Senin, 18 November 2013
Gadis Yang Mirip Nikita Mirzani Yang Aku Lihat di Circle-K Siang Ini
Agak menyebalkan sebenarnya siang-siang di hari libur seperti ini harus pergi keluar dan menghadapi cuaca Jakarta. Sambutannya akan tetap selalu sama, panas yang terik dan macet yang brengsek. Tapi suara ibunda pertiwi diseberang telepon sana pada akhirnya mau tak mau membuatku harus beranjak meninggalkan kasur yang di hari libur seperti ini gaya gravitasinya seolah meningkat hingga 10x lipat.
“bilangin sama Bi Nining Ibu gak bias datang, ada pemilihan kuwu” suara ibunda pertiwi kembali mengingatkan dari ujung telepon sana, sesaat setelah aku selesai mandi.
Dengan pakaian yang kurasa cukup sopan untuk menghadiri sebuah resepsi pernikahan, aku melangkahkan kaki meninggalkan kamar kostan dengan enggan.
Dugaanku tepat. Jakarta siang itu menyambutku dengan suasana yang sama, macet dan panas. Yang kemudian malah menuntunku masuk ke sebuah Circle K yang berada tidak jauh dari situ.
Aku mengambil sebuah kopi kaleng dingin dan sebungkus Camel Light diantara jejeran rokok. Sengaja aku memilih rokok itu. Aku pernah membaca kalau Kurt Cobain sempat menghabiskan 3 batang Camel Light sebelum meledakkan kepalanya sendiri menggunakan senapan Remington*. Hanya sebatas ingin tahu sensasinya, karena aku tidak berniat bunuh diri siang itu.
Lagipula pada dasarnya aku menyukai semua jenis rokok, dari kretek hingga rokok putih atau “kolobot” sekalipun. Aku tidak mempunyai jenis atau merk rokok favorit, karena itu aku sering gonta-ganti rokok. Itu mungkin bisa menjelaskan apa yang tertulis di buku “Perempuan Bicara Kretek”, bahwa seorang lelaki bisa ditebak dari rokok yang dipilihnya dan caranya menghisap rokok. Hal itu sesuai dengan sifatku yang tidak mempunyai tipe cewek tertentu. Aku pernah berpacaran dengan siswi paling pintar di sekolah, atlet tim bola basket,anggota geng motor, sampai cewek berhijab. Aku tidak mempunyai tipe-tipe cewek tertentu.
Aku duduk di kursi yang membelakangi jalan raya yang sedang macet siang itu. Kopi dingin segera kuteguk dan kurasakan kesegarannya membasahi kerongkonganku. Aku tidak segera berangkat ke Bekasi dan memilih untuk bersantai sejenak. Sembari menikmati kopi pertamaku hari itu aku mengeluarkan buku “Potongan Cerita di Kartu Pos”, kumpulan cerpen karya Agus Noor, yang kemarin aku beli disebuah obral buku. Aku baru sampai pada cerpen “Potongan Cerita di Kartu Pos” dari beberapa judul cerpen yang termuat di buku itu.
Secara tidak sengaja pandanganku beradu dengan pandangan seorang gadis yang duduk beberapa meter di depanku. Dia duduk bersama seorang gadis lain dan seorang lelaki. Bentuk alis dan matanya mengingatkanku pada Nikita Mirzani, tentu saja dengan ukuran payudara yang lebih kecil. Mirip sekali. Apalagi dengan rambut panjangnya yang dia kuncir ke belakang. Tidak terlalu cantik memang, tapi enak dilihat.
Meskipun adu-pandangan mata itu terjadi secara tidak sengaja tapi aku bias memastikan kalau dia memang sengaja melihatku. Bukan, bukan karena aku terlalu kegeeran, tapi naluriku untuk hal-hal seperti ini sudah terlatih dengan baik. Aku bisa membedakan mana tatapan mata yang secara tidak sengaja melihat dan mana tatapan mata yang memang sengaja memperhatikan. Dan naluriku ini tidak pernah meleset.
Mata itu jendela hati. Aku setuju dengan pepatah itu. Bahkan temanku, Dherisa Fauziah, bisa menebak watak seseorang hanya dengan melihat tatapan matanya. Tingkat keakuratannya mungkin bisa mencapai 90% . Bukan isapan jempol belaka, aku pernah menyuruhnya menganalisa watak beberapa teman dekatku (termasuk aku sendiri) dan hasilnya tidak meleset terlalu jauh. Meskipun aku tidak mempunyai kemampuan khusus seperti yang dimiliki oleh Dherisa Fauziah, tapi aku bisa membedakan dengan jelas mana tatapan mata yang tidak sengaja memperhatikan dan mana yang sengaja memperhatikan. Seperti yang aku katakana sebelumnya.
Dan aku yakin tatapan mata si gadis yang mirip Nikita Mirzani itu memang sengaja memperhatikanku. Arti dari tatapan matanya itu hanya ada 2, yaitu “aku menyukaimu” atau “heeey ajak aku kenalan dong”
Sekali lagi, aku bukan merasa kegeeran. Tapi insting ini sudah aku latih berkali-kali dan hasilnya selalu tepat. Karena itu aku tidak pernah sekalipun ditolak oleh cewek, karena aku bisa mengetahui apakah dia menyukaiku atau tidak dari tatapan matanya. Contohnya, aku tahu kalau Ayu menyukaiku saat pertama kali tatapan mata kita bertemu. Hal itu terbukti ketika 3 hari kemudian kita jadian. Pun begitu kasusnya dengan Eno, salah satu pasien yang aku lihat di meja operasi. Aku bisa tahu dia menyukaiku dari tatapan matanya. Hal itu kembali dibuktikan ketika kita bertemu kembali lalu malam harinya sudah saling berciuman dengan panas di ruang perawatan.
Aku tahu si gadis mirip Nikita Mirzani itu menyukaiku. Atau paling tidak dia hanya sedang menungguku untuk menghampiri mejanya dan mengajak berkenalan.
Sebenarnya dengan sangat mudah aku bisa saja menghampirinya dan mengajaknya berkenalan. Tapi hal itu tidak aku lakukan. Selain karena aku terlanjur asyik membaca cerpen “Potongan Cerita di Kartu Pos” juga karena aku selalu suka bermain-main dengan takdir.
Maksudnya seperti ini, ada beberapa orang yang selama umur hidup kita di dunia hanya ditakdirkan untuk bertemu satu kali. Tapi terkadang takdir suka berkata lain. Bisa saja, secara tidak sengaja kadang kita akan dipertemukan kembali dengan orang itu di waktu dan tempat yang tidak kita duga. Eno, gadis yang sempat aku ceritakan diatas, adalah salah satu contohnya. Setelah bertemu dengannya di meja operasi tanpa sempat berkenalan atau meminta nomor handphonenya, aku segera melupakannya dan tidak berharap akan bertemu kembali. Tapi ternyata kita malah dipertemukan kembali ketika aku sedang memakai sepatu di beranda sebuah mesjid.
Aku senang sekali bermain-main dengan takdir seperti itu. Maka aku urungkan niat untuk menghampiri meja si gadis yang mirip Nikita Mirzani tersebut dan mengajaknya berkenalan. Aku lebih memilih untuk menikmati kopi dingin, cerpen karya Agus Noor dan beberapa batang rokok Camel Light. Sambil sesekali bergumam, “oooh begini toh mungkin rasanya menjadi Kurt Cobain sebelum bunuh diri”.
Sampai pada akhirnya si gadis yang mirip Nikita Mirzani tersebut memutuskan untuk pergi meninggalkan mejanya, sementara aku masih setia duduk di kursi yang sama. Aku memperhatikannya berjalan menuju tempat dimana sepeda motornya diparkir. Dan tepat sekali, dia sempat melirik ke arahku sebentar.
Aku kembali melanjutkan membaca cerpen “Potongan Cerita di Kartu Pos” dan tenggelam didalamnya. Cerpen yang bagus. Terbagi dalam beberapa potongancerita seperti sebuah puzzle, yang sampai selesai aku membaca ceritanya tetap tidak menunjukkan siapa pelaku pembunuhan terhadap Girindra yang sebenarnya. Apakah Sutan, Rintan atau bahkan mungkin Frida?**. Agus Noor lebih memilih untuk menggantungkan akhir ceritanya disitu, tanpa memberi jawaban kepada para pembacanya.
Seperti itu pula mungkin aku menggantungkan akhir pertemuanku dengan gadis yang mirip Nikita Mirzani itu. Apakah suatu hari nanti aku akan kembali bertemu dengannya atau mungkin dia juga hanya akan menjadi salah satu bagian dari golongan orang-orang yang hanya aku temui sekali seumur hidup? Entahlah, karena kau pun segera beranjak meninggalkan tempat itu. Teringat pesan ibunda yang mengutusku untuk menghadiri resepsi pernikahan sepupu di Bekasi.
Kampung Melayu, 29 September 2013
Nikholai Crutski
Catatan :
*baca biografi Kurt Cobain, “Heavier Than Heaven” tulisan Charles R. Cross
** baca cerpen “Potongan Cerita di Kartu Pos” karya Agus Noor
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar