Selasa, 21 Januari 2014
Kemarin
Bersyukurlah pada yang maha kuasa
hargailah orang-orang yang menyayangimu dan selalu ada setia disisimu...
‘Klik’ terdengar suara Adit mematikan MP3 yang sedang memutar lagu Sang Pemimpi dari Gigi.
“Kenapa dimatiin sih Dit? Lagi asik juga”
“Mau diberesin Ton. Mau dimasukin ke koper”
“Emang bapak kamu sudah nyampe mana, Dit?”
“Masih jauh sih, tapi mau diberesin aja”
Hari ini hari Sabtu, hari terakhir kami kost di Cirebon. Tidak terasa sudah tiga tahun kami kost di kostan Pak Camit, padahal rasanya baru kemarin kami diospek. Adit mulai memasukkan sound sistem mini miliknya ke dalam koper. Adit adalah teman kost saya selama tiga tahun. Perawakannya yang gagah membuat tidak terhitung jumlah wanita yang dekat dengannya.
“Good day datang...” terdengar suara Derry memasuki pintu ruang tamu kostan kami.
Kostan kami bisa dibilang unik, di dalamnya ada dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur dan satu kamar mandi. Penghuninya hanya kami bertiga. Saya satu kamar sama Derry, sementara Adit sendirian. Seperti rumah sendiri, walau kadang kita suka numpang mandi di rumah bapak kost yang terletak berdampingan dengan kostan kami.
“Makasih banyak, Derr” ucap Adit sambil mulai meminum Good Day Capucinno kesukaannya.
“Iya Derr makasih banyak, saya hutang Budi nih jadinya, nanti saya bayar Budi yah, Derr?”
“Iya Ton, ambil aja Budinya buat kamu. Hahaha” ucap Derry diiringi tawa kami bertiga.
Derry adalah teman kost saya juga selama tiga tahun ini, Dia orangnya paling alim, pintar, lucu dan imut. Tak heran jika dia kemudian terpilih menjadi duta kampus. Sementara saya, tidak ada hal yang istimewa yang harus diceritakan mengenai diri saya. Satu-satunya yang ingin saya ceritakan adalah musibah di akhir tahun tingkat satu yang membuat saya terpilih menjadi Wapres BEM. Membuat saya akhirnya berkecimpung di dunia organisasi selama setahun penuh.
“Dit, kamu jadi hari Senin diwawancara di RS Islam Bandung?” tanya saya kepada Adit.
“Jadi Ton, doain yah” jawab Adit.
“Bener kata kamu, Ton. Tuhan itu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Jadi sekarang Adit memang lagi butuh kerohanian, buktinya dia di panggil di RS Islam. Hahahaha” cetus Derry. Temen saya yang satu ini memang pandai bercanda. Waktu dia ikut seleksi duta kampus, saya sarankan dia untuk stand up komedi, tetapi dia lebih memilih puisi. Bukan pilihan yang buruk, karena berkat puisi Prajurit Jaga Malam karya Chairil Anwar itulah dia terpilih jadi duta kampus.
“Derr, ini ada bakpia. Tadi malam si bapak habis dari Surabaya. Dia bawa bakpia. Nih buat kalian” tiba-tiba kata ibu kost muncul dari pintu masuk dan berkata kepada Derry yang berada paling dekat dengan pintu.
Heran juga, sejak kapan makanan khas Surabaya jadi bakpia. Bukannya itu khas Semarang yah? Kalo Surabaya kan rujak cingur. Tapi tak usah dipikirkan, kita lanjut ke cerita.
“Ayo makan, Ton, jangan jaim gitu. Enak bakpianya.” kata Derry sambil makan bakpia.
“Nanti Derr. Saya agak trauma liat bakpia”
“Trauma kenapa, Ton?” tanya Adit.
“Jadi begini ceritanya. Dulu pas Ospek, kita kan di suruh bawa hal yang aneh-aneh tuh, misalnya permen Napoleon Bonaparte, kripik Samudera Pasai, dan masih banyak lagi. Waktu itu kan kita di suruh bawa kakak cantik. Kelompok kita kepikirannya Mbak Via di plesetin jadi bakpia. Mbak berarti kakak perempuan sementara Via itu nama yang manis. Malam-malam saya pergi ke Terminal Cirebon nyari bakpia. Untung Cirebon berada di jalur Pantura. Saya dapet bakpia dari dalam bus. Besoknya ternyata kelompok kita salah. Yang senior maksud dari kakak cantik itu teh manis. Teh berasal dari kata teteh yang dalam bahasa Sunda berati kakak perempuan dan manis ya manis. Hasilnya yang lain minum teh manis sementara kelompok kita cuma bisa gigit Mbak Via. Sialun!”
“Hahahaha. Kelompok kamu kejauhan mikirnya, Ton. Terlalu jenius. Hahahaha.” Cerita saya membuat Adit tertawa terbahak-bahak.
“Saya juga punya cerita nih” kata Derry. Temen saya yang satu ini memang paling tidak bisa terima kalau ada yang lebih lucu darinya.
“Jadi gini, kamu sekelompok sama Ewi kan, Ton?” Derry mulai bercerita.
“Iya, Derr” jawab saya.
