Kemarin malam di linimasa twitter dan facebook teman-teman
sejawat saya ramai memperbincangkan status facebook seseorang yang dianggap
menjelekkan profesi perawat. Saya kutipkan kembali status facebook dari akun
yang bernama Ratna Wulan tersebut, “BIDAN
itu asisten DOKTER. PERAWAT itu PEMBANTU bidan”. Status tersebut menuai
banyak kecaman dari para perawat. Saya tidak tahu bagaimana nasib Sist Ratna Wulan di dunia maya
selanjutnya (Antonio Nurhega yang sempat mencari akun tersebut mengatakan tidak
menemukannya) tapi yang jelas kemungkinan sekarang dia menjadi lebih terkenal
daripada saya. Sialan! Sepertinya saya harus bikin kontroversi seperti dia atau
Jonru biar bisa terkenal.
Saya akui, adalah hal yang wajar jika para perawat merasa
tersinggung dengan status tersebut. Tapi daripada marah-marah dan buang energi
alangkah lebih baiknya jika kita berpikiran positif saja. Ah, mungkin dia mulai lapar, mungkin hidupnya kurang ngewe, atau mungkin
juga dia jomblo? Lagipula kemarin kan
DPR baru saja mengesahkan RUU Keperawatan menjadi UU Keperawatan, artinya
profesi perawat sudah benar-benar diakui. Jadi hal-hal semacam tadi janganlah
terlalu dilebay-lebaykan. Saya
sendiri sebenarnya lebih memilih bersikap woles
dalam menghadapinya. Seperti tulisan di kaus yang sering Mas Mbeb pakai, “keep calm , i’m a nurse”.
Awalnya saya juga tidak berniat menulis tentang hal ini tapi
karena kebetulan ada waktu luang sambil menunggu sop iga disajikan oleh Mang
Didin jadi saya sempatkan saja menulis. Saya manut pada petuah dari Bung Imam Taufik yang pernah mengatakan “jika ada ide tapi gak bisa dilaksanain
seperti coli tapi gak keluar-keluar”. Lebih baik unek-unek ini saya keluarkan saja.
Saya pikir Sist
Ratna Wulan tidak benar-benar mengenal profesi perawat seutuhnya. Kata pepatah,
tak kenal maka tak sayang bukan? Dan saya kira tidak hanya Sist Ratan Wulan seorang yang keliru menilai profesi perawat,
kebanyakan masyarakat awam pun masih seperti itu. Saya sering sekali dipanggil dokter oleh
pasien atau keluarganya. Kebanyakan masyarakat awam memang menilai kalau
perawat itu sama dengan dokter, yang lebih parah ya itu tadi menganggap perawat adalah pembantu dokter. Benarkah demikian?
Jawabannya adalah tidak. Perawat itu tidak sama dengan dokter dan yang pasti
perawat itu bukan pembantu dokter.
Saya jadi teringat kepada dosen saya sewaktu kuliah dulu.
Namanya Eyet Hidayat. Dalam salah satu kuliahnya Pak Eyet pernah menyatakan
bahwa suatu pekerjaan bisa dibilang sebagai suatu profesi apabila mempunyai
landasan teori/keilmuannya sendiri. Artinya kita tidak bisa begitu saja menjadi
seorang perawat, ada jenjang pendidikan yang harus dilewati terlebih dahulu. Sebagaimana
halnya profesi lain sepeti dokter ataupun guru.
Seperti dokter, perawat juga melakukan pengkajian terhadap
pasien. Mengkaji aspek pasien meliputi bio-psiko-sosio-spiritualnya. Jika dengan
data-data yang didapatnya tersebut dokter kemudian menentukan diagnosa medis
maka perawat juga menentukan diagnosa keperawatan. Setelah itu perawat akan merumuskan intervensi
keperawatan apa yang akan dilakukan kepada pasien, lalu apa saja yang bisa
diimplementasikan. Terakhir perawat melakukan evaluasi mengenai apa saja yang
sudah diimplementasikan. Apakah tujuannya sudah tercapai atau belum? Apakah intervensi
itu harus dilanjutkan atau harus diubah? Dan bla bla bla. Itulah yang disebut dengan Asuhan Keperawatan. Itulah tugas
perawat. Jelas sekali berbeda dengan dokter. Selain itu, perawat juga masih
mempunyai kewajiban untuk memberikan advokasi terhadap pasien, dan lain
sebagainya. Itu semua yang menjadi landasan keilmuan perawat dan menjadikan
perawat sebagai suatu profesi. Oleh karena itu sebagai suatu profesi maka
kedudukan perawat itu sejajar dengan dokter, bukan diatas ataupun dibawah. Begitulah
yang bisa saya tangkap dari kuliah yang disampaikan oleh Pak Eyet beberapa
tahun silam.
Tetapi tentu saja dalam merumuskan intervensi keperawatan
apa yang akan dilakukan kepada pasien, perawat juga tidak bisa terlepas begitu saja dari tenaga
kesehatan lain termasuk dokter. Sebagai contoh untuk membantu mengurangi nyeri
pasien seorang perawat mungkin akan meminta dokter untuk memberikan obat-obatan
analgetik karena memberikan obat adalah kewenangan dokter. Termasuk dalam
tindakan medis lain seperti memasang infus atau pun memasang kateter. Hanya saja
kewenangan itu kemudian didelegasikan kepada perawat. Makanya dalam dokumentasi
keperawatan biasanya hal itu ditulis “berkolaborasi
dengan dokter dalam bla bla bla”. Karena perawat berkolaborasi dengan
tenaga kesehatan lainnya, bukan disuruh-suruh. Mungkin masyarakat awam
melihatnya perawat hanya disuruh-suruh saja melaksanakan apa yang dokter
perintahkan. Padahal sejatinya tidak seperti itu. Perawat pun bahkan bisa
memberi nasihat kepada dokter, misalnya infus pasien harus diganti karena sudah
lebih dari seminggu atau hal-hal lainnya. Itu adalah salah satu bentuk advokasi
kita kepada pasien.
Dari penjelasan singkat diatas sudah jelas bahwa profesi
perawat bukanlah pembantu dokter, apalagi pembantu bidan seperti yang Sist Ratna Wulan tulis di status
facebooknya. Sebagai suatu profesi posisi perawat itu sejajar dengan dokter. Kita
adalah mitra. Bukan atasan-bawahan. Semoga Sist
Ratna Wulan bisa paham dengan tulisan iseng-iseng ini.
Ranah dunia maya, utamanya media sosial terkadang memang
lebih kejam daripada ibu tiri. Semua orang bisa menjadi hakim bahkan nabi di
dunia maya. Laiknya sebuah pengadilan yang menghakimi para terdakwa. Masih untung
jika kita hanya di-bully oleh para netizens lain. Yang paling sial jika
kita sampai dilaporkan kepada polisi seperti kasus Florence Sihombing. Maka berhati-hatilah,
di ranah dunia maya jempolmu adalah harimaumu.
Ricky P. Rikardi






0 komentar:
Posting Komentar