Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Oktober 2014

Jempolmu Harimaumu



Kemarin malam di linimasa twitter dan facebook teman-teman sejawat saya ramai memperbincangkan status facebook seseorang yang dianggap menjelekkan profesi perawat. Saya kutipkan kembali status facebook dari akun yang bernama Ratna Wulan tersebut, “BIDAN itu asisten DOKTER. PERAWAT itu PEMBANTU bidan”. Status tersebut menuai banyak kecaman dari para perawat. Saya tidak tahu bagaimana nasib Sist Ratna Wulan di dunia maya selanjutnya (Antonio Nurhega yang sempat mencari akun tersebut mengatakan tidak menemukannya) tapi yang jelas kemungkinan sekarang dia menjadi lebih terkenal daripada saya. Sialan! Sepertinya saya harus bikin kontroversi seperti dia atau Jonru biar bisa terkenal. 

Saya akui, adalah hal yang wajar jika para perawat merasa tersinggung dengan status tersebut. Tapi daripada marah-marah dan buang energi alangkah lebih baiknya jika kita berpikiran positif saja. Ah, mungkin dia mulai lapar, mungkin hidupnya kurang ngewe, atau mungkin juga dia jomblo? Lagipula kemarin kan DPR baru saja mengesahkan RUU Keperawatan menjadi UU Keperawatan, artinya profesi perawat sudah benar-benar diakui. Jadi hal-hal semacam tadi janganlah terlalu dilebay-lebaykan. Saya sendiri sebenarnya lebih memilih bersikap woles dalam menghadapinya. Seperti tulisan di kaus yang sering Mas Mbeb pakai, “keep calm , i’m a nurse”.

Awalnya saya juga tidak berniat menulis tentang hal ini tapi karena kebetulan ada waktu luang sambil menunggu sop iga disajikan oleh Mang Didin jadi saya sempatkan saja menulis. Saya manut pada petuah dari  Bung Imam Taufik yang pernah mengatakan “jika ada ide tapi gak bisa dilaksanain seperti coli tapi gak keluar-keluar”.  Lebih baik unek-unek ini saya keluarkan saja. 

Saya pikir Sist Ratna Wulan tidak benar-benar mengenal profesi perawat seutuhnya. Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang bukan? Dan saya kira tidak hanya Sist Ratan Wulan seorang yang keliru menilai profesi perawat, kebanyakan masyarakat awam pun masih seperti itu.  Saya sering sekali dipanggil dokter oleh pasien atau keluarganya. Kebanyakan masyarakat awam memang menilai kalau perawat itu sama dengan dokter, yang lebih parah ya itu tadi menganggap perawat adalah pembantu dokter. Benarkah demikian? Jawabannya adalah tidak. Perawat itu tidak sama dengan dokter dan yang pasti perawat itu bukan pembantu dokter.

Saya jadi teringat kepada dosen saya sewaktu kuliah dulu. Namanya Eyet Hidayat. Dalam salah satu kuliahnya Pak Eyet pernah menyatakan bahwa suatu pekerjaan bisa dibilang sebagai suatu profesi apabila mempunyai landasan teori/keilmuannya sendiri. Artinya kita tidak bisa begitu saja menjadi seorang perawat, ada jenjang pendidikan yang harus dilewati terlebih dahulu. Sebagaimana halnya profesi lain sepeti dokter ataupun guru. 

