Kamis, 19 September 2013

KEMOTERAPI DAN GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT


Oke, berawal dari pasien yang didiagnosa KSS laring-faring post radioterapi, sebut saja pasien itu denganTuan Mawar. Beliau datang ke sebuah rumah sakit untuk melaksanakan kemoterapi. Beliau sudah terpasang trakeostomi dan NGT,dari trakeostomi nya tampak produksi darah kekuningan, mungkin trakeostominya sudah terinfeksi, namun secara klinis belum tampak adanya tanda dan gejala infeksi. Karena kankernya di laring cuy, jadi beliau sulit berbicara. Menurut pengakuan istrinya ini adalah kemoterapi perdana.

Seperti lazimnya tindakan kemoterapi dokter selalu mengkaji kondisi pasien dan hasil laboratoriumnya, bila sudah memenuhi syarat seperti, hasil HB dan leukosit dan pemeriksaan lain dalam ambang batas normal, kemoterapi bisa dimulai. Untuk pasien Tn. Mawar ini dokter mengambil hasil lab beberapa hari sebelum pasien masuk rumah sakit. Setelah dilihat dari hasil labnya, pasien dinyatakan sudah bias menjalani kemoterapi. Kebetulan penulis sendirilah yang memulai kemoterapi pasien. Untuk regimen kemoterapi pasiennya sendiri adalah cisplatin-5fu. Untuk diketahui regimen kemoterapi ini dibutuhkan waktu selama 5 hari kemoterapi.

Hari pertama dan kedua pasien tidak terlihat ada masalah dengan klinisnya, namun pada hari ketiga pasien mengeluh sakit perut dan sedikit sesak. Dokter yang penulis laporkan mengenai kondisi ini kemudian menginstruksikan pemberian inhalasi dilanjutkan dengan pemberian ozid. Namun setelah itu pasien menunjukkan gejala gelisah dan mencoba mencabut infusannya. Tapi saat ditanya oleh perawat, pasien mengaku tidak sadar bahwa dirinya mencoba mencabut infus dan kejadian itu terus berulang beberapa kali. Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien sering sadar dan bisa di ajak bicara, namun kadang berubah gelisah dan tidak mengenali keluarga pasien.

Beberapa saat kemudian kegelisahan pasien semakin parah, pasien tidak mengenali keluarga, tampak seperti orang bingung yang tak tahu arah jalan pulang tanpamu butiran debu (tsaaaahhhh), sering pergi ke WC secara tidak sadar serta berusaha mencabut infusannya. Setelah berkolaborasi dengan dokter pasien diharuskan untuk dicek AGD (Analisa Gas Darah) dan elektrolitnya. Hasilnya AGD pasien menunjukkan alkalosis metabolik, sedangkan hasil elektrolitnya cukup mencengangkan, pasien masuk dalam kategori hiponatremia berat(120 meq/l).

Kolaborasi perawat dan dokter ini kemudian memutuskan pemberian cairan hipertonik NaCl 3% selama 24 jam, dan beberapa terapi oral yang mengandung natrium. Setelah di evaluasi beberapa kali kondisi pasien berangsur2 pulih dan tidak gelisah lagi (dan tentunyasudah tahu arah jalan pulang).

Dari kasus diatas bisa diliat hubungan antara kemoterapi dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sangat berkaitan erat. Perlu diketahui juga, kemoterapi sendiri mempunyai efek terhadap komponen darah seperti Hb dan leukosit, disisi lain juga sering menimbulkan mual dan muntah yang mana bila terus-terusan terjadi bisa mengakibatkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Untuk pemberian obat cisplatin sendiri harus disertai dengan pemantauan yang ketat terhadap fungsi ginjal pasien. Dari beberapa penjelasan diatas sebenarnya perawat mempunyai tugas yang penting karena setiap saat berhubungan dengan pasien. Perawat seharusnya lebih peka terhadap tanda dan gejala pasien, monitor intake dan output setiap 24 jam harus benar-benar dilaksanakan, serta tidak lupa pemeriksaan lab hari ke-3 post kemoterapi.

Oleh : Arief Rahma Hidayat,AMK

1 komentar: