Hari ini sabtu, 11 Mei 2013. Hari dimana sebagianorang menikmati
liburan, hari dimana bisa saya manfaatkan untuk bangun siang.Berbeda
dari yang saya harapkan, hari ini saya harus bangun pagi untuk
mengikutiacara Internasional Nursing Day (IND) atau Hari Keperawatan
Sedunia ke-65 yangdiselenggarakan di monas oleh PPNI DKI Jakarta.
Awalnya saya keberatan karenahari ini juga saya harus jaga sore, tetapi
setelah diiming-imingi sejumlah uangsaya tidak keberatan untuk
bergabung.
Jarum jam yang pendek belum menunjukan angka
7, sayasudah ada di Monas. Sudah banyak orang berkumpul disana,
diperkirakanpesertanya 4000 orang gabungan antara perawat dan mahasiswa
perawat di Jakarta.Acaranya sendiri bertemakan Closing the Gap:
Millenium Development Goals 8,7,6,5,4,3,2,1.Masing-masing poin tersebut
mewakili membangun mitra global, mendukungkelestarian lingkungan,
memberantas HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya,meningkatkan
kesehatan ibu dan bayi, menurunkan angka kematian anak,mempromosikan
kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, mencapai pendidikandasar
yang universal, yang terakhir memberantas kemiskinan dan
kelaparan.Adapun tema sentral kali ini adalah “UU Keperawatan Menjadikan
Perawat MampuMengatasi Ketertinggalan Mencapai Target MDG’S” dan tema
lokal yang diangkatadalah “Jakarta Baru, Perawat Maju”. Lumayan Panjang
dan banyak juga temanya,daripada memikirkan tema tersebut saya lebih
tertarik dengan foster yangmenyebutkan Wagub bertekad mensejahterkan
perawat dengan menggaji 10 jutaperbulan. Angka yang sangat fantastis
bila dibandingkan dengan penghasilan yangsaya terima saat ini. Bahkan
ada foster yang lebih besar lagi, mungkin yangpaling besar, disana
tertulis Wagub Bersama Kita. Tentu saja Wagub yang disebutadalah Basuki
Tjahaja Purnama atau yang lebih akrab disapa ahok, Wagub Jakartasaat
ini. Ternyata menarik juga acara IND ini, saya jadi semangat
mengikutinya.
Acara kali ini adalah senam, sambutan,
hiburan dandoorprize dan yang terakhir penutupan. Acara senam
berlangsung meriah. Semuapeserta mengikuti gerakan dari instruktur
dengan penuh semangat. Setelahbersuka cita mengikuti senam, tibalah
saatnya untuk mendengarkan sambutan.Sambutan yang pertama dari ketua
PPNI provinsi DKI Jakarta, Ns. Purwadi, M.Kep,Sp. Kom.. Beliau mengajak
seluruh peserta mendukung UU keperawatan, beliaumengatakan bahwa Wagub
bersama kita dan kita harus mendukung perjuangan Wagub.Tak lupa beliau
juga mengatakan permintaan maaf dari Wagub karena tidak bisahadir.
Berikutnya sambutan dari ibu Suhartati, S.Kep., M.Kes., selaku
DirekturBina Upaya Pelayanan Keperawatan dan Keteknisan Medis. Isi
sambutan beliaumenitikberatkan pada tema IND, beliau juga memberikan
hadiah bagi yang hafaltema IND kali ini. Sambutan terakhir dan merupakan
konflik dari cerita inidatang dari H. Pardi, SH, selaku anggota DPD RI
yang mendukung segeradisahkannya RUU Keperawatan menjadi UU Keperawatan.
Isi dari sambutan beliaukurang lebih seperti ini “kenapa Ahok tidak
hadir? Karena dia takut samaperawat, yang dia maksud digaji sepuluh juta
perbulan itu dokter bukan perawat.Dia tidak bisa membedakan dokter dan
perawat. Dari awal dia sudah tidak amanah.Jangan pilih orang yang tidak
amanah.” Kata beliau sambil berapi-api. Empat ribupeserta dibuat terdiam
untuk beberapa saat. Tugu Monas menjadi saksi bisu darike-plinplan-an
ini.
Bagaimana peserta tidak terdiam? Satu sisi
kitaharus mendukung Ahok, sastu sisi lagi kita tidak boleh mendukung
Ahok. Mungkinbila ada Dian Sastro saat ini, dia akan memecahkan gelas,
biar ramai dan gaduhsegaduh-gaduhnya.
Saya merasa
kecewa pada saat itu. Bukan karena gagaldigaji sepuluh juta perbulan,
tapi yang membuat saya kecewa adalah terdapatnuansa politik dalam
kegiatan IND kali ini. Saya merasa profesi perawat sudahjadi bahan
politik untuk meraih suara di Negara yang demokrasi ini. Terlebihlagi di
acara hari keperawatan sedunia, hari yang menurut saya sangat
sakral.Semuanya kembali lagi ke RUU keperawatan yang belum ‘goal’
menjadi UU. Situasiini menjadi bahan para politikus untuk menarik
simpati dengan wacanamendukukung segera disahkannya UU keperawatan.
Kalau sudah begini bagaimana?Disaat dua orang politikus sama-sama
mendukung profesi perawat, tapi merekamalah saling menjatuhkan.
Sebenarnya hal ini sudah tidak asing di Negarademokrasi. Seperti kita
lihat kalu ada pesta demokrasi, semua kandidat inginIndonesia maju, tapi
antar kandidat saling menjatuhkan bahkan sampaibermusuhan. Bingung deh.
Lupakan
soal politik. Kita kembali ke wacana awal.Sesuai dengan PERMENKES RI no
148 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan PraktekKeperawatan BAB III
Penyelenggaran Praktek pasal 11 poin d disebutkan bahwaperawat mempunyai
hak menerima imbalan jasa profesi. Bagaimana dengan perawatDKI yang
gajinya akan naik jadi sepuluh juta perbulan? Itu semua baru
wacana.Setelah saya mencari informasi di media elektronik, Ahok
berencana menaikangaji perawat dan dokter puskesmas hingga 10 juta.
Disana terdapat kata dokterdan perawat, berarti ahok bisa membedakan
dokter dan perawat dong. Disini jugaakan timbul beberapa pertanyaan
lagi. Bagaimana dengan gaji petugas kesehatanlainya? Di puskesmaskan
tidak hanya ada dokter dan perawat. Disana terdapatbidan, apoteker,
laboran dan lain-lain. Lalu bagaimana dengan gaji perawat dan dokter
yang bekerja di rumahsakit? Hmmm, kalau masalah itu dibahas disini,
tulisan ini tidak ada habisnya.Sudah saatnya saya mengakhiri tulisan
ini.
Untuk rekan-rekan sejawat, mari kita syukuri
apayang kita dapat saat ini. Setinggi apapun imbalan yang diterima tidak
akanpernah puas kalau tidak disyukuri. Itu sudah kodrat manusia. Saya
jadi teringatnasehat teman saya Aditya Maulana. Dia pernah berkata, kita
tampilkan yangterbaik dulu, nanti rejeki mengikuti. Cukup sekian
tulisan kali ini, mari kitabekerja yang lebih baik untuk Indonesia yang
lebih sehat.
Oleh : Antonio Nurhega, Amk
Jumat, 06 September 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar