Selasa, 22 Oktober 2013

Ini Bukanlah Pesta Ulang Tahunmu


oleh : Nikholai Crutski

Minggu yang panas di bulan April. Kemarau tampaknya masih akan berlangsung lebih lama lagi. Diluar cuaca panas menyengat, padahal matahari baru sepenggalah naik. Di kamar kosnya, Cadila tampak menimbang-nimbang sebuah durian yang tadi dibelinya. Kipas angin berputar berirama menyebarkan aroma durian ke seluruh kamar. Aromanya menyengat hidung. Cadila tidak pernah suka buah durian, meskipun konon katanya sebagian nikmat surga ada pada buah tersebut. Cadila meletakkan buah itu di atas meja dan kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur. Sesekali putaran kipas angin menerpa badannya. Dia mengingat kembali Minggu pagi yang baru saja dilewatinya.

Minggu pagi kali ini berbeda dengan Minggu-Minggu yang lainnya. Hari ini adalah ulang tahun Tini, cinta yang membuat dada Cadila terasa sesak. Meskipun selain Tini, Cadila juga mempunyai cinta yang lain. Namanya Ela. Bedanya, cinta Ela tidak sampai membuat dada Cadila terasa sesak. Cadila tahu hari ini ulang tahun Tini, hanya saja dia tidak bisa memberikan sebuah pesta ulang tahun yang romantis dan tak terlupakan untuk Tini. Tentu saja karena dia kesulitan mencuri-curi waktu luangnya dari Ela. Untungnya hari ini -dengan sedikit trik(baca bohong)- dia bisa lepas sejenak dari Ela. Diam-diam, dengan mengendarai sepeda motor Supra-X tahun 1997, dia berangkat dari rumahnya menuju tempat kosnya yang berada diluar kota.

Ditengah perjalanan, karena tahu dia tidak menyiapkan apapun untuk pesta ulang tahun Tini, secara tidak sengaja dia melihat penjual buah durian di pinggir jalan. Cadila tahu kalau Tini sangat menyukai durian. Maka dihentikanlah laju sepeda motornya di depan penjual durian tersebut. Dibelinya 1 buah durian yang dipilihkan langsung oleh penjualnya. Maka ceritanya pun berakhir seperti paragraf pertama tulisan ini.

***

Matahari sedang mengganas diatas jalanan siang itu. Cadila berusaha sekuat tenaga menahan panasnya. Menerobos jalanan dengan Supra-X kesayangannya. Tujuannya adalah rumah Tini. Dan tak ada yang bisa menahannya siang itu. Sesekali angin bertiup memberi kesejukan pada wajah Cadila, meskipun menurutnya masih kalah jauh sejuknya dari senyuman yang dibawa oleh Tini.

Cadila menghentikan laju motornya disebuah perempatan ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Diambilnya handphone dari saku celananya. Cadila mengetikan sesuatu,

"Tini, lampu merah" dan segera pesan itu melayang ke layar handphone Tini di seberang sana. "Lampu merah" sendiri adalah sebuah kode yang biasa digunakan Cadila jika hendak menjemput Tini. "Lampu merah" menandakan kalau posisi Cadila sudah mendekati koordinat rumah Tini. Itu artinya tidak lama lagi Cadila akan segera tiba.

Segera setelah lampu lalu lintas berwarna hijau Cadila membelokkan arah sepeda motornya ke kanan. Melaju beberapa ratus meter ke depan hingga dia tiba disamping sebuah gang sempit dan berhenti disana. Sekali lagi Cadila mengeluarkan handphone dari saku celananya.

"Tini, gang radiator" isi pesan Cadila kali ini. Sebenarnya gang sempit itu tidak mempunyai nama. Cadila menyebutnya gang radiator hanya karena disana terpampang sebuah papan bertuliskan "service radiator". Tapi kemudian gang radiator pun menjadi kode yang lain untuk mereka berdua.

Cadila tidak pernah tahu dimana letak rumah Tini. Meskipun dia tahu rumahnya pasti ada didalam gang sempit tersebut. Tapi Cadila tidak pernah mencari tahu, Tini melarangnya. Entah untuk alasan apa tapi Cadila tidak pernah memaksa. Baginya hal itu tidak terlalu penting.

Cadila sedang merapikan rambut keriwilnya yang tampak acak-acakan ketika secara tiba-tiba kesejukan menyergapnya. Kesejukan itu berasal dari seorang gadis berkerudung merah maroon yang berjalan dengan anggun beberapa meter dihadapannya. Itulah Tini, cinta yang membuat dada Cadila terasa sesak. Hingga untuk sementara Cadila lupa kalau di dunia ini ada wanita secantik Pevita Pearce dan sesexy Megan Fox. Bahkan Cadila juga lupa kalau dirinya pernah memilih Nabillah JKT48 sebagai oshi-nya.

Butuh beberapa detik untuk mengembalikan kesadarannya seperti semula, tepat ketika wajah bundar Tini berada di depan wajahnya. Lengkap dengan senyum khas Tini.

"Sudah lama nunggunya?"

"Gak ada kata lama saat nungguin kamu"

"Dasar buaya" tangan kecil Tini kemudian memukul bahu Cadila dan segera mendaratkan pantatnya di jok motor Supra-X keluaran tahun 1997 itu. Cadila hanya tertawa melihat adegan itu.

Dinyalakannya kembali mesin motor itu.

"Sekali-kali meluk kek kalo dibonceng tuh"

Kali ini Tini yang tergelak oleh tawa. Berdua mereka menembus panas cuaca siang itu yang semakin mengganas. Seperti cinta mereka. Hanya kali ini tangan mungil Tini melingkar di badan Cadila.

