Rabu, 18 September 2013
Sepasang Kekasih Yang Bertengkar Di Tukang Pecel Lele
Sore itu selesai melaksanakan tugas saya tidak langsung pulang ke kosan karena jalanan Jakarta di jam-jam sibuk seperti itu akan terasa sangat menyebalkan. Benarlah apa yang dikatakan orang-orang kalau Jakarta itu membuat kita "tua di jalan". Saya putuskan untuk melangkahkan kaki ini menuju ke Sevel dan membeli minuman dingin biar terasa segar. Lalu saya hempaskan tubuh ini ke salah satu kursi yang ada disana. Sengaja saya minum sedikit-sedikit biar tidak cepat habis, soalnya saya sekalian memanfaatkan koneksi wifi disitu yang lumayan kenceng.
Sekitar 1 jam saya berada disana perut saya mulai lapar dan meminta diisi. Setelah melihat isi dompet, saya memutuskan untuk membeli pecel lele yang kebetulan berjualan tidak jauh dari sana. Hari sudah mulai gelap. Adzan Maghrib sudah berkumandang. Tapi lalu-lintas masih sangat ramai. Dengan hati riang saya berjalan menuju tukang pecel lele.
"Mas, pecel ayam 1 ya? Makan disini"
"Siap graak"
"Minumnya apa?" Kata si Mas-masnya bertanya lagi.
"Teh tawar anget yaah?"
Sebenarnya bukan tanpa alasan saya memilih teh tawar anget, karena saat itu kondisi keuangan saya sudah mulai menipis. (Terpaksa) saya mengutip kata-kata Vicky Prasetyo, labil ekonomi. Saya kemudian duduk di meja belakang. Saya perhatikan 3 meja sudah terisi. Masih ada 3 meja lagi yang masih kosong. Tepat di meja samping saya, terlihat sepasang kekasih sedang terlibat obrolan serius. Saya tidak menangkap apa yang mereka bicarakan. Tetapi dari raut muka si cewek tampaknya obrolan itu sangat-sangat serius. Mungkin ini berkaitan langsung dengan kelangsungan hubungan mereka. Apakah mungkin kisah cinta mereka tidak direstui? Atau mungkin si cowoknya selingkuh? Atau si ceweknya yang main hati dengan lelaki lain? Atau mungkin mereka sedang membicarakan rencana pernikahan mereka? Membicarakan biaya pernikahan? Kredit rumah? Motor? Panci? Dan lain-lain? Entahlah, terlalu banyak kemungkinan yang bisa diambil. Tapi yang jelas obrolan itu pasti serius, karena saya lihat ada bulir-bulir air mata yang mengembang di mata si cewek itu! Ahhh saya merasa melankolis sekali saat itu!
Tepat ketika saya sedang merasa menjadi lelaki paling melankolis se-tukang pecel lele pesanan saya datang. Berbarengan dengan pesanan sepasang kekasih di meja sebelah saya. Ternyata mereka memesan pecel lele dan es teh. Saya pesan pecel ayam dan teh anget tapi sialan saya malah dikasih es teh. Awalnya saya berniat protes tapi kemudian niat itu saya urungkan, karena saya tertarik dengan drama di meja sebelah saya. Sesekali saya melirik ke arah mereka sambil menyantap paha ayam yang masih panas sembari menggerutu, "anjiiir nih tukang pecel lele ngasih nasinya dikit banget".
Adegan pertama, dengan mata berkaca-kaca si cewek mengatakan sesuatu kepada cowoknya. Tapi tampaknya si cowok tidak bisa menerimanya. Mimiknya terlihat serius. Dia mulai marah-marah kepada ceweknya. Sambil tangannya ngucek-ngucek air cebokan. Oh rupanya dia hendak makan. Sedangkan si cewek terlihat tidak tertarik bahkan sebatas melirik makanannya.
Adegan selanjutnya si cowok tampaknya mendominasi pembicaraan. Saya lihat si cewek hanya terdiam, dengan beberapa kali menyela. Tapi si cowok terus-menerus berbicara. Tapi kali ini sambil sesekali menyuapi mulutnya sendiri dengan pecel lele. Saya tahu manusia itu dianugerahi berbagai macam bakat oleh Tuhan, tapi saya baru lihat bakat unik seperti ini, marah-marah sambil makan! Setiap kali dia selesai membentak, dia lalu menyuapi mulutnya dengan pecel lele, lalu minum es teh. Terus menerus seperti itu. Sementara di sisi lain si cewek hanya bisa terdiam, hidangannya bahkan tidak disentuh sama sekali. Saya kesal, bukan karena si cewek hanya diam saja tapi karena pecel lelenya tidak dimakan! Sementara pecel ayam saya sudah mau habis. Kenapa tidak dikasihin kepada saya saja itu pecel lelelnya??? Saya masih lapaaaaar!!!
Saya seketika berubah dari lelaki paling melankolis se-tukang pecel lele menjadi lelaki paling kelaparan se-tukang pecel lele. Tapi itu tidak berlangsung lama. Setelah dari tadi dibentak oleh si cowok akhirnya air mata yang berusaha sekuat tenaga dibendung oleh si cewek runtuh juga, si cewek itu nangis!! Oh demiii Neptunus!!! Saya merasa terharu sekali! Saya berubah kembali menjadi lelaki paling melankolis se-tukang pecel lele. Ingin sekali rasanya tangan ini menghampirinya dengan selembar tissue untuk menghapus air matanya itu, sekalian bilang "Neng kalo pecel lelenya gak dimakan mah buat abang aja?". Tapi ya tentu saja saya tak kuasa melakukannya. Karena itu adalah urusan internal rumah tangga mereka. Siapalah saya ini? Lelaki paling melankolis se-tukang pecel lele yang masih kelaparan karena dikasih nasinya dikit. Saya berusaha untuk tegar! Saya yang dulu bukanlah saya yang sekarang! (Halaah)
Ketika saya berusaha membangun ketegaran di hati tiba-tiba lewatlah kedua orang teman saya, yaitu Haris dan Benny. Saya ajak mereka untuk mampir dulu (sekalian saya ajakin nonton drama Sepasang Kekaksih Yang Bertengkar Di Tukang Pecel Lele). Akhirnya mereka pun ikut memesan makanan dan duduk di meja saya. Ketegaran saya bisa terbangun sedikit oleh kehadiran mereka.
Saya kembalikan lirikan saya ke arah meja sebelah dimana drama berlangsung. Rupa-rupanya keadaan sekarang sudah agak tenang. Tangisan si cewek sudah mulai berhenti. Dan si cowok juga sudah berhenti marah-marah. Mungkin karena pecel lele dan es tehnya juga sudah habis. Sementara pecel lele si cewek masih utuh (masih ngarep).
Sekonyong-konyong datanglah seorang pengamen dengan ukulelenya. Woowww pengamen itu bermain ukulele dengan tangan kirinya. Ternyata dia kidal. Mungkin seperti inilah dulu Jimi Hendrix sebelum ngetop. Pengamen itu mulai bernyanyi (ternyata bukan lagunya Jimi Hendrix melainkan lagunya Gomloh),
"Di radiooo aku dengar lagu kesayanganmu. Kutelepon ke rumahmu sedang apa sayangku? Laaaa laaa laaa laaa laaa laaaaa laaaaa"
Saya melirik ke arah Haris.
"Lay ada receh gak?"
"Wah gak ada Lay. Masih biru semua duitnya. Abis dari ATM sih"
"Wah xombong"
"Iya Lay. Maaf Lay"
Saya tidak kehabisan ide. Kebetulan saya punya rokok. Saya kasih saja sebungkus rokok mild kepada si pengamen. Si pengamen tampak ragu-ragu.
"Udah ambil aja" kata saya dengan muka berseri-seri.
Dia masih terlihat ragu. Tapi setelah saya yakinkan akhirnya bungkusan rokok itu diambil juga oleh si pengamen. Dia terlihat senang, mungkin dia berpikir dikasih rokok sebungkus padahal isinya cuma ada satu. Yeah, kena kau saya kerjain! Fufufufu
Sementara drama di meja sebelah rupanya sudah hampir selesai. Saya perhatikan kini tangan si cowok menggenggam tangan si cewek. Awwww so sweeeet syekaliiiih kakaaaaak. Momen indah tersebut diabadikan oleh sebuah lagu dangdut yang dibawakan oleh pengamen selanjutnya. Sayangnya pengamen kali ini lypsinc! Dia tidak bernyanyi dengan suaranya sendiri! Huftbgt! Tapi karena dia mengamen bersama anaknya yang masih kecil akhirnya saya terenyuh juga. Maka saya relakanlah uang seribu (buat ongkos) saya berpindah tangan kepadanya.
Lagu dangdut tadi sedikitnya bisa meredakan pertengkaran antara sepasang kekasih di meja sebelah saya. Karena setelah itu saya perhatikan mereka kembali berdamai. Si cewek sudah berhenti nangis (tapi masih belum makan pecel lelenya) dan si cowok sudah tidak marah-marah lagi. Entah kenapa saya juga ikut merasa senang. Kemudian dari jauh saya dengar pengamen lain bernyanyi lagu Biarlah dari Killing Me Imsyak (eh Inside) dan berjalan ke arah tukang pecel lele tempat saya makan. Karena uang receh sudah tidak ada saya memutuskan untuk pergi secepatnya dari tempat itu. Meninggalkan Benny dan Haris yang masih makan, juga meninggalkan sepasang kekasih yang bertengkar di tukang pecel lele.
Jalanan Jakarta masih macet, tapi kali ini tidak terasa menyebalkan. Mungkin saya merasa sedikit terhibur oleh drama yang tadi saya saksikan di tukang pecel lele. Terima kasih kalau begitu, untuk kalian heyyy sepasang kekasih yang bertengkar di tukang pecel lele !
Kampung Melayu, 17 September 2013
Oleh : Ricky Pradita Rikardi, Amk
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar