Rabu, 19 Maret 2014

Kembang Api Untuk Dherisa Dan Alasan Kenapa Sebuah Taksi Dibakar Massa

-Nikholai Crutski-

“Dheee, tungguin gue dong?” seorang laki-laki tampak berjalan tergopoh-gopoh. Berusaha mengimbangi langkah seorang gadis yang berjalan dengan cepat di depannya. Gadis itu menoleh sejenak. Beberapa helai rambutnya bergoyang tertiup angin malam Tahun Baru.

“Lu lelet sih” protes gadis itu

“Buru-buru amat. Ada apaan sih?”

“Gue mau liat kembang api. Ntar kita telat kalo lu jalannya lelet kayak gitu” mukanya tampak cemberut. Laki-laki itu hanya bisa nyengir kuda.

“Lu sendiri kan tahu disini rame banget. Gue susah jalan cepet-cepet” laki-laki itu memulai pembicaraan setelah mereka kembali berjalan. Sesekali matanya memperhatikan keadaan di sekitarnya yang sudah berubah menjadi keramaian seperti di sebuah karnaval. Sebenarnya mereka sedang berjalan di sebuah jalan protokol di ibukota. Hanya karena malam ini adalah malam Tahun Baru jalanan itu diubah menjadi sebuah karnaval untuk menyambut pergantian tahun.

Mereka sudah berjalan selama lebih dari 30 menit menuju panggung utama acara malam itu. Keringat mulai bercucuran membasahi kaos putih yang dipakai oleh laki-laki itu. Namanya Deden.

Sementara gadis yang berjalan bersamanya sedari tadi masih terlihat bersemangat. Ajakannya untuk melihat kembang api di malam pergantian tahun membuat Deden tak kuasa untuk menolaknya. Dia adalah teman dekat Deden sejak SMP. Meskipun sempat berpisah ketika mereka mulai memasuki bangku perkuliahan tetapi pertemanan diantara mereka tetap lekat. Namanya Dherisa.

Sesekali Deden yang tertinggal beberapa langkah dibelakangnya memperhatikan rambut gadis itu yang berayun-ayun. Malam ini rambut panjang gadis itu diikat ke belakang, tidak dibiarkan tergerai seperti biasanya. Deden selalu menikmati keceriaan yang gadis itu bawa.

Sejak kapan? Tanyanya dalam hati. Entah sejak kapan kecerian gadis itu berhasil membuat Deden ikut ceria. Termasuk malam ini. Meskipun pada awalnya Deden menolak ajakan gadis itu untuk melihat kembang api tapi pada akhirnya Deden tetap luluh juga mendengar rengekannya yang seperti anak TK.

***

“Apa hal yang lu suka di dunia ini?”

“Senja. Mungkin”

“Kenapa?”

“Entahlah. Buat gue senja dimana pun selalu terlihat indah. Oh iya gue nemu sebuah kertas berisi puisi di tong sampah.”

“ oh ya? Puisi apa?”

“gue bacain ya?”

“oke”

Ada yang mengejar cintanya hingga ke Karawang 
Ada yang bertemu calon mertuanya di pesantren 
Tapi aku hanya terdiam disini, 
Karena pelukmu terlalu erat untuk kulepas 

Ada yang menangisi cintanya di tengah derai hujan 
Atau hanya diam saja dan terjebak di masa lalu 
Tapi aku hanya tersenyum disini, 
Melihat mimpiku yang indah di masa depan 

Ada gadis yang bosan dengan tanaman dan wewangian hutan 
Meski aku senang mendengarnya bercerita tentang kupu-kupu dan belalang 

Mereka bilang itu pengorbanan, 
Atau hanya demi lubang di selangkangan? 

Mereka hanya tidak paham 
Mereka hanya akan kehilangan 

Jadi jangan salahkan hujan yang sudah terjatuh 
Jangan salahkan malam yang sudah menjauh 
Marilah duduk disini, kawan. . 
Menyaksikan senja berlabuh di atas sana 
Bersama kawanan burung yang terbang ke utara 

Mari duduk bersamaku, kawan. . 
Mendengar celoteh manis cangkir kopi 
Yang berbincang mesra dengan asap rokok yang kita bakar 

Kita yang tidak pernah peduli Tidak akan pernah merasa tersakiti. . 

“Itu puisi lu sendiri kali?”

“Hahaha. Bukan. Sumpah deh gue nemu di tong sampah”

“Terus puisi siapa?”

“Gak tau. Gak ada nama penulisnya”

“Judulnya apa, Den?”

“Mereka Yang Kupanggil Teman”

Itu perbincangan yang terjadi beberapa tahun silam. Di loteng rumah Deden. Gadis itu memang suka bermain di rumah Deden. Katanya malas kalau bermain ke rumah pacarnya, “ngajakin mesum mulu”. Deden hanya tertawa menanggapinya. Dan ya, perbincangan itu terjadi ketika senja mulai turun.

Deden mengingat-ngingat kembali percakapan diantara mereka, sambil sesekali tubuh gemuknya harus berdesak-desakan dengan kerumunan orang yang juga datang ke acara di malam tahun baru itu. Sekali lagi dirinya tertinggal jauh di belakang. Gadis itu terlalu bersemangat. Tubuh mungilnya juga membantunya untuk bisa menyusup kesana kemari melewati kerumunan orang. Deden tidak berambisi untuk mengejarnya lagi. Biar saja, nanti dia juga pasti nungguin. Kata Deden dalam hati

“Lu sendiri, apa hal di dunia ini yang lu suka?”

“Gue? Banyak sih yang gue suka. Payung, hujan, es krim, balon. Apa lagi ya? Oh iya kembang api!”

“kayak anak kecil. Pantesan lu diselingkuhin terus. Hahaha”

“ah kampreet! daripada lu jomblo terus. Jangan-jangan lu gak suka cewek ya?”

“ihh kagak laah! Belum ada aja cewek yang gue suka.”

“Bilang aja gak laku. Hahaha”

“gak percayaan lu. Dulu gue pernah suka sama cewek”

“Oh ya? Siapa?”

“Namanya Senja”

“ah boong banget si kampret”

“Gue serius, Tot. Namanya emang Senja”

“Nama yang cantik. Terus?”

“gue suka. Tapi gue gak berani ngomong”

“Hahaha. Payah lu ah.”

“Waktu itu gue masih culun sih.”

“Terus? Terus?” “Ya terus dia gak pernah tau kalo gue suka”

“Cemen. Cemen. Malu ah gue teman sama lu. Hahaha”

“Masalahnya sebelum gue sempat bilang dia keburu gak ada”

“Maksudnya?”

“Dia bunuh diri”

Percakapan di loteng itu terhenti beberapa detik. Senja sudah selesai melaksanakan tugasnya. Kini dia berubah menjadi malam. Sebuah awal dari geliat aktivitas yang baru.

“Lu tau kenapa gue suka kembang api?”

“Gak.”

“Waktu kecil gue takut banget sama gelap. Jadi kalo malem-malem listrik mati gue pasti nangis. Terus buat ngehibur gue, bokap suka nyalain kembang api. Dari situ gue mulai suka kembang api”

“Lucu juga ya?”

“Sedih tau”

“Ko sedih?”

“Karena kembang api ngingetin gue sama bokap”

“Ohh. Lu gak pernah cerita tentang bokap lu?”

“Gue suka sedih sih kalo ngomongin bokap. Lu suka sedih gak kalo mikirin Senja?”

“Sedih sih”

“Gue juga sama, sedih. Bokap gue mati bunuh diri”

Deden tidak ingat lagi apa yang mereka perbincangkan lagi setelah itu. Mungkin mereka hanya saling diam. Memikirkan kesedihan mereka masing-masing. Atau mungkin waktu yang terlalu lama membuat ingatan Deden tumpul? Entahlah.

***

Deden akhirnya bisa mengejar langkah gadis itu. Nafasnya sedikit tersengal-sengal. Gadis itu hanya bersedekap melihat Deden.

“Payah lu. Segitu doang udah ngos-ngosan”

“Panas tau! Banyak orang lagi”

“Kayaknya kita gak bisa lebih deket lagi ke panggung nih. Padet banget”

“Ya udahlah, disini aja. Cape juga gue ngejer-ngejer lu terus”

“Pantes lu gendut terus. Jalan segini aja udah ngos-ngosan. Padahal jalan kaki kan efektif buat ngebakar lemak”

“ah diem lu ah. Sekarang mana kembang apinya?”

“Ya bentar lah. Baru juga jam berapa?”

Suasana bertambah semakin ramai dan padat. Kerumunan orang tumpah ruah dan menyesaki jalanan tersebut. Beberapa menit lagi sebelum pergantian tahun. Sesekali kembang api kecil terlontar dan menyala di udara. Deden dan gadis itu masih menunggu kembang api yang lebih besar dan lebih banyak. Ketika detik-detik pergantian tahun sudah mulai menghitung mundur suara terompet mulai terdengar semakin ramai dan memekakkan telinga. Tetapi tidak ada kembang api lagi di malam itu.

