Tampilkan postingan dengan label curhatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Februari 2015

Pemuda No. 38 Yang (Kadang) Terlupakan



I.
Nama lengkap bangunan itu adalah Politeknik Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya Program Studi Keperawatan Cirebon, tapi saya (juga hampir semua mahasiswanya) lebih senang menyebutnya Akper Depkes Cirebon. Selain terlalu panjang, rasanya ada sedikit sentimen tersendiri kenapa tidak mau disebut sebagai Poltekes Kemenkes Tasikmalaya.Mungkin seperti perseteruan antara Manchester United dan Manchester City. Bagi mereka kami adalah tetangga yang berisik, begitu pula sebaliknya, bagi kami mereka adalah tetangga yang berisik.

Bangunan itu terletak di Jl. Pemuda No. 38. Kau cukup berjalan beberapa puluh meter ke arah timur dari lampu merah Pemuda atau perempatan By Pass. Kau akan melewati sebuah mesjid yang diberi nama Mesjid Cimanuk. Dulu waktu saya masih kuliah tingkat 1, saya sering sholat Jum’at di mesjid itu. Tapi kemudian pindah ke mesjid lain karena khotbahnya kelamaan. Konon pula, di mesjid itulah Dendi sering memodusin korban-korbannya. Kampus kami terletak persis di samping mesjid itu.

Tapi sebelum melewati mesjid kau akan melewati sebuah warung rokok kecil di sekitaran situ. Boim, teman saya, dengan resmi menamakan warung itu dengan Warung Masgar. Alasannya karena penjaga warungnya adalah 2 orang Mas-Mas (1 cukup ganteng, 1nya lagi wajahnya mirip tokoh Mario Bross) yang berasal dari daerah Garawangi, Kuningan. Jadi disingkat Masgar. Di warung itu saya dan teman-teman biasa nongkrong untuk ngopi dan merokok.

Tentang Warung Masgar ini saya mempunyai sebuah cerita yang lucu. Waktu itu kami hendak berangkat untuk praktek di RSJ Marzoeki Mahdi di Bogor. Seperti biasa saya dan teman-teman nongkrong dulu di Warung Masgar sebelum bus yang kami tumpangi berangkat. Saya tidak ingat siapa saja yang ikut nongkrong disitu, mungkin ada saya, Cacing, Kempot, Boim, Mas Maung, Mbol. Tapi yang jelas tidak ada si Omesh, karena waktu itu Omesh belum datang. Dan karena nungguin Omesh datang pula maka bus yang kami tumpangi berangkat terlambat dari jadwal yang sudah ditentukan.

Setelah Omesh datang bus pun berangkat. Ngeeeeeeng. Meninggalkan kampus, lalu melewati Warung Masgar tempat tadi kami nongkrong sebelum berangkat. Tiba-tiba saya lihat si Masgar dadah dadah sambil melambaikan tangannya ke arah kami. Kami seisi bus pun bersorak dan membalas lambaian tangannya.

“Dadaaaaaah, Masgaaar”

“Bay bay, Masgar. We’ll miss you”

“Masgar, i love you” (eh, sepertinya tidak ada yang bilang i love you sih). Yang jelas kami semua merasa terharu karena tak menyangka Masgar mempunyai sisi yang romantis dan melankolis juga. Melepas keberangkatan kami ke Bogor dengan lambaian tangannya yang tidak berhenti sampai dia tidak terlihat dari jendela bus lagi.

Bus terus melaju melewati Kedawung lalu tiba di perempatan Plered yang selalu ramai karena ada pasar. Kalau belok kanan dari perempatan itu kau akan sampai di Trusmi. Tapi waktu itu bus yang kami tumpangi terus berjalan lurus, tidak belok kanan karena kami memang mau ke Bogor bukan ke Trusmi.

Tiba-tiba si Cacing teriak,

“eh, ini aing mana?” Kata dia sambil menggerak-gerakkan tangan dan pundaknya.

“Apaan, Cing?”

“Ini, ini aduuuuh apa tuh namanya?” katanya lagi sambil nunjuk-nunjuk pundaknya.

“Apaan sih, Cing? Pundak?” tanya Bang Mamat

“Bukan”

“Guling?” si Bayu ikutan nanya

“Bukan!”

“Bantal?” 

“Bukan, iiih!”

“Terus apaan dong? Topi? Sabun? Sepatu? Kondom? Cangcut? Rinso? Oskadon? Bu Dedoh? Bu Sriyatin?”  Semua hal kami sebutkan satu per satu tapi ternyata bukan itu jawabannya.

“Oh iya aing inget! TAS!!!” kata si Cacing ketika akhirnya dia ingat.

“Tas aing mana ya?” kata Cacing bertanya kepada kami semua. Saya dan teman-teman pun segera mencari tas Cacing dalam bus tapi tidak ketemu.

“Coba diinget-inget lagi Cing terakhir dimana?”

Cacing berpikir keras mengingat-ngingat kembali.

“Anjiiiing!”

“Kenapa, Cing?”

“Aing inget”

“Dimana?”

“di Masgar!!!”

Akhirnya kami semua sadar kalau ternyata Masgar memang bukan lelaki romantis yang mengiringi kepergian kami dengan lambaian tangan. Saat itu dia mungkin sedang mencoba memberi tahu kami, “wooooy ini tas siapa ketinggalan di warung??!”. Tapi sayang, tidak ada seorang pun dari kami yang menyadarinya. Pada akhirnya tas itu dititipkan kepada Pak Eyet yang menyusul berangkat ke Bogor esok harinya, karena pada saat Cacing inget keberadaan tasnya mobil bus yang kami tumpangi sudah sampai di Palimanan.

II.
Sebelum memasuki kampus kau akan ketemu dengan pos satpam di dekat pintu gerbang. Saya tidak pernah tahu siapa nama bapak-bapak satpam itu. Tapi suatu kali, kelas kami pernah sampai mau berantem dengan salah satu bapak satpam itu. Gara-garanya, teman-teman saya selalu iseng mindahin motor yang sudah di parkir ke atas teras. Paling jauh, mindahin motor si Mul ke belakang kampus. Suatu ketika ada kakak tingkat yang marah-marah, dia mengaku kalau motornya ada yang mindahin dan menuduh kelas kami sebagai pelakunya. Tentu saja tidak ada seorang pun diantara teman-teman saya yang mengaku, karena seiseng-isengnya kami motor yang selalu kami pindahin adalah motor teman-teman kami sendiri. Tidak pernah ada kasus kami mindahin motor selalin motor teman sekelas.  Karena tidak ada yang mengaku Bu Dedoh sampai harus turun tangan dan tentu saja dia bawa bapak satpam. Bapak satpam ngajakin berantem kalau belum ada yang mau mengaku. Akhirnya si Mbol berdiri, dia bilang,

“Kami akan bertanggung jawab untuk apa yang sudah kami lakukan. Tapi, berantem sampai mati pun kami tetap tidak akan bertanggung jawab untuk hal yang tidak pernah kami lakukan!”

Anjing! Gagah banget si Mbol waktu bilang gitu. Coba saya cewek sudah klepek-klepek pasti.
Setelah si Mbol bilang gitu, satu per satu teman cowok di kelas ikutan berdiri. Wah gawat, perang nih! Kata saya dalam hati. Untung saja Bu Dedoh bisa mencegahnya. Tapi setelah itu kami dilarang mindah-mindahin motor lagi meskipun itu motor punya teman sekelas.

Belakangan, setelah saya lulus saya jadi tahu kalau kasus itu hanya karangan dari kakak tingkat yang ingin cari gara-gara saja. Coward! 

III.
Kampus kami terdiri dari 3 gedung utama. 1 yang paling depan adalah gedung administrasi, juga merangkap ruang dosen, aula dan perpustakaan. 2 gedung dibelakangnya yang saling berhadap-hadapan adalah kampus keperawatan dan kebidanan. Katanya sih masih ada beberapa gedung lagi yang rencananya akan dibangun, tapi sampai saya lulus tidak pernah ada bangunan baru lagi.

Di samping gedung utama adalah tempat dimana para mahasiswa biasa memarkir motornya. Tempat biasa Bang Mamat akan datang dengan motor Mionya yang bersuara ngiiiiiiiiiiiing,yang bisa didengar dari radius 500 meter. Juga terdapat sebuah bangku dan pohon mangga yang daunnya rindang. Tempat yang cocok untuk beristirahat di kala terik siang. Jika kau berjalan terus ke depan maka kau juga akan menemukan deretan pohon kersem yang kadang jika buahnya sudah matang suka dipetik oleh para mahasiswa. Di deretan pohon kersem inilah sejarah lupa mencatat suatu peristiwa penting. Tapi disini saya akan mencatatnya agar kelak kau mengingatnya.  Di salah satu pohon kersem itulah, pada suatu siang yang terik, Mas Mbeb ditembak oleh seorang cewek dan akhirnya mereka jadian. Ini penting untuk dicatat karena selama ini yang kita tahu adalah MasMbeb selalu jomblo selama 3 tahun kuliah, padahal sebenarnya dia pernah punya pacar. Dan mereka meresmikan hari jadian mereka dibawah pohon kersem.  Aiiih, romantis sekali.

Kampus keperawatan dan kebidanana terdiri dari 2 lantai. Lantai 1 adalah ruang kuliah untuk mahasiswa tingkat 1. Tingkat 2 dan tingkat 3 ada di lantai 2. Setiap tingkat terdiri dari 2 kelas, A dan B. Saya di kelas A bareng dengan Yosie Rivanto, Cacing, Mas Maung, Ipunk, Mbol, Boim, Kmepot dan tentu saja Dendi Nugraha. Mas Mbeb ada di kelas B. Cewek yang nembak Mas Mbeb juga ada di kelas B.

Di tingkat 1 inilah saya pernah dimarahin oleh Pak Edi. Waktu itu kipas di kelas tidak nyala, sementara udara di Cirebon sangat panas jadi saya punya ide untuk membawa kipas angin ke kelas. Biar sejuk.  Sayangnya ketika kipas angin saya nyalakan seisi kelas menjadi ribut (sebenarnya Yosie Rivanto sih yang paling ribut) sementara saat itu Pak Edi sudah memulai materinya. Otomatis saya dimarahin. Tapi hanya saat itu saja saya dimarahin Pak Edi karena ternyata sebenarnya Pak Edi adalah dosen yang baik.

Di kelas itu pula Yosie Rianto pernah hampir berantem lawan Yoppy Dwi Hakiki. Kau tau apa masalahnya? Cuma pintu! Jadi, si Yosie kebelet boker mau keluar kelas sementara si Yoppy lagi sakit gigi pengan masuk kelas. Bruuuk. Tabrakan di pintu. Keduanya lagi sensi, si Yosie sensi karena eenya sudah di ujung tanduk, si Yoppy lebih sensi lagi karena sakit gigi. Ngotot-ngototanlah keduanya.

“Ira pengenne apo?!!”

“Gulet bae tah?!”

“Dadi!!”

Wah, udah mau perang lagi tuh. Tapi kali ini bukan Bu Dedoh yang berhasil mencegahnya, melainkan Mas Maung.  Ya, dialah Mas Maung yang waktu kuliah pacaran sama Tini tapi sering meliuk-liuk bareng Hempilah. 

Di kelas itu memang banyak cerita. Terutama soal asmara. Tapi kebanyakan yang menyedihkan. Di kelas itu saya dan Ipunk pernah suka sama Lilis tapi Lilisnya malah jadian sama Anas. Kempot dan Urank suka sama si Puput anak bidan tapi dua-duanya ditolak. Bayu suka sama Hani terus nembak di depan SMA 4 tapi ditolak karena ternyata Hani sudah jadian sama A Wowo. Omesh suka sama Fitri tapi Fitri malah jadian sama Kempot. Cacing pergi ke Karawang buat nembak Sefty Sunarya hasilnya ditolak. Boim nembak si Yayah anak Dharma Husada, ditolak juga. Kata si Yayah ke Boim, “biarkan perasaan itu mencair”. Entah apa maksudnya tapi yang jelas semuanya berakhir tragis. Mungkin kelas itu memang dikutuk.

Di samping kelas itu, di dekat tangga yang membawa kita ke lantai 2, dulu terdapat sebuah kulkas juga sebuah loker yang tidak terpakai lagi. A Wowo, sebagai ketua HIMA saat itu, mempunyai sebuah program bernama Kantin Kejujuran. Jadi di kulkas itu diisi oleh bermacam-macam minuman dingin. Siapa saja yang mau beli tinggal ambil saja dalam kulkas. Uangnya tinggal dimasukin ke dalam toples yang ada di atas kulkas. Program yang mulia sekali. Jika saja a Wowo mau maju sebagai calon presiden pasti beliau akan terpilih. Jokowi sama Prabowo mah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan a Wowo. 

Sayangnya, a Wowo lupa kalau dia tidak tinggal di Jepang tapi Indonesia. Jadi program mulia tersebut dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang dalam hal ini biasanya saya dan Yosie.

“Brooot, haus gak?” kata saya ke Yosie

“Haus, Broot”

“Yaudah ambil Fruit Tea”

“Oke”

 Kemudian Yosie akan mengambil sebotol Fruit Tea dan saya akan memasukan selembar uang seribuan, padahal harganya 3 ribu rupiah.

“Wah kurang tuh Broot duitnya. Ya wes isun tambahin” kata Yosie. Kemudian dia ikut nambahin, sebesar 500 perak.

Lama kelamaan program itu bangkrut juga. Karena selalu merugi akhirnya pintu kulkas selalu dikunci. Kita tidak bisa mengambil minuman seenaknya. Tapi karena selalu dikunci otomatis tidak ada yang membeli, jadilah program itu benar-benar bangkrut. Entah sejak kapan kulkas itu selalu terlihat kosong.
 Karena selalu terlihat kosong, terlintas sebuah ide untuk memindahkan kulkas itu ke dalam kelas. Saya tidak tahu siapa yang melontarkan ide brilian ini tapi yang jelas pada suatu hari, dengan dipimpin oleh Bayu Purnomo maka kulkas tersebut dipindahkan ke kelas kami. Diangkut dari lantai 1 ke lantai 2! Saat itu kami merasa sangat keren sekali. Bayangkan sebuah kelas mempunyai kulkas di dalamnya! Rasanya selama kampus kami berdiri baru hari itu ada sebuah kelas yang mempunyai kulkas.

Tapi kekerenan itu tidak berlangsung lama. Bu Ayu langsung marah-marah ketika melihat kulkas itu sudah nangkring di dalam kelas. 

“Kenapa kulkas ada disini? Balikin lagi ke tempatnyaaaa!!!” 

Jika sudah begitu tak seorang pun yang berani melanggar titahnya.  Bayu Purnomo, kembali memimpin pengangkutan kulkas itu kembali ke tempatnya semula.

IV.
Bu Ayu tidak selalu galak. Meskipun sering marahin saya karena rambut saya gondrong, atau marahin Wastika karena malah ngegambar wayang pas mata kuliah Bu Ayu, beliau kadang juga baik, malah sekali waktu pernah kena sial. Ceritanya waktu itu Bu Ayu mempunyai sebuah peraturan. Jika beliau sedang mengajar maka kita harus datang sebelum beliau datang. Jika kita datang setelah beliau ada di kelas maka hukumannya kita tidak boleh ikut jam kuliah tersebut. Sialnya waktu itu jam kuliah Bu Ayu adalah hari Senin jam 8 pagi. Ini adalah hal yang cukup membahayakan buat saya. Karena setiap akhir pekan saya harus mudik ke Kuningan, maka saya beresiko datang terlambat pada hari Seninnya. Saya tidak berharap itu terjadi tapi ternyata terjadi juga. Saya datang terlambat. Sudah lari-lari menuju kelas ternyata Bu Ayu sudah ada di dalam. Coba ketuk-ketuk pintu ternyata tetap tidak boleh masuk. Akhirnya selama jam pelajaran tersebut saya harus menunggu di luar dan suruh mengisi laporan keterlambatan. Kalau tidak salah, waktu itu sama Dea Julyansyah.

Minggu depannya saya berangkat lebih pagi karena tidak ingin kembali menunggu di luar. Sebelum jam 8 saya sudah berada di kelas. Tenang rasanya. Tapi sampai jam 8 Bu Ayu belum juga hadir di kelas. Anak-anak di kelas sudah mulai pada ribut. 

“udah kunci aja pintunya”

Entah siapa yang punya ide seperti itu, tapi kemudian Mbol tampil sebagai eksekutor. Dia mengambil tali yang biasa digunkan untuk mengikat gorden lalu memakai tali itu untuk mengunci pintu. Sreet sreet sreet. Pintu pun terkunci. Mbol kembali duduk di bangkunya.

Beberapa menit kemudian Bu Ayu terlihat berjalan hendak memasuki kelas. Tapi tidak ada seorang pun yang membuka  tali yang mengikat pintu. Terlihat Bu Ayu berusaha membuka pintu, didorong ditarik didorong lagi ditarik lagi tapi pintu tetap tidak terbuka. Ketika ada yang berusaha membuka tali itu tiba-tiba saja Bu Ayu balik badan dan meninggalkan kelas! Waduh, Bu Ayu marah nih gawaaaat! Mbol segera saja jadi sasaran kemarahan, terutama oleh Ghesti yag selalu marah-marah.

Untung Mbol bersikap gentle dan segera menyusul Bu Ayu untuk meminta maaf. Tapi ternyata Bu Ayu tidak marah, katanya beliau juga harus konsisten dengan apa yang sudah diucapkannya. Bener kan? Bu Ayu tidak selalu galak.

V.
Itulah kampus saya, Akper Depkes Cirebon. Meskipun di kalangan para mahasiswa Akper dan rumah sakit kampus kami bisa dibilang terkenal, lain halnya dengan masyarakat awam. Setidaknya, satu kali dalam hidupmu kau akan mengalami situasi semacam ini,

“Kuliah dimana, Dek?”

“Di Akper Depkes, Pak”

“Dimana itu?”

“Di jalan Pemuda”

“Oh, Unswagati ya?”

“Bukan, Pak. Akper Depkes”

“Oh iya, STAIN ya?”

“Bukan, Pak. Akper Depkes. Sekolahnya perawat!”

“Oh perawat. Ya, saya tahu. Muhammadiyah kan ya?”

“pppppfffffttttttttt”

Jika sudah begitu jalan satu-satunya adalah segera balik badan dan ucapkan “kuatkan Baim Ya Alloh”sebanyak 69 kali.

Diakui atau tidak kenyataannya memang seperti itu. Saya sendiri baru tahu kampus ini setelah diajak mendaftar oleh Endah (mantan pacar saya). Mas Maung pertama kali mendaftar di Stikes dan Muhammadiyah. Bang Mamat dan Gembul malah daftar di UPI. Yang sepertinya memang sudah berniat kuliah disini mungkin cuma Antonio Nurhega. Dan beliau sukses menduduki jabatan Wakil Presiden BEM. Fufufu.

Tapi buat saya itu bukanlah hal yang penting. Karena yang paling penting saya bisa lulus dan akhirnya dapet kerja. Juga, yang penting ketika mengenangnya saya selalu senang. Itu tandanya apa yang saya jalani selama 3 tahun kuliah adalah hal yang menyenangkan. Kalau tidak senang buat apa juga saya mengingat-ngingat dan capek-capek menuliskannya.

Dan ya, itulah kampus saya. Setiap sudutnya mempunyai cerita tersendiri bagi saya. Ada beranda di lantai 2 tempat saya biasa liatin anak-anak bidan di seberang, tapi tidak pernah terlihat jelas karena mata saya minus. Ada juga papan whiteboard di kelas yang sering digambarin jorok oleh teman-teman saya.  Biasanya digambarin gambar penis. Ada penis yang diwarnain hitam terus ditulis “Punya Bayu”. Atau gambar penis besar dan berotot “Punya Sumedi”. Atau gambar penis yang mungil, itu sudah jelas ditulis “Punya Yosie”. Dari papan whiteboard kemudian pindah ke tas, baju bahkan sepatu. Lengah sedikit saja, siap-siap ada gambar penis di tasmu. 

