Kamis, 10 Oktober 2013

Aksi Panas Rani Di Rumah Sakit


“Him kamar 3 bed 8 besok pulang yaa? Jangan lupa direturn sisa cairan infus beserta obatnya” perintah seorang ketua tim (Katim) kepada saya. Sore itu saya dines siang untuk hari ketiga. Dengan formasi seperti biasanya, dines ber-7, dua orang suster menjadi ketua tim dan 5 orang lainnya menjadi perawat pelaksana (jongos nurse).

Saya dines di ruangan infeksi, sebut saja ruang “manggis”. Ruangan ini terdiri dari 5 kamar. 3 kamar untuk pasien pria dan 2 kamar untuk pasien wanita. Satu kamar terdiri dari 10 bed untuk kapasitas 10 pasien. Kami dines ber-7 merawat 50 pasien dengan segala penyakit dan karakter pasien yang unik-unik. Di ruangan, kami menerapkan sistem keperawatan dengan metode penugasan tim. Kalau kata dosen manajemen keperawatan sih metode penugasan tim adalah suatu pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok perawat yang dipimpin oleh seorang ketua tim.

Pembagian tugas dalam kelompok dilakukan oleh Katim. Selain itu, Katim juga bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota timnya sebelum bertugas, menerima laporan kemajuan pelayanan askep, serta membantu anggota tim apabila mengalami kesulitan. Selanjutnya Katim melaporkan kepada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan askep (aduuuh pusing coh nulise = salah satu mata kuliah yang gak lulus).

Kemudian saya berjalan menuju kamar 3 bed 8, kamar pasien saya yang rencananya pulang besok. Sebut saja “Rani”. Sebelumnya saya pernah mendengar cerita dari salah satu bruder di ruangan kami yang bernama Ali, kata beliau pasien kamar 3 bed 8 itu bohay, sekseh, demplon, kalau pake baju transparan atas bawah (pake gaya mesumnya). Saya masuk ke kamar 3 bed 8 untuk mengambil sisa cairan infus. Saya buka gorden kamar Rani tanpa permisi. Ya Tuhaaaaan saya melihat ekspresi “njelehi” plus “nggilani” seorang wanita yang bernama Rani (ekspresi melek-merem-mati-urip-bli-jelas). Itu “TOKET” (jare batur ane) Rani yang berukuran 36B yang lagi ranum-ranumnya sedang di “breastcare” (di remas remas) sama seorang pria. Mereka berdua sedang asik bermesum ria. Saya langsung shock seketika! Bingung harus ngapain?!! Yaaa Tuhaaaaan jagalah mata ini Tuhaaaaan!!! Istighfar naaak 1000x (sementara mata masih melotot).

Cring cring cring dan sayapun tersadar..

“ehmmm,, maaf Mbak, saya mau mengambil sisa cairan infus buat di return”

“oooh silakan Sus. Ambil aja.. “

Mbak Rani tampak santai saja seakan-akan tidak terjadi sesuatu apapun, sedangkan sang pria tampak terkaget-kaget melihat saya masuk. Seketika kedua tangannya langsung melepaskan remasan “breastcare”nya, dan menurunkan kaos transparan Rani yang terbuka keatas tanpa sehelai BH pun. Lalu saya ambil 3 cairan RL dan 2 cairan D5% dari atas mejanya. Saya berjalan sambil memalingkan wajah. Berjalan tanpa arah dan tujuan. Galauuu… Apakah yang baru saya lihat Tuhan??? Dosakah hambamu ini?? Ampunilah dosa hamba Tuhaann.

Kemudian saya melaporkan apa yang saya lihat tadi kepada ketua tim saya. Namanya Abah Resi.

“Bah, ane mau cerita”

“cerita apa him?”

“begini bah,,, blablablablabla”

“apaaaaaaa !!?? Siapa Him siapa? Masih bli, Him? Ah ane mau lihat Him.. “

Abah Resi langsung berlari ke kamar 3. Sayangnya beliau kurang beruntung. Tampak raut wajahnya penuh kekecewaan.

“ah ente sih nggak dari tadi Him kasih tau nya... heuuuh... waah tapi nggak bener nih Him sana kasih tau suruh jangan diulangin lagi, bilangin ini rumah sakit bukan tempat mesum gitu..” kata Abah Resi masih dengan muka yang penuh kekecewaan.

Setelah itu saya mengobrol enam mata bersama mereka.

“Maap, Mbak.. Umur mba berapa ya? Masih kuliah atatu sudah bekerja?” kata saya berbasa-basi-busuk sambil menyuntikan 1 spuit ondancentron.

“Saya masih 20 tahun, Sus. Masih kuliah semester 2”

“K0alau Mas nya ini siapa nya Mbak Rani? Pacar ya?” #kepomodeon.

“oooh dia suami saya, Sus. Kami baru menikah bulan kemaren” kata mereka sambil saling bertatapan.

Saya sih percaya aja apa yang dikatakan Mbak Rani. Karena sejujurnya saya itu nggak pernah su’udzon pemirsah.#dankemudianmuntahberlian. hueexx.

“Maap ya, Mbak cuma mau kasih tau saja..” kata saya menjelaskan perintah yang Abah Resi berikan.

“Maap, Sus atas kejadian tadi.” sang pria langsung memotong pembicaraan saya. “tadi Mbak Rani mengeluh mual, Sus makanya saya olesin pake minyak kayu putih”

Saya hanya mendengarkan sambil mikir biasanya kalau mual tuh yang diolesin perut kok ini toket ya pemirsah?? Saya segera kembali ke nurse station setelah memberikan sedikit kultum kepada mereka berdua.

Ada sedikit keraguan dalam hati ini mendengar penjelasan sang pria, kemudian saya iseng bertanya kepada ibunya Mbak Rani yang baru datang dari rumahnya yang kebetulan menyempatkan mampir ke nurse station dengan membawa sekresek buah jeruk dan pisang sunprise. (Ooooh terimaksih bu,, nggak usah respot respot. #licik #kemudiankeluartandukiblis)

“Bu, maap suster mau nanya?”

“iya, Sus.. kenapa?”

“Mbak Rani masih kuliah? Atau sudah menikah, Bu?”

“belum, Sus. Dia kan masih kuliah, baru juga semester dua. Kenapa, Sus?”

“gak apa-apa, Bu, ini temen saya salah nulis, Bu. Beliau menulis nyonya Rani, seharusnya kan nona Rani”

Haaaassyyyuuuuu ane dikadalin sama tuh pasien!! ane sumpain tuh pasien tambah bohay sekseh demplon dan hottttzzz!!

Begitulah cerita sore saya pemirsah. Saya jadi inget lagi zaman kuliah. Dosen saya pernah berkata “kalau orang lagi sakit itu hasrat napsunya menurun jadi jangan khawatir, kalau anda memasang kateter pun Insya Allah tuh penis gak bakal ereksi”. Tapi ternyata tidak sepenuhnya benar pemirsah.

Mohon maap jikalau ada kata-kata yang kurang sopan ato fa’il fi’il maf’ul yang belum tepat ato tidak sesuai dengan EYD.. #ceritaelagiblajarannulis

By : Ohime Satsuke, A.Mk, dikosan Bu Ismail.

0 komentar:

Posting Komentar