“Mana kembang apinya?”

“gue juga gak tau”

“Lu kata siapa sih bakalan ada kembang api disini?”

“Gue baca di berita”

“mana? Gak ada? Udah masuk tahun 2014 nih”

Gadis itu hanya bisa terdiam. Raut mukanya penuh dengan kekecewaan. Ternyata tidak ada kembang api raksasa yang mewarnai ibukota di malam tahun baru ini.

“kita pulang aja lah” kata gadis itu sambil menyeret tangan Deden.

“eh jangan nangis dong lu?”

“gak. Cuma males aja gue. Kita pulang aja deh”

“iyee iyee. Tapi ini tangan gue jangan ditarik-tarik gitu”

***

Deden hanya termenung menyaksikan deretan angka di argo taksi yang terus berjalan. Sementara Dherisa tampaknya masih sedih karena pesta kembang api yang diharapkannya batal. Tatapan matanya diarahkan ke jalanan, menyaksikan deretan lampu-lampu kota yang semarak. Setelah tahu bahwa pesta kembang api itu batal Dherisa langsung mengajak Deden pulang. Mereka kost di 2 tempat yang berbeda dan berjauhan sehingga terpaksa Deden mengantar Dherisa terlebih dahulu.

“Lu tahu kenapa sampe sekarang gue gak punya pacar?” Deden mencoba memecahkan kebisuan diantara mereka.

“Karena lu gay?”

“Anjriit. Bukan itu, Tot!”

Dherisa terlihat nyengir. Meskipun tidak sampai terbahak seperti biasanya.

“Terus kenapa?”

“Itu karena...” suara Deden berubah menjadi lirih.

“Di gang depan yang ada foto calegnya belok kiri ya, Pak?“ tiba-tiba Dherisa berkata kepada supir taksi. Taksi pun berbelok ke kiri. Tepat diujung gang taksi itu berhenti. Sama seperti omongan Deden.

“Eh, kenapa kenapa lu gak punya pacar?” Dherisa kembali teringat pada perbincangan mereka sebelumnya.

“Gak jadi deh, udah sampe nih”

“Oh ya udah”

Mereka berdua turun dari taksi. Deden mengantar Dherisa hingga ke depan gerbang pondokan kostnya.

“Eh sori udah ngajakin lu nih. Taunya sih kembang apinya gak ada”

“Udah lah gak apa-apa. Itung-itung tadi gue olahraga. Ngempesini ini nih” kata Deden sambil mengusap-ngusap perutnya yang buncit.

“Hahahaha. Gilaa ih perut lu”

“Seksi, Tot”

“Emak lu seksi!”

“Hahahaha”

“Udah ya gue masuk dulu. Lu mau mampir dulu?”

“Apaan udah malem gini. Gue juga udah ngantuk”

“Oke deh. Makasih ya?”

Dherisa membuka gembok yang mengunci pintu gerbang kosannya. Dilambaikan tangannya ke arah Deden. Rambutnya yang dikuncir masih bergerak kesana kemari ketika Dherisa berbalik dan meninggalkan Deden. Pemandangan itu selalu terekam kuat di dalam ingatannya. Deden pun kemudian berbalik dan memasuki taksi yang sedari tadi menunggunya. Tubuhnya yang subur dihempaskan begitu saja ke atas jok taksi. Dan perlahan taksi itu pun mulai berjalan meninggalkan pondok kost Dherisa.

“lu tahu kenapa sampe sekarang gue gak punya pacar? Itu karena sebenarnya gue sayang sama lu” Deden bergumam. Sayang sekali, gumaman Deden tidak bisa didengar oleh Dherisa tetapi malah didengar oleh supir taksi sehingga sang supir menjadi kaget kemudian hilang kendali lalu taksi itu pun menabrak gerobak pemulung yang ada di pinggir jalan.

Esoknya peristiwa itu menjadi sebuah headline utama di koran kriminal ibukota, “Sebuah Taksi Dibakar Massa Karena Menabrak Gerobak Milik Pemulung”. Ah ternyata kembang api itu tidak terjadi tepat di malam pergantian tahun, tetapi beberapa jam setelah pergantian tahun. Dan justru terjadi di taksi yang ditumpangi oleh Deden.

Mesteer Cornelis, 17 Maret 2014

0 komentar:

Posting Komentar