Rabu, 26 Februari 2014

Perawat Dalam Dilema

"Kamu masih kuliah apa sudah kerja?"
"Emmm,... saya sudah bekerja.."
"Oh, di mana?"
" di RSCM"
"Kerja sebagai apa?"
"Yah,..pokoknya bekerja di RSCM"
"Oh gitu,..."

   Percakapan di atas adalah sebuah kisah nyata di kehidupan sehari-hari yang terjadi antara seorang perawat dan seseorang (teman, tetangga, atau bahkan orang yang kebetulan baru ketemu di jalan) tanya kenapa??? Apakah malu dengan pekerjaan PERAWAT atau takut di tanya-tanya tentang hal yang berbau medis???? Itu kah cara halus untuk terhindar dari pertanyaan medis, atau ada hal yang lain?

   Dilihat dari segi awal masuk kuliah keperawatan, banyak orang yang mati-matian masuk akademi keperawatan (akper), tapi tidak berhasil. Banyak orang juga mati-matian di paksa orang tuanya masuk akper, dan sialnya mereka masuk akper dengan sukses. sebagian orang dapat menjalani pendidikan dengan gemilang fan menjadi mahasiswa yang berprestasi, sedangkan sebagian lainya (termasuk saya) menjadi mahasiswa yang depresi dan sampai sekarang kerjapun masih depresi, percaya tidak percaya kami hanyalah manusia biasa yang tak lepas dari khilaf dan bersyukur.

     Mungkin yang membaca tulisan merasa kasihan dan prihatin atau ingin mengutuk? Tapi nanti dulu,.... masih ada banyak perawat yang benar-benar bekerja secara profesional dan berdedikasi tinggi,bekerja dengan durasi shift kurang lebih delapan jam di pagi, sore kadang malam hari kita masih tetep terjaga untuk memberikan pelayanan di saat semua orang tertidur. Di suatu tempat di tanah air ini, ada yang mengalami kesakitan parah sedang bersyukur karena kita masih terbangun saat itu seolah perawat menggantikan rembulan di malam hari yang mengemban tugas suci untuk menolong kaum yang sedang kesakitan, betapa bersyukurnya yang diucapkan oleh pasien ketika nyawa terancam perawat masih melakukan pelayanan medis dengan baik.

      Namun di balik tugas yang dikerjakan oleh perawat terdapat kisah miris yang menyayat hati, ketika buruh berdemo ingin upah kerja naik menjadi 3, 6jt per bulan. Perawat tak bergeming ingin upah kerja tinggi, kita sadar negara ini banyak orang pesakitan yang perlu di bantu. Bersyukurlah pada mereka yang mempunyai jaminan kesehatan, baik itu asuransi dari pihak swasta atau pun jaminan kesehatan yang diberikan negara pada masyarakat yang miskin. Yang kami inginkan saat ini adalah bagai mana RUU Keperawatan segera di sah-kan, agar kami mempunyai payung hukum yang legal. Akan tetapi setelah saya berbincang- bincang dengan pak Hendra yaitu pegawai PJT(Pelayanan Jantung Terpadu) beliau mengungkapkan seandainya RUU KEPERAWATAN di sah-kan, apa kita mampu memenuhi kompetensi-kompetensi yang di syaratkan dalam RUU KEPERAWATAN, apakah kita juga siap di tuntut secara hukum? Dan semua itu harus kita hadapi, jangan terkecoh akan keuntungan dari RUU KEPERAWATAN mungkin saja di pasal lain akan merugikan bagi kita. Setelah di ceritakan seperti itu yang tadi saya angkuh kini menjadi menunduk. Mulai mandibula ketemu sternum, sampai mandibula ketemu skrotum. Sungguh tragis memang kehidupan perawat saat ini, tapi beginilah hidup selama masih hidup di alam, hukum alam lah yang berlaku disini, yang kuat akan bertahan hidup. Mungkin ini adalah lamunan iseng tapi sinting(baca:HEBAT) untuk kehidupan perawat saat ini, tetap berikan layanan yang terbaik untuk semua masyarakat. Dan kita semua perawat berhati malaikat.

-Oleh Beny Yanuarman-

0 komentar:

Posting Komentar