Dan ada pagi-pagi yang selalu saya ingat. Setiap kali berangkat ke kampus. Dengan mata yang masih mengantuk karena keseringan begadang.  Berjalan menaiki tangga. Masuk kelas, menyimpan tas, lalu keluar lagi dan nongkrong di beranda kelas. Menunggu dosen masuk. Biasanya saya minjem hp Bang Mamat atau si Mul buat dengerin musik. Itu sekitar jam 7 atau jam 8 pagi. Mataharinya masih segar. Dan warnanya bagus sekali. 

Ricky P. Rikardi

Kampung Melayu, 14 Februari 2015

Sabtu, 03 Januari 2015

Random Notes

Sebenarnya tulisan-tulisan dibawah ini bisa menjadi tulisan dengan judul sendiri dan bisa menjadi sebuah karangan yang panjang, namun saya bukan tipe orang yang getol dan gak suka yang panjang-panjang. Baru setengah nulis ajah, saya sudah bosan, mungkin bakat saya bukan menulis. Tapi saya suka berkhayal, khayalan bisa menjadi sebuah karya masterpiece bila bisa tervisualisasikan kepada sebuah tulisan dan mungkin bisa tervisualisasikan lebih lanjut menjadi sebuah film. Ide dalam kepala saya dalam menulis banyak sekali walaupun mungkin tidak menarik bagi anda baca,namun saya tidak peduli. Saya hanya menuangkan apa yang saya rasakan dalam suatu tulisan pendek (inget yah saya gak suka yang panjang-panjang). Saking banyaknya ide dalam otak saya, saya analogikan seperti sperma yang begitu banyaknya yang sedang bersaing memperebutkan sel ovum. Sel ovum disini adalah saya. Dan sperma sendiri adalah ide dalam otak saya. Akhirnya dari beberapa hal seperti saya tidak suka yang panjang-panjang dan begitu banyak ide yang saya ingin tumpahkan, maka saya tuliskan beberapa tulisan dibawah ini. Sebagai penyaluran hasrat terpendam sepeti judul novel karangan Eka Kurniawan “seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas”. Jeng... jeng....

I. Saya dan menulis

Menulis, sebagian orang menganggap menulis atau mengarang adalah sebuah hal yang membosankan,. Dan bagi saya ada benarnya, namun tidak seutuhnya benar. Awalnya saya mengenal dunia tulis menulis dan akhirnya bisa menghasilkan beberapa tulisan yang terbit di kalangan para ibu-ibu muda, karena dikenalkan oleh Ricky Joe Amstrong, temen tapi bukan temen deket waktu kuliah dulu.

“Mas Mbeb awalnya bisa deket sama Ricky gimana ceritanya?” Mas Maung bertanya disebuah pagi yang hujan.

“saya lupa, dan bener-benar lupa”. Dari momen tersebutlah saya berpikir keras, “iya yah awalnya saya bisa deket ama Ricky  gimana ceritanya? Padahal waktu kuliah dulu kita hanya sebatas kenal, jarang menyapa”.

Kalau kita ingin menarik benang merah, tentunya kita tidak boleh lupa akan sejarah. Ada beberapa persamaan saya dengan Ricky, salah satunya yaitu kita sama-sama bekerja RSCM. Mungkin berawal dari situ saya bisa deket dengan beliau. Awal saya kerja di RSCM Ricky sering main ke kostan saya, sebatas hanya untuk istirahat atau dia sengaja ingin mengenalkan film-film atau buku-buku yang dia sudah baca dan menawarkan kepada saya untuk dipinjamkan. Salah satunya film kontroversial The Act of Killing.
  
Kadangkala Ricky datang ke kostan saya, namun saya merasa badannya ada disini tapi jiwanya tidak disini. Asal kita tahu, waktu itu Ricky sedang mempersiapkan pernikahannya. Hingga suatu saat, Ricky bercerita kepada saya, kalau dia ingin membuat sebuah zine yang bertemakan keperawatan. Zine bukan majalah, lebih kecil dari sebuah majalah dan gratis. Diproyeknya tersebut saya diajak untuk menjadi penulis tetap, awalnya saya ragu namun akhirnya saya mencoba dan bisa menghasilkan beberapa tulisan. Saya sendiri suka mengkhayal sebuah cerita,namun sulit tervisualisasikan kepada suatu hal yang berbentuk seperti tulisan.Ditambah lagi saya belum menemukan bakat apa yang saya miliki? Mungkin menulis?? Saya tidak bakat dalam seni.

II.Kesombongan Bang Udin Bukan Pada Tempatnya

Tulisan ini saya ingin bercerita tentang Bang Udin, penjaga kostan yang kita sebut “Kostan Bang Udin Syndicate”. Bukan kostan beliau sih, tapi kepada beliaulah saya bayar kostan tadi pagi. Akhir-akhir ini Bang Udin sering menyombongkan koleksi batu akiknya ke saya atau pun Mas Maung.

“nih liat Adi dan Arief batu akik sebelum diolah” cetus beliau sambil memperlihatkan batu akik seukuran kepala bayi.

“iya bagus, Bang Udin.” jawab saya, dengan muka datar.

Pembicaraan berhenti sampai disitu, saya kembali mengobrol dengan Mas Maung sementara Bang Udin masih mengelap batu akik di depan kami sambil berusaha menarik perhatian saya dan Mas Maung. Tapi usahanya tidak berhasil, Bang Udin pun lelah dan pergi.

Situasi akan tampak berbeda bila Bang Udin menyombongkan batu akik tersebut kepada Bunglay (temen Beny). Tanggapan Bunglay pasti tidak sedatar tanggapan saya yang gak memiliki ketertarikan terhadap batu akik. Entah kenapa Bunglay tidak menjadi hipster seperti sebelum-sebelumnyanya, beliau menjadi penikmat dan pengkoleksi batu akik mengikuti tren para om-om kebanyakan.  Bukan hanya Bunglay yang terpikat terhadap batu akik pada usianya yang masih belia, masih banyak remaja-remaja di luar sana yang bangga memakai batu akik di jari-jemarinya.

“nih liat Haris (nama samaran Bunglay) batu akik sebelum diolah” kata Bang Udin sambil memperlihatkan batu seukuran kepala bayi ke Bunglay.

“keren banget Bang Udin, pasti batu akik ini berjenis homo sapiens dan biasanya terdapat dibulan, pasti ini harganya sangat mahal Bang Udin, kalo dijual harga jualnya pasti masih tinggi.” jawab Bunglay dengan memperlihatkan muka horny.

Dari situ saya belajar, kalau mau sombong, sombonglah pada tempatnya. Kalau sedang sombong tapi tidak mendapatkan feedback positif dari target kesombongan kita, pastilah hal itu akan sangat mengecewakan.