Seperti dokter, perawat juga melakukan pengkajian terhadap pasien. Mengkaji aspek pasien meliputi bio-psiko-sosio-spiritualnya. Jika dengan data-data yang didapatnya tersebut dokter kemudian menentukan diagnosa medis maka perawat juga menentukan diagnosa keperawatan.  Setelah itu perawat akan merumuskan intervensi keperawatan apa yang akan dilakukan kepada pasien, lalu apa saja yang bisa diimplementasikan. Terakhir perawat melakukan evaluasi mengenai apa saja yang sudah diimplementasikan. Apakah tujuannya sudah tercapai atau belum? Apakah intervensi itu harus dilanjutkan atau harus diubah? Dan bla bla bla. Itulah yang disebut dengan Asuhan Keperawatan. Itulah tugas perawat. Jelas sekali berbeda dengan dokter. Selain itu, perawat juga masih mempunyai kewajiban untuk memberikan advokasi terhadap pasien, dan lain sebagainya. Itu semua yang menjadi landasan keilmuan perawat dan menjadikan perawat sebagai suatu profesi. Oleh karena itu sebagai suatu profesi maka kedudukan perawat itu sejajar dengan dokter, bukan diatas ataupun dibawah. Begitulah yang bisa saya tangkap dari kuliah yang disampaikan oleh Pak Eyet beberapa tahun silam.

Tetapi tentu saja dalam merumuskan intervensi keperawatan apa yang akan dilakukan kepada pasien, perawat juga  tidak bisa terlepas begitu saja dari tenaga kesehatan lain termasuk dokter. Sebagai contoh untuk membantu mengurangi nyeri pasien seorang perawat mungkin akan meminta dokter untuk memberikan obat-obatan analgetik karena memberikan obat adalah kewenangan dokter. Termasuk dalam tindakan medis lain seperti memasang infus atau pun memasang kateter. Hanya saja kewenangan itu kemudian didelegasikan kepada perawat. Makanya dalam dokumentasi keperawatan biasanya hal itu ditulis “berkolaborasi dengan dokter dalam bla bla bla”. Karena perawat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya, bukan disuruh-suruh. Mungkin masyarakat awam melihatnya perawat hanya disuruh-suruh saja melaksanakan apa yang dokter perintahkan. Padahal sejatinya tidak seperti itu. Perawat pun bahkan bisa memberi nasihat kepada dokter, misalnya infus pasien harus diganti karena sudah lebih dari seminggu atau hal-hal lainnya. Itu adalah salah satu bentuk advokasi kita kepada pasien. 

Dari penjelasan singkat diatas sudah jelas bahwa profesi perawat bukanlah pembantu dokter, apalagi pembantu bidan seperti yang Sist Ratna Wulan tulis di status facebooknya. Sebagai suatu profesi posisi perawat itu sejajar dengan dokter. Kita adalah mitra. Bukan atasan-bawahan. Semoga Sist Ratna Wulan bisa paham dengan tulisan iseng-iseng ini.

Ranah dunia maya, utamanya media sosial terkadang memang lebih kejam daripada ibu tiri. Semua orang bisa menjadi hakim bahkan nabi di dunia maya. Laiknya sebuah pengadilan yang menghakimi para terdakwa. Masih untung jika kita hanya di-bully oleh para netizens lain. Yang paling sial jika kita sampai dilaporkan kepada polisi seperti kasus Florence Sihombing. Maka berhati-hatilah, di ranah dunia maya jempolmu adalah harimaumu.

Ricky P. Rikardi

Senin, 07 Juli 2014

Surat Terbuka Untuk Admin @INDONESIANURSE


Selamat malam, Bung Imin.
Apa kabar? Semoga Bung Imin selalu dalam keadaan sehat dan bugar, terutama di bulan Ramadhan ini. Tidak enak juga rasanya jika Ramadhan ini dilalui dalam kondisi sakit.

Ngomong-ngomong lagi musim apa disana? Musim hujan atau musim kemarau? Cuaca sekarang cepat sekali berubah ya? Tidak jelas apakah sekarang musim kemarau atau musim hujan? Minggu kemarin saya berangkat kerja dengan kepanasan tapi ketika menulis surat ini diluar hujan turun dengan sangat deras. Tapi yang jelas sepertinya sekarang sedang musim menulis Surat Terbuka ya? Ada yang menulis Surat Terbuka buat Bapak Jokowi, ada juga yang menulis Surat Terbuka Buat Bapak Prabowo, dan bahkan Bapak Prabowonya sendiri juga menulis surat entah buat siapa saja (yang jelas emak saya termasuk salah satu diantaranya). Karena itu saya juga mau ikut-ikutan menulis surat terbuka yang ditujukan buat Bung Imin tercinta ini.

Bung Imin yang baik hati dan rajin ngetweet, beberapa hari yang lalu ketika saya sedang asik-asiknya memantau linimasa twitter sambil menunggu waktu makan sahur, saya menemukan tweet Bung Imin yang cukup menarik perhatian saya. Berikut saya kutipkan tweet dari Bung Imin tersebut,

"Selamat malam saya founder indonesianurse untuk beberapa hari ke depan akan memberikan dukungan resmi kepada salah satu capres"

Membaca tweet tersebut spontan membuat saya kaget. Menurut saya, tweet ini bahkan lebih mengagetkan dibandingkan dengan rumor kedekatan Ariel dengan Sophia Latjuba. Ada apa ini? Ada angin apa yang membikin akun @INDONESIANURSE tiba-tiba akan memberikan dukungan resmi kepada salah satu capres? Apakah ini dukungan secara pribadi? Atau bukan? Tapi melihat tweet tersebut, dimana didalamnya  tertulis kalimat "saya founder Indonesiannurse..", apakah berarti ini sebuah dukungan pribadi? Anehnya, kalau ini dukungan pribadi kenapa tidak menggunakan akun twitter pribadi saja? Jangan menggunakan akun @INDONESIANURSE?

Di tweet selanjutnya keadaan malah semakin rancu. Saya kutip tweet selanjutnya,

"Dukungan ini bukanlah pribadi melainkan dukungan setelah pertimbangan dan voting di fanpage PERAWAT di facebook #dukungcapres"

Lhaa gimana ini? Tadi di awal ngetweet "saya founder Indonesianurse untuk beberapa hari ke depan akan memberikan dukungan yang resmi kepada salah satu capres", tapi ditweet selanjutnya malah bilang "dukungan ini bukanlah pribadi..". Maksudnya apa toh, Bung Imin? Kok bisa kontradiktif seperti itu? Bung Imin tidak sedang mabuk susu Ultra rasa stroberi yang sudah kadaluarsa bukan?

Terkait dengan hal itu ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada Bung Imin.
Pertama, apakah dukungan resmi kepada salah satu capres itu merupakan dukungan secara pribadi atau bukan? Kalau secara pribadi, tidak masalah. Itu hak Bung Imin. Saya tidak akan mengganggu gugat. Masalahnya adalah kalau itu adalah bentuk dukungan pribadi mengapa tidak menggunakan akun twitter pribadi milik Bung Imin saja? Jangan menggunakan akun @INDONESIANURSE.

Kedua, kalaupun kemudian Bung Imin menyatakan itu bukan dukungan pribadi melainkan berdasarkan pertimbangan dan hasil voting di fanspage FB PERAWAT lalu Bung Imin mau mengatasnamakan siapa? Perawat? Perawat yang mana? Karena setahu saya organisasi profesi Keperawatan yang resmi di Indonesia cuma PPNI. Jadi suara perawat mana yang Bung Imin maksud? Perawat yang suka main twitter, gitu? Meskipun begitu saya pikir  Bung Imin tidak bisa seenaknya mengatasnamakan perawat untuk memberikan dukungan resmi kepada salah satu capres. Ini bukan ajang Indonesian Idol, Bung Imin. Meskipun itu hasil voting tapi itu tidak mencakup suara keseluruhan perawat di Indonesia. Bahkan saya yakin itu juga tidak mencakup keseluruhan suara perawat yang suka main twitter. Jadi, adalah sebuah omong kosong nan menggelikan jika hasil voting itu dijadikan alasan untuk dukungan resmi kepada salah satu capres. Apa kata dunia, Bung Imin?? Wajar jika kemudian ada sebagian followers Bung Imin yang protes dan menganggap Bung Imin tidak netral lagi. Karena semua ini memberikan kesan seolah-olah Bung Imin ingin mengakomodir pendapat pribadi tetapi melalui hasil voting di fanspage dan twitter @INDONESIANURSE.

Jika mau lebih fair saya kira Bung Imin cukup dengan menggelar sebuah voting saja, tanpa harus repot-repot untuk memberikan dukungan yang resmi kepada salah satu capres. Biarkan saja para perawat memilih pilihan mereka sendiri, Bung Imin tidak usah ikut-ikutan kampanye. Kalaupun Bung Imin mau ikutan kampanye dan secara resmi mendukung salah satu capres, silahkan pakai akun pribadi milik Bung Imin. Jangan menggunakan akun @INDONESIANURSE, karena akun itu jelas tidak mewakili siapapun, termasuk perawat.

Bung Imin yang budiman, kita semua tahu dalam politik semua hal bisa diperdagangkan. Agama, olahraga, termasuk profesi kita yaitu perawat. Memang kita juga berharap para pemimpin kita nanti bisa lebih memperhatikan profesi kita yang "almoust famous" ini. Tapi itu bukan berarti kita harus rela dan diam saja ketika profesi kita ini dijadikan barang dagangan politik, apalagi jika hanya diiming-imingi kenaikan gaji saja tanpa ada kejelasan mengenai perbaikan sistem dan aturan perundang-undangan ke depannya. Apakah Bung Imin rela profesi yang Bung Imin bangga-banggakan ini hanya dijadikan komoditas jualan politik saja? Silahkan dipikirkan. Saya kira Bung Imin lebih bijak mengenai hal ini daripada saya.

Bung Imin yang baik hati dan tidak sombong, kiranya hanya itu yang ingin saya sampaikan melalui surat ini. Saya merasa sangat tersanjung sekali apabila Bung Imin berkenan meluangkan waktu dan membacanya. Dengan segala kerendahan hati saya memohon maaf apabila ada perkataan dalam surat ini yang menyinggung perasaan Bung Imin. Sungguh pun tak ada maksud dari saya untuk berbuat seperti itu.

Akhir kata saya tutup ini dengan ucapan selamat malam dan sekucur doa untuk kesuksesan dan kebahagianaan Bung Imin. Selamat menunaikan ibadah puasa (jika Bung Imin menjalankannya). Salam, dan itu adalah salam sayang.


Ttd,
Follower setiamu

Ricky P. Rikardi, admin @StationNurse69

NB       : tidak usah repot-repot membalas surat ini.

NB lagi : maaf jika dalam surat ini tidak menyertakan lembaran rupiah seperti, ehm,  "surat-surat" yang lain.

Selasa, 25 Februari 2014

Apakah Aku Berada Di Mars? Atau Justru Aku Makhluk Mars?

Beberapa jam tadi, saya dikirimin gambar oleh teman saya lewat salah satu aplikasi chat. Saya pikir itu adalah gambar balasan dari foto Polwan telanjang yang saya kirim sebelumnya tadi malam. Ternyata tidak. Kecewa? Bisa jadi. Tapi gambar yang dikirim oleh teman saya jauh lebih menarik dari kasus foto bugil oknum aparat-yang-mungkin-tidak-pernah-mendengar-lagu-Kenakalan Remaja Di Era Informatika oleh Efek Rumah Kaca. ternyata teman saya mengirimkan foto surat cinta akan zine bikinannya. Mungkin intinya sih si pengirim pesan cinta tersebut merasa risih atau terganggu.

Saya senang teman saya membuat fanzine di lingkungan kerja nya yang membahas tentang kesehatan. Hanya, mengedarkan zine di suatu lingkungan kerja pasti ada pro kontra nya. Berbeda dari zine kebanyakan yang di edarkan ke suatu komunitas, sudah jelas siapa yang membacanya. Jika di lingkungan kerja seperti ini, pasti akan menimbulkan lebih banyak reaksi. Karena pada lingkungan kerja, masih banyak senior kita yang berpikiran era orde baru dan jelas konservatif, yang menganggap hal-hal baru di luar nalarnya itu salah.

Sebenarnya saya tidak menyalahkan orang-orang tersebut, cuma menyayangkan kalau generasi muda pun ikut terbentuk dalam pola pikir seperti itu. Dari saat sekolah kita di bentuk untuk jadi seorang pekerja, maka jangan salahkan jika kita mempunyai pola pikir seperti: belajar, lalu bekerja, lalu menikah, lalu punya anak dan akhirnya mempunyai pola hidup bangun pagi, berangkat kantor, pulang sore, tidur kembali (sisipkan "berkembang biak" di sela kata pulang sore dan tidur kembali per tiga minggu sekali agar tak terlalu monoton. Maka, sekali lagi, sangat disayangkan jika yang memberi surat cinta kepada zine itu justru dari orang yang jauh lebih muda dari sisa-sisa orde baru tersebut.

Memang segala sesuatu itu pasti ada resikonya. semoga saja zine tersebut tidak mengganggu jam dan kinerja pekerjaan yang mungkin membuat beberapa pihak geram. Semoga juga orang yang berfikiran konservatif sedikit lebih terbuka dan menganggap zine ini adalah suatu sarana baru yang harus di amati khususnya untuk bagian Promkes. Kita pasti akan menjadi tua, tapi setidaknya jangan menjadi tipikal orang tua yang membosankan. 

-Oleh Rezky Aditya-

Selasa, 17 September 2013

PERAWAT Why not?


PRAJURITJAGA MALAM (Chairil Anwar, 1948)

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ? Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini Aku suka pada mereka yang berani hidup Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu…… Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !



(Sepenggal puisi inilah yang saya temukan secara mendadak dan saya lantangkan ketika mengikuti kontes salah satu acara Hima di kampus saya yang sampe saat ini saya belum tau dan bingung apa yang harus saya lakukan setelah menjuarai kontes tersebut. Namun puisi inilah yang menjadi salah satu yang membulatkan tekad perawat dalam diri saya)

Ya.. Perawat..! Mantri..! Suster..! Bruder..! atau apalah itu masyarakat luas sering katakan, intinya Perawat adalah tenaga kesehatan yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan. Mari berfikir sejenak, MULIAKAH?? (opini atau pendapat tergantung kedalaman dan dangkalan anda berfikir) Ada beberapa perawat, bahkan banyak perawat mengeluh seperti: gaji perawat dikebiri, perawat masa depannya suram, perawat tidak jelas statusnya atau apalah itu. Siapa yang salah? KITA SENDIRI, kitalah yang merendahkan profesi kita sehingga orang lain menganggap rendah profesi kita. Kenapa harus malu jadi perawat? Kenapa harus menyesal jadi perawat? Kalau kita bisa berada di puncak sebagai Perawat.

Berada di puncak sebagai perawat, anda tidak harus seperti Florence Nightingale, bawa-bawa lentera buat ngecek infusan pasien. (Orang cirebon berkata “NightTangel cooy..!”). Tapi anda cukup punya tekad seperti Florance Nightingale, berikan yang terbaik dalam menjalankan profesi anda serta tunjukan kapasitas dan kapabilitas anda serta buktikan “lo punya kualitas”. Masalah orang yang menginspirasi anda, tak harus moyang perawat yang anda bisa jadikan inspirasi. Anda bisa menjadikan orang lain di luar profesi anda menjadi inspirasi anda. Sejenak kita bayangkan, bagaimana Bill Gates bisa menjadi pakar telamatika tersukses? Bagaimana Kurt Cobain menjadi rocker papan atas dunia? Bagaimana Pele menjadi legenda sepak bola tersukses? Merekalah orang-orang hebat yang percaya akan profesinya dan terus memberikan yang terbaik sehingga bisa berada di puncak.

Berbicara keluhan, keluhan biasanya diawali adanya ketidakpuasan dan penyesalan dari awal. Hampir sebagian besar perawat yang ditanya kenapa anda masuk perawat? Dan jawabannya beragam, Ada yang beralasan dipaksa orang tua, ga keterima SNMPTN, coba-coba, dan lain-lain. Mungkin hal-hal seperti demikian yang dapat menjadikan penyesalan dan ketidakpuasan diawal yang memunculkan keluhan-keluhan saat ini yang mengakar dan beranak cucu.

