Jumat, 06 September 2013

Sebuah Karya dari Remaja yang Tidak Lulus TK: Gaji Perawat DKI 10 juta Perbulan, Benar atau Hoax?

Hari ini sabtu, 11 Mei 2013. Hari dimana sebagianorang menikmati liburan, hari dimana bisa saya manfaatkan untuk bangun siang.Berbeda dari yang saya harapkan, hari ini saya harus bangun pagi untuk mengikutiacara Internasional Nursing Day (IND) atau Hari Keperawatan Sedunia ke-65 yangdiselenggarakan di monas oleh PPNI DKI Jakarta. Awalnya saya keberatan karenahari ini juga saya harus jaga sore, tetapi setelah diiming-imingi sejumlah uangsaya tidak keberatan untuk bergabung.

Jarum jam yang pendek belum menunjukan angka 7, sayasudah ada di Monas. Sudah banyak orang berkumpul disana, diperkirakanpesertanya 4000 orang gabungan antara perawat dan mahasiswa perawat di Jakarta.Acaranya sendiri bertemakan Closing the Gap: Millenium Development Goals 8,7,6,5,4,3,2,1.Masing-masing poin tersebut mewakili membangun mitra global, mendukungkelestarian lingkungan, memberantas HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya,meningkatkan kesehatan ibu dan bayi, menurunkan angka kematian anak,mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, mencapai pendidikandasar yang universal, yang terakhir memberantas kemiskinan dan kelaparan.Adapun tema sentral kali ini adalah “UU Keperawatan Menjadikan Perawat MampuMengatasi Ketertinggalan Mencapai Target MDG’S” dan tema lokal yang diangkatadalah “Jakarta Baru, Perawat Maju”. Lumayan Panjang dan banyak juga temanya,daripada memikirkan tema tersebut saya lebih tertarik dengan foster yangmenyebutkan Wagub bertekad mensejahterkan perawat dengan menggaji 10 jutaperbulan. Angka yang sangat fantastis bila dibandingkan dengan penghasilan yangsaya terima saat ini. Bahkan ada foster yang lebih besar lagi, mungkin yangpaling besar, disana tertulis Wagub Bersama Kita. Tentu saja Wagub yang disebutadalah Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih akrab disapa ahok, Wagub Jakartasaat ini. Ternyata menarik juga acara IND ini, saya jadi semangat mengikutinya.

Acara kali ini adalah senam, sambutan, hiburan dandoorprize dan yang terakhir penutupan. Acara senam berlangsung meriah. Semuapeserta mengikuti gerakan dari instruktur dengan penuh semangat. Setelahbersuka cita mengikuti senam, tibalah saatnya untuk mendengarkan sambutan.Sambutan yang pertama dari ketua PPNI provinsi DKI Jakarta, Ns. Purwadi, M.Kep,Sp. Kom.. Beliau mengajak seluruh peserta mendukung UU keperawatan, beliaumengatakan bahwa Wagub bersama kita dan kita harus mendukung perjuangan Wagub.Tak lupa beliau juga mengatakan permintaan maaf dari Wagub karena tidak bisahadir. Berikutnya sambutan dari ibu Suhartati, S.Kep., M.Kes., selaku DirekturBina Upaya Pelayanan Keperawatan dan Keteknisan Medis. Isi sambutan beliaumenitikberatkan pada tema IND, beliau juga memberikan hadiah bagi yang hafaltema IND kali ini. Sambutan terakhir dan merupakan konflik dari cerita inidatang dari H. Pardi, SH, selaku anggota DPD RI yang mendukung segeradisahkannya RUU Keperawatan menjadi UU Keperawatan. Isi dari sambutan beliaukurang lebih seperti ini “kenapa Ahok tidak hadir? Karena dia takut samaperawat, yang dia maksud digaji sepuluh juta perbulan itu dokter bukan perawat.Dia tidak bisa membedakan dokter dan perawat. Dari awal dia sudah tidak amanah.Jangan pilih orang yang tidak amanah.” Kata beliau sambil berapi-api. Empat ribupeserta dibuat terdiam untuk beberapa saat. Tugu Monas menjadi saksi bisu darike-plinplan-an ini.

Bagaimana peserta tidak terdiam? Satu sisi kitaharus mendukung Ahok, sastu sisi lagi kita tidak boleh mendukung Ahok. Mungkinbila ada Dian Sastro saat ini, dia akan memecahkan gelas, biar ramai dan gaduhsegaduh-gaduhnya.

Saya merasa kecewa pada saat itu. Bukan karena gagaldigaji sepuluh juta perbulan, tapi yang membuat saya kecewa adalah terdapatnuansa politik dalam kegiatan IND kali ini. Saya merasa profesi perawat sudahjadi bahan politik untuk meraih suara di Negara yang demokrasi ini. Terlebihlagi di acara hari keperawatan sedunia, hari yang menurut saya sangat sakral.Semuanya kembali lagi ke RUU keperawatan yang belum ‘goal’ menjadi UU. Situasiini menjadi bahan para politikus untuk menarik simpati dengan wacanamendukukung segera disahkannya UU keperawatan. Kalau sudah begini bagaimana?Disaat dua orang politikus sama-sama mendukung profesi perawat, tapi merekamalah saling menjatuhkan. Sebenarnya hal ini sudah tidak asing di Negarademokrasi. Seperti kita lihat kalu ada pesta demokrasi, semua kandidat inginIndonesia maju, tapi antar kandidat saling menjatuhkan bahkan sampaibermusuhan. Bingung deh.

Lupakan soal politik. Kita kembali ke wacana awal.Sesuai dengan PERMENKES RI no 148 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan PraktekKeperawatan BAB III Penyelenggaran Praktek pasal 11 poin d disebutkan bahwaperawat mempunyai hak menerima imbalan jasa profesi. Bagaimana dengan perawatDKI yang gajinya akan naik jadi sepuluh juta perbulan? Itu semua baru wacana.Setelah saya mencari informasi di media elektronik, Ahok berencana menaikangaji perawat dan dokter puskesmas hingga 10 juta. Disana terdapat kata dokterdan perawat, berarti ahok bisa membedakan dokter dan perawat dong. Disini jugaakan timbul beberapa pertanyaan lagi. Bagaimana dengan gaji petugas kesehatanlainya? Di puskesmaskan tidak hanya ada dokter dan perawat. Disana terdapatbidan, apoteker, laboran dan lain-lain. Lalu bagaimana dengan gaji  perawat dan dokter yang bekerja di rumahsakit? Hmmm, kalau masalah itu dibahas disini, tulisan ini tidak ada habisnya.Sudah saatnya saya mengakhiri tulisan ini.

Untuk rekan-rekan sejawat, mari kita syukuri apayang kita dapat saat ini. Setinggi apapun imbalan yang diterima tidak akanpernah puas kalau tidak disyukuri. Itu sudah kodrat manusia. Saya jadi teringatnasehat teman saya Aditya Maulana. Dia pernah berkata, kita tampilkan yangterbaik dulu, nanti rejeki mengikuti. Cukup sekian tulisan kali ini, mari kitabekerja yang lebih baik untuk Indonesia yang lebih sehat.

Oleh : Antonio Nurhega, Amk

0 komentar:

Posting Komentar