Kamis, 02 Oktober 2014

Jempolmu Harimaumu



Kemarin malam di linimasa twitter dan facebook teman-teman sejawat saya ramai memperbincangkan status facebook seseorang yang dianggap menjelekkan profesi perawat. Saya kutipkan kembali status facebook dari akun yang bernama Ratna Wulan tersebut, “BIDAN itu asisten DOKTER. PERAWAT itu PEMBANTU bidan”. Status tersebut menuai banyak kecaman dari para perawat. Saya tidak tahu bagaimana nasib Sist Ratna Wulan di dunia maya selanjutnya (Antonio Nurhega yang sempat mencari akun tersebut mengatakan tidak menemukannya) tapi yang jelas kemungkinan sekarang dia menjadi lebih terkenal daripada saya. Sialan! Sepertinya saya harus bikin kontroversi seperti dia atau Jonru biar bisa terkenal. 

Saya akui, adalah hal yang wajar jika para perawat merasa tersinggung dengan status tersebut. Tapi daripada marah-marah dan buang energi alangkah lebih baiknya jika kita berpikiran positif saja. Ah, mungkin dia mulai lapar, mungkin hidupnya kurang ngewe, atau mungkin juga dia jomblo? Lagipula kemarin kan DPR baru saja mengesahkan RUU Keperawatan menjadi UU Keperawatan, artinya profesi perawat sudah benar-benar diakui. Jadi hal-hal semacam tadi janganlah terlalu dilebay-lebaykan. Saya sendiri sebenarnya lebih memilih bersikap woles dalam menghadapinya. Seperti tulisan di kaus yang sering Mas Mbeb pakai, “keep calm , i’m a nurse”.

Awalnya saya juga tidak berniat menulis tentang hal ini tapi karena kebetulan ada waktu luang sambil menunggu sop iga disajikan oleh Mang Didin jadi saya sempatkan saja menulis. Saya manut pada petuah dari  Bung Imam Taufik yang pernah mengatakan “jika ada ide tapi gak bisa dilaksanain seperti coli tapi gak keluar-keluar”.  Lebih baik unek-unek ini saya keluarkan saja. 

Saya pikir Sist Ratna Wulan tidak benar-benar mengenal profesi perawat seutuhnya. Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang bukan? Dan saya kira tidak hanya Sist Ratan Wulan seorang yang keliru menilai profesi perawat, kebanyakan masyarakat awam pun masih seperti itu.  Saya sering sekali dipanggil dokter oleh pasien atau keluarganya. Kebanyakan masyarakat awam memang menilai kalau perawat itu sama dengan dokter, yang lebih parah ya itu tadi menganggap perawat adalah pembantu dokter. Benarkah demikian? Jawabannya adalah tidak. Perawat itu tidak sama dengan dokter dan yang pasti perawat itu bukan pembantu dokter.

Saya jadi teringat kepada dosen saya sewaktu kuliah dulu. Namanya Eyet Hidayat. Dalam salah satu kuliahnya Pak Eyet pernah menyatakan bahwa suatu pekerjaan bisa dibilang sebagai suatu profesi apabila mempunyai landasan teori/keilmuannya sendiri. Artinya kita tidak bisa begitu saja menjadi seorang perawat, ada jenjang pendidikan yang harus dilewati terlebih dahulu. Sebagaimana halnya profesi lain sepeti dokter ataupun guru. 

Seperti dokter, perawat juga melakukan pengkajian terhadap pasien. Mengkaji aspek pasien meliputi bio-psiko-sosio-spiritualnya. Jika dengan data-data yang didapatnya tersebut dokter kemudian menentukan diagnosa medis maka perawat juga menentukan diagnosa keperawatan.  Setelah itu perawat akan merumuskan intervensi keperawatan apa yang akan dilakukan kepada pasien, lalu apa saja yang bisa diimplementasikan. Terakhir perawat melakukan evaluasi mengenai apa saja yang sudah diimplementasikan. Apakah tujuannya sudah tercapai atau belum? Apakah intervensi itu harus dilanjutkan atau harus diubah? Dan bla bla bla. Itulah yang disebut dengan Asuhan Keperawatan. Itulah tugas perawat. Jelas sekali berbeda dengan dokter. Selain itu, perawat juga masih mempunyai kewajiban untuk memberikan advokasi terhadap pasien, dan lain sebagainya. Itu semua yang menjadi landasan keilmuan perawat dan menjadikan perawat sebagai suatu profesi. Oleh karena itu sebagai suatu profesi maka kedudukan perawat itu sejajar dengan dokter, bukan diatas ataupun dibawah. Begitulah yang bisa saya tangkap dari kuliah yang disampaikan oleh Pak Eyet beberapa tahun silam.

Tetapi tentu saja dalam merumuskan intervensi keperawatan apa yang akan dilakukan kepada pasien, perawat juga  tidak bisa terlepas begitu saja dari tenaga kesehatan lain termasuk dokter. Sebagai contoh untuk membantu mengurangi nyeri pasien seorang perawat mungkin akan meminta dokter untuk memberikan obat-obatan analgetik karena memberikan obat adalah kewenangan dokter. Termasuk dalam tindakan medis lain seperti memasang infus atau pun memasang kateter. Hanya saja kewenangan itu kemudian didelegasikan kepada perawat. Makanya dalam dokumentasi keperawatan biasanya hal itu ditulis “berkolaborasi dengan dokter dalam bla bla bla”. Karena perawat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya, bukan disuruh-suruh. Mungkin masyarakat awam melihatnya perawat hanya disuruh-suruh saja melaksanakan apa yang dokter perintahkan. Padahal sejatinya tidak seperti itu. Perawat pun bahkan bisa memberi nasihat kepada dokter, misalnya infus pasien harus diganti karena sudah lebih dari seminggu atau hal-hal lainnya. Itu adalah salah satu bentuk advokasi kita kepada pasien. 

Dari penjelasan singkat diatas sudah jelas bahwa profesi perawat bukanlah pembantu dokter, apalagi pembantu bidan seperti yang Sist Ratna Wulan tulis di status facebooknya. Sebagai suatu profesi posisi perawat itu sejajar dengan dokter. Kita adalah mitra. Bukan atasan-bawahan. Semoga Sist Ratna Wulan bisa paham dengan tulisan iseng-iseng ini.

Ranah dunia maya, utamanya media sosial terkadang memang lebih kejam daripada ibu tiri. Semua orang bisa menjadi hakim bahkan nabi di dunia maya. Laiknya sebuah pengadilan yang menghakimi para terdakwa. Masih untung jika kita hanya di-bully oleh para netizens lain. Yang paling sial jika kita sampai dilaporkan kepada polisi seperti kasus Florence Sihombing. Maka berhati-hatilah, di ranah dunia maya jempolmu adalah harimaumu.

Ricky P. Rikardi

0 komentar:

Posting Komentar