Seorang gadis tengah berjalan pulang menuju
rumahnya dengan terhuyung. Langkahnya oleng, tapi ia tidak sedang mabuk. Sepanjang
perjalanan gadis tersebut berdoa, agar ia tidak terjatuh di jalan dan bisa
selamat sampai rumah. Gadis tadi mengetuk pintu rumahnya dengan kesadaran yang
hampir menghilang. Nyeri yang amat sangat di kepalanya seperti menghisap
seluruh tenaga dan kesadarannya. Tak kuat menahan sakit, sang gadis itu pun
ambruk tepat ketika ibunya membukakan pintu untuknya.
Dengan panik, ibu dari gadis tersebut membawa
anaknya menuju Unit Gawat Darurat rumah sakit terdekat. Sang ibu tidak peduli
bahwa saat ini ia masih memakai seragam kerjanya, keselamatan anak lebih
penting baginya.
Sang gadis pun sadar, tepat 15 menit setelah
dilakukan CT-Scan kepala. Betapa terkejutnya gadis tersebut beserta ibunya
ketika dokter menjelaskan hasil CT-Scan tadi. Tumor kepala, itulah yang
dikatakan dokter. Menjelaskan penyebab mengapa sang gadis sering mengalami
nyeri kepala yang hebat.
Kalian tentu tahu apa yang selanjutnya
dilakukan sang gadis. Ya benar, ia menangis. Ia tak terima memiliki penyakit
seperti itu. Kenapa Tuhan harus mengujinya dengan penyakit seperti itu? Apa
salahnya? Bahkan ia selalu menuruti nasihat ibunya. Lantas apa yang salah?
Hari yang ditakutkan oleh sang gadis akhirnya
datang juga. Hari ketika dokter memberitahukan bahwa ia harus di operasi. Sang
gadis sudah memperkirakan ini sebelumnya.
Sang gadis tak tahu harus memutuskan apa. Di
satu sisi ia ingin tumor itu diangkat agar ia tidak merasakan sakit lagi. Tapi
di satu sisi ia takut akan efek yang ditimbulkan oleh pembedahan ini. Seperti
yang sudah dokter beritahukan padanya, tumor di kepalanya terletak di bagian
otak yang berfungsi menyimpan memori. Jika operasi gagal, bisa saja ia amnesia
kan?
Malamnya si gadis terbangun karena haus. Tak
sengaja matanya menangkap sosok ibunya yang tengah berdoa sambil menangis. Ia
pun pura-pura memejamkan matanya kembali dan mendengarkan doa yang sedang
dipanjatkan ibunya. Perlahan air mata mulai menetes dari matanya yang tertutup.
“Aku menolak dilakukan operasi”. Itulah
keputusan final yang diambil sang gadis. Dokter yang merawatnya menggelengkan
kepala tak percaya. Tumornya tergolong ganas dan ia malah menolak operasi. Sang
gadis juga tak mau memberikan alasan mengapa ia menolak.
Sudah dua bulan berlalu. Sang gadis sudah tak
mampu menahan sakit yang terus menerus timbul dari kepalanya. Obat penahan
nyeri yang diberikan dokter seakan tak memiliki efek lagi. Ia semakin kurus
karena terus menerus muntah. Ia juga merasa akhir-akhir ini penglihatannya
makin buram.
Malam itu sang gadis tengah menulis di selembar
kertas. Ketika ibunya bertanya, ia hanya tersenyum tak berniat untuk menjawab.
“Ibu, aku lelah dan ingin tidur”. Sang ibu pun
menyelimuti tubuh kurus dan pucat putri sulungnya itu. Tak lupa kecupan kecil
di kening, semoga putrinya bebas dari segala rasa sakit.
Hari sudah beranjak siang, tapi sang gadis tak
kunjung bangun dari tidurnya. Ibunya pun membuka selimut yang menutupi seluruh
tubuh putrinya. Betapa terkejutnya si ibu mendapati tubuh anaknya telah dingin
dan luar biasa pucat. Di tangan sang putri terdapat selembar kertas. Dengan
perasaan takut, si ibu membaca isi kertas tersebut.
Ibu, jika
kau membaca kertas ini berarti mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia.
Bu, aku mendengar doa yang kau ucapkan setiap malam saat kau shalat tahajud.
Kau meminta pada Allah agar penyakitku disembuhkan, bahkan kau meminta dirimu
saja yang menderita sakit seperti ini.
Terima kasih Bu tapi aku tak mau kau yang sakit, biar aku saja yang
merasakannya. Banyak orang yang bergantung padamu Bu, termasuk juga aku. Maka
dari itu, jangan buat mereka kecewa.
Ibu, aku menyayangimu. Maafkan aku karena selama ini aku selalu menyusahkanmu.
Aku terlahir dengan tubuh yang ringkih. Aku sering sekali sakit, dan aku tahu
itu pasti membebani pikiranmu. Apa yang bisa kau harapkan dari anakmu yang
penyakitan ini, Bu? Maafkan aku.
Terima kasih sudah menjadi malaikat dalam kehidupanku, Bu. Terima kasih atas segalanya. Aku tak dapat membalasnya, tapi Allah pasti akan menempatkanmu di surgaNya. Aku yakin akan hal itu. Karena aku pun telah merasakan nikmatnya surga yang berasal dari kasih sayangmu.
Bu, sudah ya aku lelah. Aku ingin tidur dulu. Bangunkan aku saat subuh bu, aku takut tak mendengar azan dan malah meninggalkan shalat.
Si ibu jatuh terduduk dengan air mata mengalir
deras setelah membaca isi kertas tersebut. Ia terus memegangi tangan anaknya
yang bahkan telah dingin dan mulai kaku. Ia tak mampu berkata-kata. Memanggil
perawat yang berada di ruangan depan pun ia tak kuasa melakukannya.
“Ibu menyayangimu nak, Ibu tak pernah merasa
terbebani meskipun kau sering sakit.
Kau adalah permata dalam hidupku, harapanku. Aku tak ingin kehilanganmu. Tapi
jika Allah memiliki kehendak, aku tak bisa menyangkalnya. Selamat jalan anakku.
Ibu akan selalu mendoakanmu.”
--Nisa Xoxo--






0 komentar:
Posting Komentar