III. Saya, RSCM, dan Celana Pendek
 
Jakarta itu panas dan salah satu aktivitas keseharian saya adalah berangkat kerja ke RSCM. Jarak dari kostan Bang Udin ke RSCM sekitar 500 meter dan biasanya saya berjalan kaki untuk menempuh rute tersebut. Saya mudah berkeringat, berjalan 500 meter di cuaca Jakarta yang adem aja kadang saya berkeringat apalagi di cuaca panas. Oleh karena itu saya lebih nyaman pake kaos belel sama celana pendek untuk pergi kerja. Karena pada intinya, haram hukumnya pake seragam perawat RSCM di luar lingkungan RSCM. Akhirnya pada suatu pagi, pagi itu pagi yang terik, dan pagi itu pagi di hari Senin yang begitu sibuk, saya berjalan di lorong lantai basement gedung A RSCM. Berjalan menuju  kamar ganti dengan hanya mengenakan kaos belel bergambarkan logo Starbucks namun berisi plesetan yang saya beli awal tahun 2011 (kejadian ini terjadi di tahun 2014) seharga 20 ribu rupiah di Bandung. Kaosnya emang belel bahkan ada bagian bolong di area perut seukuran paku payung. Selain pake kaos belel, saya juga pake celana pendek dan sendal jepit. Sekitar 5 meter sebelum nyampe kamar ganti saya bertemu dengan kepala SDM gedung A, dan terjadilah perbincangan seperti ini:

“Arief!! Kamu mau kerja atau mau berlibur?!” sindir kepala SDM YTH dengan muka ketus karena beban kerja hari Senin kali yah.?

“Saya menganggap bekerja itu adalah berlibur, makanya saya selalu mengawali hari Senin dengan senang dan gembira serta saya mencintai pekerjaan saya. Bapak tau moto hidup saya KERJA,, KERJA,,, DAN KERJA,,, RSCM sudah menjadi rumah ketiga saya, Pak. Bapak udah saya anggap saudara. Direktur kita, sudah saya anggap kakek sendiri. Dan saya menganggap semua pegawai RSCM adalah saudara ketiga saya” jawab saya tegas dalam hati. Kurang apa coba saya sebagai seorang pegawai yang menjunjung tinggi dedikasi dan selalu memegang teguh istilah MENOLONG DAN MEMBERIKAN YANG TERBAIK.

“Saya menganggap bekerja itu adalah berlibur Pak, makanya saya selalu santai dalam bekerja dan saya senang” nah ini ciusan jawaban saya yang sebenernya ketika beliau menyindir saya.

Saya langsung tinggalkan beliau begitu saja, dan beliau juga pergi tanpa sepatah kata pun.

IV. Saya, Mas Maung, Yosi : 3 laki-laki yang tidak mempunyai prinsip kah? Atau kami belum menemukan pasangan yangmembuat kami memiliki rasa takut kehilangan bila tidak memiliki, menikahi,serta menggagahi?

Pedekate adalah fase sebelum pacaran, fase ini sebenarnya lebih menyenangkan daripada fase pacaran. Entah kenapa wanita akan lebih menunjukkan siapa dirinya, seberapakah posesifnya ketika status telah meningkat dari pedekate ke pacaran. (Ricky Joe Armstrong, 2014)

Ada banyak letupan-letupan badai serotonin ketika masih pedekate, ada banyak kebutuhan seksual secara arti luas yang terpenuhi selama masa pedekate, tapi entah kenapa hal itu menjadi membosankan setelah pacaran. Setidaknya itulah yang saya, Mas Maung, dan Yosi rasakan. Kami terlihat tidak mempunyai prinsip kah? Atau belum menemukan wanita yang membuat kita merasakan takut kehilangan? Atau mungkin kita hanya puas hanya dengan status gebetan? Kalau kita analogikan kenapa kami merasa lebih nyaman menjalani masa pedekate daripada masa pacaran mungkin seperti ini :

Ada sepasang kekasih yang hendak berhubungan badan, mereka melakukan pemanasan, cium kanan, cium kiri, cium sanah, cium sinih. Ketika pemanasan semakin panas, nadi semakin cepat, respirasi rate meningkat, ada gejolak perasaan yang perlu dituntaskan, dan ketika sang pasangan wanita pasrah terhadap sang pasangan laki-laki mau diapakan. Tapi tiba-tiba saja sang laki-laki lebih memilih untuk pergi dan meninggalkan wanita yang sedang terbaring pasrah dan memperlihatkan muka keanehan. (sumpah absurd dan gak nyambung sekali analoginya)

Mas Maung dan Yosi sendiri banyak gebetannya. Kalau lagi ditanya sedang dimana? Jawaban mereka pasti meliuk-liuk alias lagi jalan dengan gebetan, dan tentunya gebetan-gebetannya selalu berbeda-beda di setiap momennya. Mereka berdua termasuk laki-laki yang tidak mempunya prinsipkah? Atau mereka sedang mencari pasangan yang tepat?

Ketika saya curhat kepada mas maung (kita memang laki-laki lemah) tentang gebetan saya, Mas Maung bertanya,

“Mas Mbeb,kenapa gak jadian aja sih? Tinggal sekali shoot tuh, pasti gol?” tanya Mas Maung.

“Aduh gimana yah Mas Maung, gebetan saya nyarinya calon suami bukan pacar. Nampaknya dia orang yang berperasaan banget dan emang seriusan cari calon suami, apalagi usianya udah cocok untuk menikah. Sayakan belum kepikiran berumah tangga.” jawab saya.

“Jalanin aja Mas Mbeb, kalau jodoh pasti bertemu, kalau bukan jodoh yah lari deh” sergah Mas Maung.

Saya tampak tidak memiliki prinsipkah? Atau saya tidak ingin menyakiti gebetan saya di lain waktu ketika dia sangat berharap lebih terhadap saya?

Pernah ada temen yang bilang kalau laki-laki itu memiliki golden period, periode dimana waktu yang tepat bagi seorang laki-laki mencari pasangan hidup dan Tuhan mengirim pasangan yang tepat untuknya. Kadangkala laki-laki tidak peka dengan golden period tersebut. Banyak wanita yang ingin serius dengannya namun sang laki-laki sibuk dengan hobi dan karirnya. Dan akhirnya golden period tersebut terlewati begitu saja. Efek jangka panjangnya setelah golden period tersebut terlewati adalah sang laki-laki susah menemukan pasangan yang tepat.

Kesimpulannya masih sebuah tanda tanya :
1.      Kami tidak mempunyai prinsip?
2.      Kami terlalu nyaman sendiri?
3.      Kami sedang mencari pasangan yang tepat? Yang bisa membuat kami cemburu, merasa takut kehilangan, dan merasa nyaman di dekatnya?

Salemba Tengah, Kostan Bang Udin, 3 Januari 2015

Arief Rahma Hidayat, AMK

Senin, 22 Desember 2014

Urip (yang sedang tidak) Mengkenen Temen : Untuk Si Mamah yang Tidak Pernah Terlihat Tua




Hidup tidak hadir dengan sebuah buku panduan. Ia hadir melalui seorang ibu.

Beuh keren sekali kan kutipan diatas? Tentu saja keren karena itu bukan kutipan dari saya. Saya menemukannya dari linimasa seseorang di twitter. Maklum hari ini kan Hari Ibu jadi di media sosial orang rame-rame mem-posting segala hal tentang ibu.

Tapi mari kita baca secara seksama kutipan diatas. Tidak seperti handphone atau barang elektronik lainnya yang begitu kita beli lalu buka kita akan mendapatkan booklet berisi panduan dan segala tetek-bengeknya (meskipun saya yakin buku panduan itu tidak pernah dibaca), hidup manusia tidak seperti itu. Kita brojol ke dunia tanpa tahu apa-apa. Kecuali nangis karena lapar dan minta nenen. Itupun tidak serta-merta langsung ngomong ke ibu kita “Mah nenen dong Mah?”. Semua membutuhkan proses yang tidak sebentar. Dari mulai kita belajar merangkak, berdiri, berjalan sampai bisa berbicara. Dan dari semua proses itu, ibu adalah seseorang yang mempunyai peranan yang sangat besar dan krusial. Maka tidak heran juga kalau ada idiom yang menyebutkan kalau proses pembelajaran pertama seorang anak berasal dari ibunya. Coba saja perhatikan para mamah-mamah muda kalau sedang mengajari anaknya bicara. “Ma ma, pa pa, da da” begitu berulang-ulang dengan wajah ceria dan penuh kehangatan. Mengenalkan nama-nama hewan, pohon, bunga dan semua benda yang ada di sekelilingnya.

Maka adalah sebuah usaha yang sia-sia jika kita ingin mencoba menghitung jasa-jasa seorang ibu. Menghitungnya saja sudah susah bagaimana cara kita membalasnya? Wah ini menurut saya lebih susah lagi. Tapi kalau saya pribadi sih percaya cara sederhana untuk membalas jasa seorang ibu adalah dengan tidak membuatnya kecewa. Yah meskipun saya bukanlah anak yang baik-baik amat, suka coli, suka minum bir, suka ngecein Jonru dan Felix Siauw, dan di pilpres kemarin dengan rendah hati menolak  ajakan ibu saya  untuk nyoblos Prabowo tapi kalau berada di depan ibu saya sebisa mungkin bersikap seperti anak yang baik-baik. Semata karena saya benar-benar tidak ingin membuatnya merasa kecewa karena sudah melahirkan anak sebadung saya. Semoga itu semua cukup untuk membuatnya bahagia.

Diantara jasa-jasanya yang segunung itu, ada satu hal yang saya syukuri telah Mamah (ini panggilan untuk ibu saya) wariskan kepada saya, yaitu kegemarannya membaca dan mendengarkan musik. Kesukaan saya terhadap buku dan musik itulah yang saya kira berasal dari ibu saya. Saya sendiri sebenarnya juga tidak tahu kenapa saya bisa tumbuh dengan suka membaca, hanya saja dulu waktu kecil saya sering kali meliha si Mamah sedang membaca cerpen di Majalah Femina atau pun di Majalah Kartini. Kadang si Mamah membacanya ketika sedang menunggu nasi matang atau ketika potong rambut di salon. Saya juga ingat dulu si Mamah pernah membaca sebuah novel berjudul Kisi-Kisi entah karangan siapa. Aneh juga, saya masih mengingatnya sampai sekarang meskipun pada waktu itu saya tidak pernah membacanya. Mungkin saja dari situ hasrat membaca saya mulai tumbuh. Apalagi ketika saya sudah  mulai masuk sekolah dasar, si Mamah terkadang suka membawa buku bacaan dari perpustakaan sekolahnya ke rumah. Satu judul buku yang saya ingat adalah kumpulan cerita Petani Dan Kerbaunya. 

Begitu juga halnya dengan musik. Pendidikan musik pertama saya bisa dibilang berasal dari si Mamah juga. Dari sejak saya TK saya sudah akrab dengan lagu-lagunya Oma Irama, Elvie Sukaesih, Rita Sugiarto sampai Evi Tamala. Juga dengan lagu-lagu pop Sunda macam Darso, Yayan Jatinika ataupun Hetty Koes Endang. Saya dapatkan semuanya dari si Mamah. Karena si Mamah ini rutin menyetel lagu-lagu tadi setiap sore. Biasanya sih sambil beliau ngepel. Atau kalau tidak menyetel lagu-lagu dari penyanyi tadi si Mamah akan mendengarkan siaran radio yang juga memutarkan lagu-lagu dangdut atau pop Sunda.

Mungkin karena itu juga sampai sekarang saya lebih merasa akrab dengan lagu-lagu dangdutnya Rhoma Irama ataupun Evi Tamala dibandingkan dengan misalnya Cita Citata atau pedangdut masa kini lainnya. Karena sering diperdengarkan sejak saya kecil maka lagu-lagu dangdut juga pop Sunda tadi begitu menempel di alam bawah sadar saya. Meskipun lagu-lagu tadi sangat-tidak-obscure-dan-gaul sama sekali tapi saya selalu suka setiap kali mendengarnya.

“Urip mengkenen temen” begitu kawan saya Yosie Rivanto sering berkata.   Terkadang saya sendiri pun sering merasakan berada di situasi yang tersebut. Situasi yang urip-mengkenen-temen, situasi yang kadang selalu membuat saya merasa, “anjiir kok idup gini-gini amat ya?”. Tapi dengan buku-buku yang pernah saya baca dan musik yang pernah saya dengarkan saya merasa bahwa hidup juga terkadang menyenangkan. Tidak selalu untuk menggerutu dan menyesali. Bahwa biasanya dengan membaca buku dan mendengarkan lagu kesukaan sambil ngopi, hidup saya sudah terasa indah seperti di surga. Untuk kedua hal itu saya merasa sangat berterima kasih kepada si Mamah. 

Terimakasih Tuhan sudah memberi ibu yang tidak pernah terlihat tua di mata saya. Selamat hari ibu dan i love you.

Ricky P. Rikardi 

Rabu, 26 Februari 2014

Perawat Dalam Dilema

"Kamu masih kuliah apa sudah kerja?"
"Emmm,... saya sudah bekerja.."
"Oh, di mana?"
" di RSCM"
"Kerja sebagai apa?"
"Yah,..pokoknya bekerja di RSCM"
"Oh gitu,..."

   Percakapan di atas adalah sebuah kisah nyata di kehidupan sehari-hari yang terjadi antara seorang perawat dan seseorang (teman, tetangga, atau bahkan orang yang kebetulan baru ketemu di jalan) tanya kenapa??? Apakah malu dengan pekerjaan PERAWAT atau takut di tanya-tanya tentang hal yang berbau medis???? Itu kah cara halus untuk terhindar dari pertanyaan medis, atau ada hal yang lain?

   Dilihat dari segi awal masuk kuliah keperawatan, banyak orang yang mati-matian masuk akademi keperawatan (akper), tapi tidak berhasil. Banyak orang juga mati-matian di paksa orang tuanya masuk akper, dan sialnya mereka masuk akper dengan sukses. sebagian orang dapat menjalani pendidikan dengan gemilang fan menjadi mahasiswa yang berprestasi, sedangkan sebagian lainya (termasuk saya) menjadi mahasiswa yang depresi dan sampai sekarang kerjapun masih depresi, percaya tidak percaya kami hanyalah manusia biasa yang tak lepas dari khilaf dan bersyukur.

     Mungkin yang membaca tulisan merasa kasihan dan prihatin atau ingin mengutuk? Tapi nanti dulu,.... masih ada banyak perawat yang benar-benar bekerja secara profesional dan berdedikasi tinggi,bekerja dengan durasi shift kurang lebih delapan jam di pagi, sore kadang malam hari kita masih tetep terjaga untuk memberikan pelayanan di saat semua orang tertidur. Di suatu tempat di tanah air ini, ada yang mengalami kesakitan parah sedang bersyukur karena kita masih terbangun saat itu seolah perawat menggantikan rembulan di malam hari yang mengemban tugas suci untuk menolong kaum yang sedang kesakitan, betapa bersyukurnya yang diucapkan oleh pasien ketika nyawa terancam perawat masih melakukan pelayanan medis dengan baik.

      Namun di balik tugas yang dikerjakan oleh perawat terdapat kisah miris yang menyayat hati, ketika buruh berdemo ingin upah kerja naik menjadi 3, 6jt per bulan. Perawat tak bergeming ingin upah kerja tinggi, kita sadar negara ini banyak orang pesakitan yang perlu di bantu. Bersyukurlah pada mereka yang mempunyai jaminan kesehatan, baik itu asuransi dari pihak swasta atau pun jaminan kesehatan yang diberikan negara pada masyarakat yang miskin. Yang kami inginkan saat ini adalah bagai mana RUU Keperawatan segera di sah-kan, agar kami mempunyai payung hukum yang legal. Akan tetapi setelah saya berbincang- bincang dengan pak Hendra yaitu pegawai PJT(Pelayanan Jantung Terpadu) beliau mengungkapkan seandainya RUU KEPERAWATAN di sah-kan, apa kita mampu memenuhi kompetensi-kompetensi yang di syaratkan dalam RUU KEPERAWATAN, apakah kita juga siap di tuntut secara hukum? Dan semua itu harus kita hadapi, jangan terkecoh akan keuntungan dari RUU KEPERAWATAN mungkin saja di pasal lain akan merugikan bagi kita. Setelah di ceritakan seperti itu yang tadi saya angkuh kini menjadi menunduk. Mulai mandibula ketemu sternum, sampai mandibula ketemu skrotum. Sungguh tragis memang kehidupan perawat saat ini, tapi beginilah hidup selama masih hidup di alam, hukum alam lah yang berlaku disini, yang kuat akan bertahan hidup. Mungkin ini adalah lamunan iseng tapi sinting(baca:HEBAT) untuk kehidupan perawat saat ini, tetap berikan layanan yang terbaik untuk semua masyarakat. Dan kita semua perawat berhati malaikat.

-Oleh Beny Yanuarman-

Selasa, 21 Januari 2014

Kemarin


Bersyukurlah pada yang maha kuasa

hargailah orang-orang yang menyayangimu dan selalu ada setia disisimu...

‘Klik’ terdengar suara Adit mematikan MP3 yang sedang memutar lagu Sang Pemimpi dari Gigi.

“Kenapa dimatiin sih Dit? Lagi asik juga”

“Mau diberesin Ton. Mau dimasukin ke koper”

“Emang bapak kamu sudah nyampe mana, Dit?”

“Masih jauh sih, tapi mau diberesin aja”

Hari ini hari Sabtu, hari terakhir kami kost di Cirebon. Tidak terasa sudah tiga tahun kami kost di kostan Pak Camit, padahal rasanya baru kemarin kami diospek. Adit mulai memasukkan sound sistem mini miliknya ke dalam koper. Adit adalah teman kost saya selama tiga tahun. Perawakannya yang gagah membuat tidak terhitung jumlah wanita yang dekat dengannya.

“Good day datang...” terdengar suara Derry memasuki pintu ruang tamu kostan kami.

Kostan kami bisa dibilang unik, di dalamnya ada dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur dan satu kamar mandi. Penghuninya hanya kami bertiga. Saya satu kamar sama Derry, sementara Adit sendirian. Seperti rumah sendiri, walau kadang kita suka numpang mandi di rumah bapak kost yang terletak berdampingan dengan kostan kami.

“Makasih banyak, Derr” ucap Adit sambil mulai meminum Good Day Capucinno kesukaannya.

“Iya Derr makasih banyak, saya hutang Budi nih jadinya, nanti saya bayar Budi yah, Derr?”

“Iya Ton, ambil aja Budinya buat kamu. Hahaha” ucap Derry diiringi tawa kami bertiga.

Derry adalah teman kost saya juga selama tiga tahun ini, Dia orangnya paling alim, pintar, lucu dan imut. Tak heran jika dia kemudian terpilih menjadi duta kampus. Sementara saya, tidak ada hal yang istimewa yang harus diceritakan mengenai diri saya. Satu-satunya yang ingin saya ceritakan adalah musibah di akhir tahun tingkat satu yang membuat saya terpilih menjadi Wapres BEM. Membuat saya akhirnya berkecimpung di dunia organisasi selama setahun penuh.

“Dit, kamu jadi hari Senin diwawancara di RS Islam Bandung?” tanya saya kepada Adit.

“Jadi Ton, doain yah” jawab Adit.

“Bener kata kamu, Ton. Tuhan itu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Jadi sekarang Adit memang lagi butuh kerohanian, buktinya dia di panggil di RS Islam. Hahahaha” cetus Derry. Temen saya yang satu ini memang pandai bercanda. Waktu dia ikut seleksi duta kampus, saya sarankan dia untuk stand up komedi, tetapi dia lebih memilih puisi. Bukan pilihan yang buruk, karena berkat puisi Prajurit Jaga Malam karya Chairil Anwar itulah dia terpilih jadi duta kampus.

“Derr, ini ada bakpia. Tadi malam si bapak habis dari Surabaya. Dia bawa bakpia. Nih buat kalian” tiba-tiba kata ibu kost muncul dari pintu masuk dan berkata kepada Derry yang berada paling dekat dengan pintu.

Heran juga, sejak kapan makanan khas Surabaya jadi bakpia. Bukannya itu khas Semarang yah? Kalo Surabaya kan rujak cingur. Tapi tak usah dipikirkan, kita lanjut ke cerita.