“Nasi telah menjadi bubur, anda tak akan bisa merubah bubur menjadi nasi kembali. Namun anda cukup memberikannya bumbu maka bubur itu akan berharga jual tinggi”.

Jangan berkecil hati! Anda kini adalah perawat! Profesi yang sangat mulia, melayani masyarakat, memberikan asuhan keperawatan 24 jam tanpa henti, profesi yang diterima di berbagai instansi, lowongan kerja perawat seabreg, formasi CPNS perawat paling banyak, perawat diterima dimanapun di kampung maupun di kota, pendidikan yang pasti hingga S-3 dan masih banyak lagi.

Dan alangkah tidak etisnya bila anda menjelek-jelekkan profesi anda sedangkan anda kini makan dari hasil keringat anda sebagai perawat, hal itu sama seperti “menelan ludah sendiri”. DNA anda kini adalah perawat, jadi anda mungkin bisa dibilang malin kundang jika anda tidak menghormati asal mula dan siapa anda.

Menjadi perawat bukan berarti sehari-hari anda harus terus bergulat dalam dunia keperawatan, namun anda bisa melakukan banyak hal diluar keperawatan yang dapat berdampingan dengan profesi anda sebagai perawat. Anda bisa melakukan sesuatu yang merupakan hobi atau cita-cita anda sebelum anda terjun di dunia keperawatan seperti menulis, berbisnis, nge-band dan lain-lain. Tidak sedikit perawat yang sukses juga di bidang lain di luar keperwatan tanpa harus meninggalkan identitas siapa dia.

Syukurilah menjadi seorang perawat, itu adalah karunia Tuhan yang sungguh besar yang dititipkan kepada anda. Tuhan menghendaki dan mempercayakan ilmu keperawatan kepada anda, Tuhan berfirman “Maka nikmat yang mana lagi yang engkau dustakan (AR-RAHMAN)”.

Namun, bila perjuangan anda belum membuahkan hasil, alangkah baiknya bila kita bersabar dan tidak berkecil hati karena karena sesungguhnya “Tuhan menilai kita bukanlah dari hasil tapi proses”.

Mohon maaf, bukannya saya mengajari ataupun menghujat teman-teman seperjuangan. Saya hanya ingin membahas keluhan-keluhan mengenai profesi perawat. Selain itu, saya ingin mengungkapkan bahwa jadi perawat itu tidak seburuk apa yang seperti teman-teman bayangkan karena Profesi inilah yang membuat saya melihat dunia, profesi inilah yang mengajarkan saya pahit manisnya dunia dan profesi inilah yang telah membesarkan nama saya serta menemani kehidupan saya. Kalau bukan kita sendiri yang membanggakan profesi kita, maka siapa lagi?
HIDUP PERAWAT!!!
Oleh : Derry Taufik Mutaqien (Razzak), Amk

Sabtu, 07 September 2013

Sperma Mengungkap Segalanya!!!

Warning: ini bukan cerita porno.
Ada sepasang pengantin baru, sebut saja sang suami Robert sedangkan sang istri Bunga. Mereka baru menikah beberapa bulan yang lalu, jadi masih dibilang pengantin baru yang menurut banyak orang masih “anget-angetnya”. Penulis gak begitu ngerti istilah “anget-angetnya” disini, maklum penulis masih jomblo. #kemudiannagisdipojokan.
Mereka berdua tinggal di kawasan padat penduduk Jakarta. Di rumahnya, mereka tidak tinggal berdua. Mereka tinggal bersama ayah Robert yang lumpuh akibat kecelakaan beberapa tahun yang lalu dimana kecelakaan tersebut juga merenggut nyawa istrinya. Otomatis kebutuhan ayah Robert harus dipenuhi oleh anak dan menantunya.
Tidak jauh dari rumah Robert,terdapat keluarga Pak Masrul yang memiliki anak bernama Gatot. Gatot inilah yang sering ngerawat ayah Robert bila Robert dengan istrinya sedang ada keperluan dan harus meninggalkan ayahnya sendiri di rumah. Gatot berparas tampan mirip salah satu personil One Direction namun dia memiliki kekurangan yaitu dia tuli dari lahir, oleh karena itu dia juga bisu. Dia sangat senang bila harus merawat ayah Robert karena dengan itu dia bisa mencuri perhatian Bunga. Ternyata Gatot menaruh hati atau mungkin nafsu birahi terhadap Bunga. Bukan hal yang aneh kalau Bunga banyak yang suka karena dia cantik, sexy, paha mulus, kulit putih dan licin, pantat aduhai, dada menantang berukuran...... (woy woy focus woy ini bukan CERPON). Maaf karena jomblo penulis jadi terlalu terbawa suasana.
Tidak hanya Gatot yang menaruh hati terhadap Bunga, ada juga James Cameroon, seorang pengacara alias pengangguran banyak acara. Salah satu kesibukannya adalah jadi tukang parkir atau malakin para supir angkot. Dia juga tetangga dari Robert, bahkan dia pernah ketahuan oleh Bunga pada saat mencuri celana dalam Bunga. Yang paling hebatnya lagi dia tahu jam kerja Robert, oleh karena itu dia tahu kapan Bunga sedang sendiri di rumah. Untung masih ada ayah Robert jadi dia gak berani menyatroni Bunga.
Singkat cerita saat itu jam 8 pagi dan seperti biasanya Robert harus berangkat kerja, padahal Robert masih kepengen bareng Bunga, maklum semalem habis "itu". Penulis disini cuman nulis “itu” tapi (pura-pura) gak ngerti apa artinya. Robert sih berharap bisa pulang cepet biar bisa “itu” lagi sama Bunga.
Ternyata doa Robert terkabul, jam 12 siang Robert sudah bisa pulang kerja jadi bisa “itu” lagi (cihuuy). Tapi sesampainya di rumah Robert dikagetkan dengan penemuan celana dalam Bunga yang berceceran lendir, yang dari komposisi dan baunya dia mengenali kalau itu adalah SPERMA!! Sontak Robert kalap dan menuduh Bunga berselingkuh. Awalnya Bunga tidak mengaku. Bunga beragumen kalau itu sperma Robert sendiri karena jam 4 pagi mereka baru melakukan “itu”. (kok sepertinya penulis sering banget nulis “itu”).
Robert masih dalam pendiriannya kalau Bunga berselingkuh, alasannya yaitu mana mungkin mereka melakukan “itu” jam 4 pagi tapi sperma Robert belum kering? Akhirnya dengan berurai air mata dan terpojok Bunga bercerita kalau dia habis diperkosa, dia berbohong agar tidak ditinggal oleh Robert. Robert marah besar dan kalut, udah kayak Hulk dimix sama Arya Wiguna deh.
Dari Bunga pula terucap kalau yang memperkosa dia adalah Gatot. Bocah mirip personil  One Direction yang tuli dan bisu. Perkataan Bunga diperkuat oleh ayah Robert bahwa tadi Gatot datang ke rumah membawa makanan dari ibunya, setelah itu ayah Robert tidak tahu kisah selanjutnya karena tertidur. (masa iya sih kalo dia ga denger kalau menantunya sedang diperkosa?)
Tidak perlu waktu lama rumah Robert sudah kayak pengadilan dimana disana sudah berkumpul warga yang ingin tahu jalannya interogasi. Dimana Gatot tertuduh sebagai tersangka, hakimnya adalah pak RT dan beberapa saksi. Tapi Gatot bersikukuh dengan bahasa isyarat yang diartikan oleh ibunya yang sedang menangis kalau dia tidak memperkosa Bunga, namun dari beberapa pernyataan saksi semua tuduhan mengarah kepada Gatot. Salah satu saksi adalah James Cameron si preman di RT tersebut, dia mengatakan kalau jam 9 pagi tadi dia melihat Gatot dateng kerumah bunga dengan membawa rantang. Karena menurut dia Gatot lama banget dirumah Bunga, dia mencoba mendatengi rumah Bunga sekitar pukul 10 karena penasaran gitu dan alangkah terkejutnya James Cameron ketika hendakmengetuk pintu, Gatot membuka pintu terlebih dulu dari dalam dengan memakai celana yang belum ditutup resletingnya. Setelah itu Gatot melengos pergi sambil berlari. Menurut pengakuan dari James Cameron dia langsung pergi dan tidak jadi masuk kerumah Bunga. Bukti semakin terbuka dan menyudutkan Gatot sebagai pelakunya. Apa benar Gatot pelakunya? Atau mungkin James Cameroon sendiri, tapi karena Bunga takut terhadapnya jadi Bunga tidak mengakuinya? Atau mungkin ayah Robert yang lumpuh? Atau mungkin itu sperma Robert sendiri? Jreng...jreng....
Apa yang dialami kasus diatas bisa terpapar dengan jelas bila dilakukan otopsi.
Langkah pertama seharusnya memastikan terlebih dahulu kalau bercak lendir di celana dalam Bunga adalah sperma. Pertama dari segi visual bercak air mani akan tampak sebagai bercak yang berwarna abu-abu atau agak kekuningan, sedang pada bahan yang berwarna gelap akan berwarna putih mengkilat. Dari segi bau, bercak mani basah memiliki bau yang khas.
Kedua bila diraba air mani yang sudah mengering seperti meraba bercak kanji. Ketiga penyinaran ultraviolet, jika disinari dengan sinar ultraviolet akan memberikan fluoresensi putih.
Keempat pewarnaan baechi, kita dapat menemukan adanya spermatozoa dalam bercak pakaian secara mikroskopis. Kelima untuk pelaku yang disinyalir oligospermia/sperma sedikit, aspermia/sperma tidak ada atau mungkin vasektomi bisa dilakukan pemeriksaan enzim asam fosfatase, dilihat dari kasus Bunga sepertinya pelaku tidak mengidap kelainan diatas.
Langkah berikutnya adalah pemeriksaan cairan vaginal, otomatis kita harus mengambil sample cairan vagina Bunga. Teknik pengambilan sperma dalam lendir vagina yaitu dengan cara mengambil lendir vagina dalam memakai pipet pasteur atau ose batang glas atau swab. Bahan diambil dari forniks posterior, bila mungkin dengan spekulum. Pada anak atau pada wanita dengan selaput dara utuh, sebaiknya dibatasi sampai vestibulum saja. Dengan pemeriksaan ini bisa diketahui ada atau tidaknya cairan sperma di vagina Bunga. Perlu diingat spermatozoa masih bisa ditemukan di lubang vagina sampai hari ke 6 setelah persetubuhan. Dan juga spermatozoa masih bisa melakukan pergerakan paling lama adalah 2-3 jam setelah persetubuhan, haid bisa memperpanjang pergerakan waktu sampai 3-4 jam.
Dengan pemeriksaan mikroskopis bisa terlihat pergerakan spermatozoa, simple pemeriksaannya kok, ambil sedikit cairan vagina Bunga dengan pipet lalu letakkan satu tetes pada kaca objek lalu tutup, periksakan dibawah mikroskop dengan pembesaran 500 kali dan hasilnya bisa diliat. Otomatis kalau ditemukan sperma di lubang vagina Bunga dan masih ada pergerakan spermatozoanya mungkin itu bukan sperma Robert. Jreng....... jreng.......
Pemeriksaan selanjutnya untuk mengetahui siapakah pemilik sperma itu adalah pemeriksaan golongan darah dari air mani tersebut, sebagaimana diketahui bahwa pada orang-orang sekretor sekitar 80% populasi, golongan darah dapat diketahui dari sperma.



Oleh : Arief Rahma Hidayat, AMK