"Kamu masih kuliah apa sudah
kerja?"
"Emmm,... saya sudah bekerja.."
"Oh, di mana?"
" di RSCM"
"Kerja sebagai apa?"
"Yah,..pokoknya bekerja di RSCM"
"Oh gitu,..."
Percakapan di atas adalah sebuah kisah
nyata di kehidupan sehari-hari yang terjadi antara seorang perawat dan
seseorang (teman, tetangga, atau bahkan orang yang kebetulan baru ketemu di
jalan) tanya kenapa??? Apakah malu dengan pekerjaan PERAWAT atau takut di
tanya-tanya tentang hal yang berbau medis???? Itu kah cara halus untuk
terhindar dari pertanyaan medis, atau ada hal yang lain?
Dilihat dari segi awal masuk kuliah keperawatan, banyak orang yang mati-matian masuk akademi keperawatan (akper), tapi tidak berhasil. Banyak orang juga mati-matian di paksa orang tuanya masuk akper, dan sialnya mereka masuk akper dengan sukses. sebagian orang dapat menjalani pendidikan dengan gemilang fan menjadi mahasiswa yang berprestasi, sedangkan sebagian lainya (termasuk saya) menjadi mahasiswa yang depresi dan sampai sekarang kerjapun masih depresi, percaya tidak percaya kami hanyalah manusia biasa yang tak lepas dari khilaf dan bersyukur.
Mungkin yang membaca tulisan merasa kasihan dan prihatin atau ingin mengutuk? Tapi nanti dulu,.... masih ada banyak perawat yang benar-benar bekerja secara profesional dan berdedikasi tinggi,bekerja dengan durasi shift kurang lebih delapan jam di pagi, sore kadang malam hari kita masih tetep terjaga untuk memberikan pelayanan di saat semua orang tertidur. Di suatu tempat di tanah air ini, ada yang mengalami kesakitan parah sedang bersyukur karena kita masih terbangun saat itu seolah perawat menggantikan rembulan di malam hari yang mengemban tugas suci untuk menolong kaum yang sedang kesakitan, betapa bersyukurnya yang diucapkan oleh pasien ketika nyawa terancam perawat masih melakukan pelayanan medis dengan baik.
Namun di balik tugas yang dikerjakan oleh
perawat terdapat kisah miris yang menyayat hati, ketika buruh berdemo ingin
upah kerja naik menjadi 3, 6jt per bulan. Perawat tak bergeming ingin upah
kerja tinggi, kita sadar negara ini banyak orang pesakitan yang perlu di bantu.
Bersyukurlah pada mereka yang mempunyai jaminan kesehatan, baik itu asuransi
dari pihak swasta atau pun jaminan kesehatan yang diberikan negara pada
masyarakat yang miskin. Yang kami inginkan saat ini adalah bagai mana RUU
Keperawatan segera di sah-kan, agar kami mempunyai payung hukum yang legal.
Akan tetapi setelah saya berbincang- bincang dengan pak Hendra yaitu pegawai
PJT(Pelayanan Jantung Terpadu) beliau mengungkapkan seandainya RUU KEPERAWATAN
di sah-kan, apa kita mampu memenuhi kompetensi-kompetensi yang di syaratkan
dalam RUU KEPERAWATAN, apakah kita juga siap di tuntut secara hukum? Dan semua
itu harus kita hadapi, jangan terkecoh akan keuntungan dari RUU KEPERAWATAN
mungkin saja di pasal lain akan merugikan bagi kita. Setelah di ceritakan
seperti itu yang tadi saya angkuh kini menjadi menunduk. Mulai mandibula ketemu
sternum, sampai mandibula ketemu skrotum. Sungguh tragis memang kehidupan
perawat saat ini, tapi beginilah hidup selama masih hidup di alam, hukum alam
lah yang berlaku disini, yang kuat akan bertahan hidup. Mungkin ini adalah
lamunan iseng tapi sinting(baca:HEBAT) untuk kehidupan perawat saat ini, tetap
berikan layanan yang terbaik untuk semua masyarakat. Dan kita semua perawat berhati
malaikat.
-Oleh Beny Yanuarman-






0 komentar:
Posting Komentar