“Jadi begini ceritanya. Senja kala waktu itu. Para peserta Ospek bersiap salat Magrib. Saya paling terakhir ngambil peralatan salat” cerita Derry sempat kepotong karena dia harus ngomong sambil makan bakpia.
“Pas saya keluar dari ruangan, saya lihat Ewi jatuh, kakinya terperosok ke selokan. Waktu itu saya lihat Ewi tersenyum, saya juga berpikir Ewi tersenyum menahan malu karena jatuh. Saya cuma membalas dia dengan senyuman dan bergegas meninggalkan dia. Tak berapa lama kemudian saya lihat Ewi dibopong sama beberapa orang, tangannya menutupi wajahnya yang berurai air mata. Ternyata yang saya lihat tadi tuh si Ewi lagi nangis. Saya jadi merasa berdosa pada Ewi.”
“Hahahahaha..” Adit tak henti-hentinya tertawa mendengar cerita Derry.
“Kamu harus tanggung jawab Derr, nikahi Ewi. Hahahaha” ucap saya sambil tertawa juga.
“Dit, bapak kamu masih lama?” tanya Derry.
Kebetulan kita bertiga sama-sama orang Majalengka. Pindahan dari Cirebon ke Majalengka kali ini saya dan Derry nebeng ke bapaknya Adit.
“Bentar lagi juga nyampe, Derr.” jawab Adit.
“Saya juga punya cerita tentang anggota kelompok kamu, Ton.” lanjut Adit.
“Cerita apa, Dit? Cerita tergoda kakak ipar tah? Hahahaha”
“Bukan Ton. Ini cerita tentang Suwenda, ketua kelompok kamu tapi bukan pas Ospek” jawab Adit.
“Waktu itu saya main ke rumah Suwenda. Tau sendiri kan kalo Wenda jualan martabak.” Adit memulai cerita.
“Martabak Solok Jaya kan, Dit? Yang kata Haris solok dubur. Hahahaha”
“Iya Ton, dasar si Haris tuh omongannya jorok, kalo itu colok dubur bukan solok.” Adit kembali bercerita
“Pas saya pulang, saya di kasih martabak sama Suwenda, saya taruh aja di jok motor, mau saya cantolin ribet, soalnya saya mau ngebut. Beberapa hari berlalu, waktu itu saya mau pergi sama Suwenda. Di perjalanan bensin habis. Saya ngisi bensin dulu di pom bensin By Pass. Pas saya buka jok motor matic saya, martabaknya masih ada dan sudah penuh dengan sarang laba-laba. Sialan, saya malu sama Suwenda. Sepetinya dia marah sama saya. Besok-besoknya dia diemin saya.”
“Hahahahaha. Harusnya kamu makan saat itu juga Dit, kan gak enak sama Suwendanya. Hahahaha” kali ini saya yang tidak bisa berhenti tertawa.
“Saya bener-bener lupa, Ton.”
“Saya juga punya cerita nih.” Sepeti biasa, Derry tak mau kalah kalau soal cerita lucu.
“Nanti lagi Derr ceritanya, bapak saya udah nunggu di depan gang.” Belum sempat Derry bercerita Adit sudah memotong.
“Ayo kita angkut barang-barang kita.” Saya mengajak mereka untuk mulai mengangkut barang-barang. Tidak lupa gelas bekas Good Day kita kembalikan ke warung depan kostan.
Setelah berpamitan kepada bapak dan ibu kost, kita pergi meninggalkan kostan yang sudah tiga tahun ditempati. Di dalam mobil, tidak banyak yang kita obrolin. Canggung juga kalau harus ketawa ketiwi di dekat bapak Adit. Sepi dan sunyi jadinya. Di tengah kesunyian saya terlena dalam lamunan. Sedih juga harus berpisah dengan mereka. Semuanya terasa baru kemarin. Rasanya baru kemarin saya bertemu Adit dengan gaya rambut merahnya, sempat berpikir dia itu preman. Rasanya baru kemarin saya dan Derry muter-muter cari kostan. Sekarang kami berpisah. Kami tidak akan makan bareng lagi, mandi bareng, saya mandi di kostan, Adit dan Derry di rumah ibu kost, berangkat kuliah bareng, kalau pulang kuliah sih gak bareng, Adit suka pacaran dulu kalau pulang kuliah, kalau Derry suka menghabiskan banyak waktu di perpustakaan, dan saya harus memimpin rapat untuk kegiatan organisasi yang saya ikuti. Masih banyak lagi kegiatan bareng lainnya, dan tidak mungkin untuk dituliskan disini. Air mata ini mulai menetes. Ahh sial, kenapa saya harus kelilipan. Apa yang membuat saya kelilipan di dalam mobil yang tertutup ini? Entahlah..
Siapapun jangan pernah kau sakiti
Dalam pencarian jati diri dan teman yang kau impikan Kejarlah sang...
‘
klik’ baru sebentar Adit menyalakan mp3, dia sudah memindahkan lagu.
Aku tak mau bicara sebelum kau cerita semua
Apa maumu? Siapa dirinya? Tak betah bila ada yang lain...
Ah ternyata lagu Wali yang sering kita dendangkan.
---Antonio Nur-Cullun---
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar