Selasa, 04 Februari 2014

Heaven Is You

Seorang gadis tengah berjalan pulang menuju rumahnya dengan terhuyung. Langkahnya oleng, tapi ia tidak sedang mabuk. Sepanjang perjalanan gadis tersebut berdoa, agar ia tidak terjatuh di jalan dan bisa selamat sampai rumah. Gadis tadi mengetuk pintu rumahnya dengan kesadaran yang hampir menghilang. Nyeri yang amat sangat di kepalanya seperti menghisap seluruh tenaga dan kesadarannya. Tak kuat menahan sakit, sang gadis itu pun ambruk tepat ketika ibunya membukakan pintu untuknya.

Dengan panik, ibu dari gadis tersebut membawa anaknya menuju Unit Gawat Darurat rumah sakit terdekat. Sang ibu tidak peduli bahwa saat ini ia masih memakai seragam kerjanya, keselamatan anak lebih penting baginya.

Sang gadis pun sadar, tepat 15 menit setelah dilakukan CT-Scan kepala. Betapa terkejutnya gadis tersebut beserta ibunya ketika dokter menjelaskan hasil CT-Scan tadi. Tumor kepala, itulah yang dikatakan dokter. Menjelaskan penyebab mengapa sang gadis sering mengalami nyeri kepala yang hebat.

Kalian tentu tahu apa yang selanjutnya dilakukan sang gadis. Ya benar, ia menangis. Ia tak terima memiliki penyakit seperti itu. Kenapa Tuhan harus mengujinya dengan penyakit seperti itu? Apa salahnya? Bahkan ia selalu menuruti nasihat ibunya. Lantas apa yang salah?

Hari yang ditakutkan oleh sang gadis akhirnya datang juga. Hari ketika dokter memberitahukan bahwa ia harus di operasi. Sang gadis sudah memperkirakan ini sebelumnya.

Sang gadis tak tahu harus memutuskan apa. Di satu sisi ia ingin tumor itu diangkat agar ia tidak merasakan sakit lagi. Tapi di satu sisi ia takut akan efek yang ditimbulkan oleh pembedahan ini. Seperti yang sudah dokter beritahukan padanya, tumor di kepalanya terletak di bagian otak yang berfungsi menyimpan memori. Jika operasi gagal, bisa saja ia amnesia kan?

Malamnya si gadis terbangun karena haus. Tak sengaja matanya menangkap sosok ibunya yang tengah berdoa sambil menangis. Ia pun pura-pura memejamkan matanya kembali dan mendengarkan doa yang sedang dipanjatkan ibunya. Perlahan air mata mulai menetes dari matanya yang tertutup.

“Aku menolak dilakukan operasi”. Itulah keputusan final yang diambil sang gadis. Dokter yang merawatnya menggelengkan kepala tak percaya. Tumornya tergolong ganas dan ia malah menolak operasi. Sang gadis juga tak mau memberikan alasan mengapa ia menolak.

Sudah dua bulan berlalu. Sang gadis sudah tak mampu menahan sakit yang terus menerus timbul dari kepalanya. Obat penahan nyeri yang diberikan dokter seakan tak memiliki efek lagi. Ia semakin kurus karena terus menerus muntah. Ia juga merasa akhir-akhir ini penglihatannya makin buram.

Malam itu sang gadis tengah menulis di selembar kertas. Ketika ibunya bertanya, ia hanya tersenyum tak berniat untuk menjawab.

“Ibu, aku lelah dan ingin tidur”. Sang ibu pun menyelimuti tubuh kurus dan pucat putri sulungnya itu. Tak lupa kecupan kecil di kening, semoga putrinya bebas dari segala rasa sakit.

Hari sudah beranjak siang, tapi sang gadis tak kunjung bangun dari tidurnya. Ibunya pun membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh putrinya. Betapa terkejutnya si ibu mendapati tubuh anaknya telah dingin dan luar biasa pucat. Di tangan sang putri terdapat selembar kertas. Dengan perasaan takut, si ibu membaca isi kertas tersebut.


Ibu, jika kau membaca kertas ini berarti mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia.  
Bu, aku mendengar doa yang kau ucapkan setiap malam saat kau shalat tahajud. Kau meminta pada Allah agar penyakitku disembuhkan, bahkan kau meminta dirimu saja yang menderita sakit seperti ini. 

Terima kasih Bu tapi aku tak mau kau yang sakit, biar aku saja yang merasakannya. Banyak orang yang bergantung padamu Bu, termasuk juga aku. Maka dari itu, jangan buat mereka kecewa. 

Ibu, aku menyayangimu. Maafkan aku karena selama ini aku selalu menyusahkanmu. Aku terlahir dengan tubuh yang ringkih. Aku sering sekali sakit, dan aku tahu itu pasti membebani pikiranmu. Apa yang bisa kau harapkan dari anakmu yang penyakitan ini, Bu? Maafkan aku. 

Terima kasih sudah menjadi malaikat dalam kehidupanku, Bu. Terima kasih atas segalanya. Aku tak dapat membalasnya, tapi Allah pasti akan menempatkanmu di surgaNya. Aku yakin akan hal itu. Karena aku pun telah merasakan nikmatnya surga yang berasal dari kasih sayangmu. 

Bu, sudah ya aku lelah. Aku ingin tidur dulu. Bangunkan aku saat subuh bu, aku takut tak mendengar azan dan malah meninggalkan shalat.

Si ibu jatuh terduduk dengan air mata mengalir deras setelah membaca isi kertas tersebut. Ia terus memegangi tangan anaknya yang bahkan telah dingin dan mulai kaku. Ia tak mampu berkata-kata. Memanggil perawat yang berada di ruangan depan pun ia tak kuasa melakukannya.


“Ibu menyayangimu nak, Ibu tak pernah merasa terbebani meskipun kau sering sakit. 

Kau adalah permata dalam hidupku, harapanku. Aku tak ingin kehilanganmu. Tapi jika Allah memiliki kehendak, aku tak bisa menyangkalnya. Selamat jalan anakku. Ibu akan selalu mendoakanmu.”


--Nisa Xoxo--

0 komentar:

Posting Komentar