“Ayo makan, Ton, jangan jaim gitu. Enak bakpianya.” kata Derry sambil makan bakpia.

“Nanti Derr. Saya agak trauma liat bakpia”

“Trauma kenapa, Ton?” tanya Adit.

“Jadi begini ceritanya. Dulu pas Ospek, kita kan di suruh bawa hal yang aneh-aneh tuh, misalnya permen Napoleon Bonaparte, kripik Samudera Pasai, dan masih banyak lagi. Waktu itu kan kita di suruh bawa kakak cantik. Kelompok kita kepikirannya Mbak Via di plesetin jadi bakpia. Mbak berarti kakak perempuan sementara Via itu nama yang manis. Malam-malam saya pergi ke Terminal Cirebon nyari bakpia. Untung Cirebon berada di jalur Pantura. Saya dapet bakpia dari dalam bus. Besoknya ternyata kelompok kita salah. Yang senior maksud dari kakak cantik itu teh manis. Teh berasal dari kata teteh yang dalam bahasa Sunda berati kakak perempuan dan manis ya manis. Hasilnya yang lain minum teh manis sementara kelompok kita cuma bisa gigit Mbak Via. Sialun!”

“Hahahaha. Kelompok kamu kejauhan mikirnya, Ton. Terlalu jenius. Hahahaha.” Cerita saya membuat Adit tertawa terbahak-bahak.

“Saya juga punya cerita nih” kata Derry. Temen saya yang satu ini memang paling tidak bisa terima kalau ada yang lebih lucu darinya.

“Jadi gini, kamu sekelompok sama Ewi kan, Ton?” Derry mulai bercerita.

“Iya, Derr” jawab saya.

“Jadi begini ceritanya. Senja kala waktu itu. Para peserta Ospek bersiap salat Magrib. Saya paling terakhir ngambil peralatan salat” cerita Derry sempat kepotong karena dia harus ngomong sambil makan bakpia.

“Pas saya keluar dari ruangan, saya lihat Ewi jatuh, kakinya terperosok ke selokan. Waktu itu saya lihat Ewi tersenyum, saya juga berpikir Ewi tersenyum menahan malu karena jatuh. Saya cuma membalas dia dengan senyuman dan bergegas meninggalkan dia. Tak berapa lama kemudian saya lihat Ewi dibopong sama beberapa orang, tangannya menutupi wajahnya yang berurai air mata. Ternyata yang saya lihat tadi tuh si Ewi lagi nangis. Saya jadi merasa berdosa pada Ewi.”

“Hahahahaha..” Adit tak henti-hentinya tertawa mendengar cerita Derry.

“Kamu harus tanggung jawab Derr, nikahi Ewi. Hahahaha” ucap saya sambil tertawa juga.

“Dit, bapak kamu masih lama?” tanya Derry.

Kebetulan kita bertiga sama-sama orang Majalengka. Pindahan dari Cirebon ke Majalengka kali ini saya dan Derry nebeng ke bapaknya Adit.

“Bentar lagi juga nyampe, Derr.” jawab Adit.

“Saya juga punya cerita tentang anggota kelompok kamu, Ton.” lanjut Adit.

“Cerita apa, Dit? Cerita tergoda kakak ipar tah? Hahahaha”

“Bukan Ton. Ini cerita tentang Suwenda, ketua kelompok kamu tapi bukan pas Ospek” jawab Adit.

“Waktu itu saya main ke rumah Suwenda. Tau sendiri kan kalo Wenda jualan martabak.” Adit memulai cerita.

“Martabak Solok Jaya kan, Dit? Yang kata Haris solok dubur. Hahahaha”

“Iya Ton, dasar si Haris tuh omongannya jorok, kalo itu colok dubur bukan solok.” Adit kembali bercerita

“Pas saya pulang, saya di kasih martabak sama Suwenda, saya taruh aja di jok motor, mau saya cantolin ribet, soalnya saya mau ngebut. Beberapa hari berlalu, waktu itu saya mau pergi sama Suwenda. Di perjalanan bensin habis. Saya ngisi bensin dulu di pom bensin By Pass. Pas saya buka jok motor matic saya, martabaknya masih ada dan sudah penuh dengan sarang laba-laba. Sialan, saya malu sama Suwenda. Sepetinya dia marah sama saya. Besok-besoknya dia diemin saya.”

“Hahahahaha. Harusnya kamu makan saat itu juga Dit, kan gak enak sama Suwendanya. Hahahaha” kali ini saya yang tidak bisa berhenti tertawa.

“Saya bener-bener lupa, Ton.”

“Saya juga punya cerita nih.” Sepeti biasa, Derry tak mau kalah kalau soal cerita lucu.

“Nanti lagi Derr ceritanya, bapak saya udah nunggu di depan gang.” Belum sempat Derry bercerita Adit sudah memotong.

“Ayo kita angkut barang-barang kita.” Saya mengajak mereka untuk mulai mengangkut barang-barang. Tidak lupa gelas bekas Good Day kita kembalikan ke warung depan kostan.

Setelah berpamitan kepada bapak dan ibu kost, kita pergi meninggalkan kostan yang sudah tiga tahun ditempati. Di dalam mobil, tidak banyak yang kita obrolin. Canggung juga kalau harus ketawa ketiwi di dekat bapak Adit. Sepi dan sunyi jadinya. Di tengah kesunyian saya terlena dalam lamunan. Sedih juga harus berpisah dengan mereka. Semuanya terasa baru kemarin. Rasanya baru kemarin saya bertemu Adit dengan gaya rambut merahnya, sempat berpikir dia itu preman. Rasanya baru kemarin saya dan Derry muter-muter cari kostan. Sekarang kami berpisah. Kami tidak akan makan bareng lagi, mandi bareng, saya mandi di kostan, Adit dan Derry di rumah ibu kost, berangkat kuliah bareng, kalau pulang kuliah sih gak bareng, Adit suka pacaran dulu kalau pulang kuliah, kalau Derry suka menghabiskan banyak waktu di perpustakaan, dan saya harus memimpin rapat untuk kegiatan organisasi yang saya ikuti. Masih banyak lagi kegiatan bareng lainnya, dan tidak mungkin untuk dituliskan disini. Air mata ini mulai menetes. Ahh sial, kenapa saya harus kelilipan. Apa yang membuat saya kelilipan di dalam mobil yang tertutup ini? Entahlah..

Siapapun jangan pernah kau sakiti

Dalam pencarian jati diri dan teman yang kau impikan Kejarlah sang...

klik’ baru sebentar Adit menyalakan mp3, dia sudah memindahkan lagu.

Aku tak mau bicara sebelum kau cerita semua

Apa maumu? Siapa dirinya? Tak betah bila ada yang lain...

Ah ternyata lagu Wali yang sering kita dendangkan.
---Antonio Nur-Cullun---