali satu. Spesial karena hari ini ulang tahunku"

"Apa itu?"

"Rahasia"

Ada sebuah senyum kecil tersimpul di sudut bibirnya. Cadila melihatnya jelas. Meskipun Tini berusaha menyembunyikannya.

Mungkinkah kita ada kesempatan

Ucapkan janji takkan berpisah selamanya

Waktu merambat dengan lambat. Kebisuan itu semakin mengendap di sela waktu ketika senja mulai berlabuh di kamar itu. Tini kemudian bangkit dari tidurnya. Merapikan bentuk kerudungnya yang mulai rusak. Dan duduk diatas kasur. Cadila pun menyusulnya bangkit dan duduk disampingnya. Senja sebentar lagi tiba di gerbang malam. Dari stereo Payung Teduh masih terus bernyanyi.

Aku ingin berjalan bersamamu

Dalam hujan dan malam gelap

Tapi aku tak bisa melihat matamu

Cadila mendekatkan wajahnya ke arah Tini. Mata mereka beradu untuk beberapa saat. Yang terdengar saat itu hanyalah Payung Teduh dan suara kipas angin, juga desah nafas keduanya. Sisanya hanyalah sebongkah bisu dan tanda tanya.

Tini menutup matanya. Yang terakhir dilihatnya adalah sinar matahari berwarna jingga sebelum kemudian gelap dan bibirnya mencecap substansi lain yang bukan bagian tubuhnya. Bibir Cadila. Dalam remang senja mereka berciuman. Cadila pun lupa apa yang dirasakannya. Bukan rasa durian, bukan rasa kue ulang tahun. Hanya sesak. Dadanya kembali terasa sesak. Ribuan kali lipat. Mungkinkah ini cinta? Mereka tidak pernah tahu.

Aku ingin berdua denganmu

Diantara daun gugur

Aku ingin berdua denganmu

Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Kampung Melayu, 02 September 2013

Sabtu, 21 September 2013

Lelaki Yang Dituduh Ganteng


Sebenarnya kisah ini bukanlah kisah yang saya tulis sendiri. Saya hanya menuliskannya kembali dari kisah aslinya yang saya dengar dari beberapa kawan saya. Saya pertama kali mendengar kisah ini dari Antonio Nurhega atau yang saya sering sapa dengan sebutan Pak Wapres. Pak Wapres menceritakan kisah ini pada suatu malam ketika dia menginap di tempat kos saya, ketika kita berdua kehabisan bahan cerita setelah berjam-jam bergulat dengan teori konspirasi yang dibawa Eiichiro Oda ke dalam komik One Piece. Pun ketika kawan saya yang lain yaitu Ohan Susandi mengiap di tempat kos saya, dia juga kembali menceritakan kisah ini. Dan orang terakhir yang menceritakan kisah ini dengan begitu dramatis dan penuh penghayatan adalah Bung Haris Julyansyah. Antonio Nurhega, Ohan dan Haris adalah teman-teman satu kelas, mereka bertiga adalah adik tingkat saya ketika kuliah. Bagi angkatan mereka, kisah tentang Lelaki Yang Dituduh Ganteng ini adalah sebuah urban legend yang akan terus menerus dikisahkan kepada generasi sesudah mereka. Secara singkat beginilah kisahnya (nama tempat dan tokoh sudah disamarkan) :

Cantik itu relatif. Artinya setiap orang mempunyai penilaian dan ukuran tersendiri tentang kata cantik versi mereka. Contoh, bagi sebagian orang mungkin Raisa itu cantik gak ketulungan tapi bagi sebagian lainnya Dian Sastrowardoyo masih yang paling cantik. Seperti halnya buah durian, ada sebagian orang yang menganggapnya sebagai buah surga saking nikmatnya, tapi bagi saya buah itu adalah buah neraka. Rasanya cukup sekali saya harus muntah-muntah akibat terpaksa memakannya. Kejadian itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Tapi tidak bisa saya ceritakan disini, karena kisah ini bukan kisah tentang buah durian. Ini adalah kisah tentang lelaki yang dituduh ganteng.

Hal itulah yang terjadi pada Tiwi (sebut saja begitu). Bagi teman-teman di kelasnya mungkin penampilan dan wajah Tiwi itu biasa-biasa saja. Tapi lain halnya dengan Eko dan Pipik, 2 orang mahasiswa yang berbeda kampus dengan Tiwi, jika pertanyaan itu dilemparkan kepada mereka berdua maka jawabannya bisa dipastikan Tiwi itu cantik keterlaluan. Tidak perlu didebat lagi. Ini masalah selera dan selera itu haram hukumnya untuk diperdebatkan. Benar kata pepatah, rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, mahasiswi kampus lain selalu lebih menarik daripada mahasiswi kampus sendiri. Singkat cerita katakanlah kalau Eko dan Pipik itu jatuh cinta kepada Tiwi.

Meskipun katanya everything is fair in love and war tapi Eko dan Pipik bersaing secara sehat dan positif. Tidak seperti kandidat para kepala daerah yang terkadang melakukan black campaign untuk menjegal lawan-lawan politiknya, Eko dan Pipik tidak saling menjegal dengan cara-cara yang busuk dan menjijikan. Mereka menjunjung tinggi sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Jomblo untuk mengejar cintanya masing-masing. Contohnya, jika Eko mengantar Tiwi berangkat kuliah maka Pipik yang akan menjemput dan mengantar Tiwi pulang. Begitupun jika Eko dan Tiwi jalan siang hari maka Pipik akan kebagian jatah jalan untuk malam harinya. Begitulah mereka bersaing untuk mendapatkan cinta Tiwi.

Tapi siapalah di dunia ini yang sanggup menebak kemana arah mata panah cinta akan tertancap. Tidak Eko, tidak Pipik, tidak pula dengan Tiwi. Misteri cinta biarlah tetap menjadi milikTuhan Yang Maha Pembolak-balik hati manusia, begitulah kata seorang kawan saya yang lain. Dan kemudian panah cinta itu melesat melewati hati Eko, melewati hati Pipik, melesat terus hingga kemudian menancap dengan tepat di hati Dodi. Ahhh, siapa pula Dodi? Tiba-tiba muncul ke dalam kisah ini? Dodi adalah adik kelas Eko dan Pipik. Dan kepada Dodilah kemudian Tiwi melabuhkan biduk cintanya. Bukan Eko, bukan pula Pipik. Sementara Dodi dan Tiwi berbahagia, Eko dan Pipik harus mendulang duka.

Tapi begitulah cinta, deritanya tiada akhir, kata Pat Kay temannya Sun Go Kong. Dan mungkin tanpa duka kisah cinta itu sendiri tidak akan pernah menjadi sesuatu yang luar biasa. Silahkan disimak kisah cinta yang melegenda dari mulai Layla-Majnun, Romeo-Juliet hingga Cleopatra-Julius Caesar, semuanya berkelindan erat dengan duka. Tanpa duka mungkin tidak akan pula hadir sajak Sayap-sayap Patah dari Khalil Gibran. Tanpa duka tidak mungkin Ahmad Dhani akan menulis lagu selirih Roman Picisan dimana Once bernyayi dengan syahdu, cintaku tak harus miliki dirimu meski perih mengiris-iris segala waktu. Tidak mungkin pula kita akan mendengar Someone Like You dari Adele yang lahir karena duka ditinggal kawin ataupun lagu Separuh Jiwaku Pergi dari Anang Hermansyah. Juga The One That Got Away-Katty Pery maupun Love Will Tear Us Apart milik band post-punk Joy Division. Dan daftar ini masih bisa saya perpanjang lagi. Maka terberkatilah mereka yang berduka karena cinta, karena mungkin cinta kalian akan melegenda. Mungkin, suatu saat nanti.

Sayangnya bukan duka yang menjadi inti dari kisah ini. Sekali lagi, kisah ini adalah kisah tentang lelaki yang dituduh ganteng. Segera setelah Eko dan Pipik menyadari bahwa Tiwi malah jadian dengan Dodi maka Eko dan Pipik pun membentuk sebuah aliansi. Aliansi Pipik dan Eko United atau disingkat APEU. Dari lawan menjadi sekutu. Atas kesamaan visi dan misi mereka, “jika Tiwi tidak menjadi milik salah satu dari mereka maka orang lain pun tidak boleh memilikinya”. Apalagi seorang junior. Di negeri yang masih erat memegang senioritas, tindakan junior mengangkangi senior adalah sebuah penghinaaan. Dosa besar, cih. Sebuah pengibaran bendera perang. Maka kali ini Eko dan Pipik bertekad bersatu padu untuk menghancurkan hubungan itu, setidaknya menghajar Dodi si junior kurang ajar. Everything is fair in love and war.

Disinilah kemudian permasalahan itu bermula. Ternyata Eko dan Pipik tidak pernah benar-benar mengetahui sosok Dodi yang sebenarnya. Ekstrimnya, Eko dan Pipik bahkan tidak tahu muka Dodi sama sekali. Sialnya, sosok yang mereka anggap Dodi adalah justru Bambang. Disinilah letak masalahnya. Bambang itu bertubuh tinggi, berkulit putih, dan ya tentu saja ganteng. Ini ibarat kita ingin menghajar Tukul Arwana tapi kemudian orang yang kita anggap Tukul itu adalah Joe Taslim. Nyali kita meper duluan, vroooh. Itu pula yang dirasakan oleh Eko dan Pipik, menyadari kalau Bambang (yang mereka anggap Dodi) lebih ganteng dari mereka berdua secara spontan nyali mereka pun menciut. Hingga akhirnya mereka memilih untuk menerima kenyatan ini walaupun dengan berat hati.

Mungkin, jika sampai saat ini Eko dan Pipik tidak menyadari kekeliruannya maka kisah ini sudah pasti akan berakhir disini. Tapi ternyata pada suatu hari mereka berdua akhirnya menyadari kekeliruan mereka. Mereka akhirnya sadar kalau orang yang selama ini mereka anggap sebagai Dodi adalah Bambang. Saya sendiri tidak mengetahui bagaimana mereka bisa mengetahui kekeliruan mereka. Ketika saya tanyakan hal ini kepada Anton dan Haris mereka berdua pun tidak mengetahuinya. Mungkin Eko dan Pipik mengetahui dengan sendirinya, atau mungkin ada seseorang yang memberitahu mereka sosok Dodi yang sebenarnya. Entahlah, saya tidak tahu. Hidup selalu menyisakan tanya yang tidak semua jawabnya dapat kita temukan dalam kehidupan ini.

Setelah mereka berdua mengetahui sosok Dodi yang sebenarnya. Dan menyadari bahwasannya Dodi tidak seganteng mereka maka emosi yang dulu sempat menciut pun kini membuncah kembali. Bisa-bisanya Tiwi jatuh cinta kepada seseorang yang menurut Eko dan Pipik level kegantengannya masih berada dibawah mereka. Dikangkangi junior yang level kegantengannya ada dibawah mereka (bahkan sempat dituduh ganteng juga oleh mereka) adalah sebuah penghinaan tingkat tingi. Tidak ikhlas ridho dunia akhirat. Penghinaan ini harus segera dibalas. Bendera perang kembali dikibarkan. Serupa Mahapatih Gajah Mada yang memimpin pasukan Majapahit mengepung utusan Kerajaan Pajajaran di Ladang Bubat. Harga diri harus dibela sampai mati.

Saya tidak tahu dengan cara apa dan bagaimana perang ini kemudian berlangsung. Dari penuturan Haris Julyansyah saya mendengar bahwa Eko dan Pipik berencana menghajar Dodi di WC kampus yang terkenal bau dan tak ada airnya itu. Tapi dari penuturan Anton, Eko dan Pipik kemudian mengurungkan niat mereka. Entah karena alasan apa. Apakah karena wajah Dodi terlalu melankolis sehingga mereka tidak tega menghajarnya? Atau mungkin karena mereka berdua kemudian menyadari kalau ganteng itu juga relatif. Meski di mata mereka Dodi itu kalah ganteng tapi buat Tiwi mungkin Dodi adalah lelaki terganteng, just the way he is. Atau mungkin juga mereka akhirnya menyadari kata-kata Agnes Monica bahwa cinta itu kadang-kadang tak ada logika?

Entahlah? Saya tidak tahu. Sekali lagi, karena terkadang hidup selalu menyisakan sebuah tanya yang jawabannya tidak selalu kita temukan dalam kehidupan ini.

Kampung Melayu, 08 Juli 2013
Ricky P. Rikardi

Rabu, 18 September 2013

Sepasang Kekasih Yang Bertengkar Di Tukang Pecel Lele


Sore itu selesai melaksanakan tugas saya tidak langsung pulang ke kosan karena jalanan Jakarta di jam-jam sibuk seperti itu akan terasa sangat menyebalkan. Benarlah apa yang dikatakan orang-orang kalau Jakarta itu membuat kita "tua di jalan". Saya putuskan untuk melangkahkan kaki ini menuju ke Sevel dan membeli minuman dingin biar terasa segar. Lalu saya hempaskan tubuh ini ke salah satu kursi yang ada disana. Sengaja saya minum sedikit-sedikit biar tidak cepat habis, soalnya saya sekalian memanfaatkan koneksi wifi disitu yang lumayan kenceng.

Sekitar 1 jam saya berada disana perut saya mulai lapar dan meminta diisi. Setelah melihat isi dompet, saya memutuskan untuk membeli pecel lele yang kebetulan berjualan tidak jauh dari sana. Hari sudah mulai gelap. Adzan Maghrib sudah berkumandang. Tapi lalu-lintas masih sangat ramai. Dengan hati riang saya berjalan menuju tukang pecel lele.

"Mas, pecel ayam 1 ya? Makan disini"

"Siap graak"

"Minumnya apa?" Kata si Mas-masnya bertanya lagi.

"Teh tawar anget yaah?"

Sebenarnya bukan tanpa alasan saya memilih teh tawar anget, karena saat itu kondisi keuangan saya sudah mulai menipis. (Terpaksa) saya mengutip kata-kata Vicky Prasetyo, labil ekonomi. Saya kemudian duduk di meja belakang. Saya perhatikan 3 meja sudah terisi. Masih ada 3 meja lagi yang masih kosong. Tepat di meja samping saya, terlihat sepasang kekasih sedang terlibat obrolan serius. Saya tidak menangkap apa yang mereka bicarakan. Tetapi dari raut muka si cewek tampaknya obrolan itu sangat-sangat serius. Mungkin ini berkaitan langsung dengan kelangsungan hubungan mereka. Apakah mungkin kisah cinta mereka tidak direstui? Atau mungkin si cowoknya selingkuh? Atau si ceweknya yang main hati dengan lelaki lain? Atau mungkin mereka sedang membicarakan rencana pernikahan mereka? Membicarakan biaya pernikahan? Kredit rumah? Motor? Panci? Dan lain-lain? Entahlah, terlalu banyak kemungkinan yang bisa diambil. Tapi yang jelas obrolan itu pasti serius, karena saya lihat ada bulir-bulir air mata yang mengembang di mata si cewek itu! Ahhh saya merasa melankolis sekali saat itu!

Tepat ketika saya sedang merasa menjadi lelaki paling melankolis se-tukang pecel lele pesanan saya datang. Berbarengan dengan pesanan sepasang kekasih di meja sebelah saya. Ternyata mereka memesan pecel lele dan es teh. Saya pesan pecel ayam dan teh anget tapi sialan saya malah dikasih es teh. Awalnya saya berniat protes tapi kemudian niat itu saya urungkan, karena saya tertarik dengan drama di meja sebelah saya. Sesekali saya melirik ke arah mereka sambil menyantap paha ayam yang masih panas sembari menggerutu, "anjiiir nih tukang pecel lele ngasih nasinya dikit banget".

Adegan pertama, dengan mata berkaca-kaca si cewek mengatakan sesuatu kepada cowoknya. Tapi tampaknya si cowok tidak bisa menerimanya. Mimiknya terlihat serius. Dia mulai marah-marah kepada ceweknya. Sambil tangannya ngucek-ngucek air cebokan. Oh rupanya dia hendak makan. Sedangkan si cewek terlihat tidak tertarik bahkan sebatas melirik makanannya.

Adegan selanjutnya si cowok tampaknya mendominasi pembicaraan. Saya lihat si cewek hanya terdiam, dengan beberapa kali menyela. Tapi si cowok terus-menerus berbicara. Tapi kali ini sambil sesekali menyuapi mulutnya sendiri dengan pecel lele. Saya tahu manusia itu dianugerahi berbagai macam bakat oleh Tuhan, tapi saya baru lihat bakat unik seperti ini, marah-marah sambil makan! Setiap kali dia selesai membentak, dia lalu menyuapi mulutnya dengan pecel lele, lalu minum es teh. Terus menerus seperti itu. Sementara di sisi lain si cewek hanya bisa terdiam, hidangannya bahkan tidak disentuh sama sekali. Saya kesal, bukan karena si cewek hanya diam saja tapi karena pecel lelenya tidak dimakan! Sementara pecel ayam saya sudah mau habis. Kenapa tidak dikasihin kepada saya saja itu pecel lelelnya??? Saya masih lapaaaaar!!!

Saya seketika berubah dari lelaki paling melankolis se-tukang pecel lele menjadi lelaki paling kelaparan se-tukang pecel lele. Tapi itu tidak berlangsung lama. Setelah dari tadi dibentak oleh si cowok akhirnya air mata yang berusaha sekuat tenaga dibendung oleh si cewek runtuh juga, si cewek itu nangis!! Oh demiii Neptunus!!! Saya merasa terharu sekali! Saya berubah kembali menjadi lelaki paling melankolis se-tukang pecel lele. Ingin sekali rasanya tangan ini menghampirinya dengan selembar tissue untuk menghapus air matanya itu, sekalian bilang "Neng kalo pecel lelenya gak dimakan mah buat abang aja?". Tapi ya tentu saja saya tak kuasa melakukannya. Karena itu adalah urusan internal rumah tangga mereka. Siapalah saya ini? Lelaki paling melankolis se-tukang pecel lele yang masih kelaparan karena dikasih nasinya dikit. Saya berusaha untuk tegar! Saya yang dulu bukanlah saya yang sekarang! (Halaah)

Ketika saya berusaha membangun ketegaran di hati tiba-tiba lewatlah kedua orang teman saya, yaitu Haris dan Benny. Saya ajak mereka untuk mampir dulu (sekalian saya ajakin nonton drama Sepasang Kekaksih Yang Bertengkar Di Tukang Pecel Lele). Akhirnya mereka pun ikut memesan makanan dan duduk di meja saya. Ketegaran saya bisa terbangun sedikit oleh kehadiran mereka.

Saya kembalikan lirikan saya ke arah meja sebelah dimana drama berlangsung. Rupa-rupanya keadaan sekarang sudah agak tenang. Tangisan si cewek sudah mulai berhenti. Dan si cowok juga sudah berhenti marah-marah. Mungkin karena pecel lele dan es tehnya juga sudah habis. Sementara pecel lele si cewek masih utuh (masih ngarep).

Sekonyong-konyong datanglah seorang pengamen dengan ukulelenya. Woowww pengamen itu bermain ukulele dengan tangan kirinya. Ternyata dia kidal. Mungkin seperti inilah dulu Jimi Hendrix sebelum ngetop. Pengamen itu mulai bernyanyi (ternyata bukan lagunya Jimi Hendrix melainkan lagunya Gomloh),

"Di radiooo aku dengar lagu kesayanganmu. Kutelepon ke rumahmu sedang apa sayangku? Laaaa laaa laaa laaa laaa laaaaa laaaaa"

Saya melirik ke arah Haris.

"Lay ada receh gak?"

"Wah gak ada Lay. Masih biru semua duitnya. Abis dari ATM sih"

"Wah xombong"

"Iya Lay. Maaf Lay"

Saya tidak kehabisan ide. Kebetulan saya punya rokok. Saya kasih saja sebungkus rokok mild kepada si pengamen. Si pengamen tampak ragu-ragu.

"Udah ambil aja" kata saya dengan muka berseri-seri.

Dia masih terlihat ragu. Tapi setelah saya yakinkan akhirnya bungkusan rokok itu diambil juga oleh si pengamen. Dia terlihat senang, mungkin dia berpikir dikasih rokok sebungkus padahal isinya cuma ada satu. Yeah, kena kau saya kerjain! Fufufufu

Sementara drama di meja sebelah rupanya sudah hampir selesai. Saya perhatikan kini tangan si cowok menggenggam tangan si cewek. Awwww so sweeeet syekaliiiih kakaaaaak. Momen indah tersebut diabadikan oleh sebuah lagu dangdut yang dibawakan oleh pengamen selanjutnya. Sayangnya pengamen kali ini lypsinc! Dia tidak bernyanyi dengan suaranya sendiri! Huftbgt! Tapi karena dia mengamen bersama anaknya yang masih kecil akhirnya saya terenyuh juga. Maka saya relakanlah uang seribu (buat ongkos) saya berpindah tangan kepadanya.

Lagu dangdut tadi sedikitnya bisa meredakan pertengkaran antara sepasang kekasih di meja sebelah saya. Karena setelah itu saya perhatikan mereka kembali berdamai. Si cewek sudah berhenti nangis (tapi masih belum makan pecel lelenya) dan si cowok sudah tidak marah-marah lagi. Entah kenapa saya juga ikut merasa senang. Kemudian dari jauh saya dengar pengamen lain bernyanyi lagu Biarlah dari Killing Me Imsyak (eh Inside) dan berjalan ke arah tukang pecel lele tempat saya makan. Karena uang receh sudah tidak ada saya memutuskan untuk pergi secepatnya dari tempat itu. Meninggalkan Benny dan Haris yang masih makan, juga meninggalkan sepasang kekasih yang bertengkar di tukang pecel lele.

Jalanan Jakarta masih macet, tapi kali ini tidak terasa menyebalkan. Mungkin saya merasa sedikit terhibur oleh drama yang tadi saya saksikan di tukang pecel lele. Terima kasih kalau begitu, untuk kalian heyyy sepasang kekasih yang bertengkar di tukang pecel lele !

Kampung Melayu, 17 September 2013
Oleh : Ricky Pradita Rikardi, Amk