***

Kosan itu tampak lengang ditinggal pulang oleh penghuninya tiap akhir pekan. Hanya kamar Cadila yang terbuka hari itu. Ini kali pertama Tini masuk ke dalamnya. Cukup rapi. Mungkin Cadila sengaja membereskannya terlebih dahulu. Didalamnya hanya ada lemari (merangkap meja belajar) dengan beberapa buah buku berjejer rapi diatasnya, juga sebuah foto Cadila ketika memakai sorban (sekilas tidak mirip aa gym). Lalu ada sebuah kamar mandi sempit, juga sebuah kasur tanpa ranjang, dan sebuah pemutar dvd beserta stereonya. Juga beberapa tumpuk CD musik yang tergeletak begitu saja. Sementara kipas angin masih berputar berusaha mengusir panas dari dalam kamar.

Tini sedang asyik melihat-lihat kamar tersebut ketika dengan tiba-tiba Cadila berlutut di hadapannya, seperti posisi seorang pangeran yang hendak mempersunting seorang putri. Sebuah durian yang sudah terbelah berada di tangannya.

"Selamat ulang tahun, Tini. Ini memang bukan sebuah pesta ulang tahun. Tapi anggap saja durian ini adalah kue ulang tahunnya. Dan aku rela menjadi hadiah untuk ulang tahunmu"

"Ahahaha. Terima kasih, Pangeran. Tapi pestanya terlalu sepi"

Cadila segera mengambil gitar yang tergantung di dinding dekat lemari. Dengan skill setingkat Sir Dandy digenjrengnya gitar itu dengan penuh percaya diri dan mulai bernyanyi,

"Happy birthday to you.. Happy birthday to youu.. Happy birthday happy birthday happy birthday tooooooo youuuuuuuu.."

"Ohhhh stooop it!! Suaramau bagaikan koor massal sepasukan lalat”

"Ahh sialaaan. Jadi mana yang benar? Buaya atau lalat?"

"Keduanya salah. Kamu pangeran kodok"

"Ahaaa. Dan kamu si ranger biru"

"Hahahahaha" keduanya meledak dalam tawa.

"Oke. Sebagai the special one, aku kasih kamu potongan kue yang paling besar” kata Tini sambil menyodorkan 1 biji durian kepada Cadila.

"Ohhh pliiiis jangan duriaaaaan"

"Heyyy siapa bilang durian? Kamu sendiri yang bilang ini kue tart?? Ingat?"

"Ah liciiiik!"

Dengan terpaksa Cadila memakan durian itu. Tini tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan. Sementara Cadila berakhir dengan muntah-muntah di kamar mandi.

***

Rasa durian masih tersisa di lidah Cadila. Setelah puas tertawa-tawa keduanya berbaring diatas kasur, menatap langit-langit kamar itu dengan tatapan kosong. Hanya ada kesunyian yang merambat. Tidak ada yang tahu apa isi dari kepala masing-masing.

"Terima kasih pestanya" kata Tini dengan lirih. Cadila tidak menjawabnya. Dilihatnya wajah Tini yang berada disampingnya, tapi mata Tini masih menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Seperti ada sesuatu yang hendak diucapkan olehnya, namun urung diucapkan.

Cadila bangkit dari tidurnya, mengambil salah satu CD musik dari tumpukan CD yang berada disitu. Dan menyetelnya pada sebuah music player. Ada sunyi sejenak sebelum bunyi sebuah contra bass mengalun mengisi kamar itu.

"Lagu siapa?" Tanya Tini

"Payung Teduh" jawab Cadila sembari merebahkan diri kembali disamping Tini.

Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata

Ketika kita berdua

Hanya aku yang bisa bertanya

Mungkinkah kau tahu jawabnya

Suara itu seakan menggema didalam kamar. Tini tampak mendengarkannya dengan seksama. Sementara diluar matahari sudah mulai kelelahan dan berjalan ke peraduannya. Sinarnya kini berwarna jingga. Menelusup melalui celah jendela. Membuat bayangan kipas angin di kamar itu tampak semakin tinggi.

Malam jadi saksinya

Kita berdua diantara kata

Yang tak terucap

Berharap waktu membawa keberanian

Untuk datang membawa jawaban

Cadila kemudian mengenggam tangan mungil Tini. Mempermainkan jemarinya yang halus. Tini masih membisu.

"Apa doa yang kau pinta pada Tuhan di hari ulang tahunmu ini?"

"Sama seperti biasa. Kecuali satu. Spesial karena hari ini ulang tahunku"

"Apa itu?"

"Rahasia"

Ada sebuah senyum kecil tersimpul di sudut bibirnya. Cadila melihatnya jelas. Meskipun Tini berusaha menyembunyikannya.

Mungkinkah kita ada kesempatan

Ucapkan janji takkan berpisah selamanya

Waktu merambat dengan lambat. Kebisuan itu semakin mengendap di sela waktu ketika senja mulai berlabuh di kamar itu. Tini kemudian bangkit dari tidurnya. Merapikan bentuk kerudungnya yang mulai rusak. Dan duduk diatas kasur. Cadila pun menyusulnya bangkit dan duduk disampingnya. Senja sebentar lagi tiba di gerbang malam. Dari stereo Payung Teduh masih terus bernyanyi.

Aku ingin berjalan bersamamu

Dalam hujan dan malam gelap

Tapi aku tak bisa melihat matamu

Cadila mendekatkan wajahnya ke arah Tini. Mata mereka beradu untuk beberapa saat. Yang terdengar saat itu hanyalah Payung Teduh dan suara kipas angin, juga desah nafas keduanya. Sisanya hanyalah sebongkah bisu dan tanda tanya.

Tini menutup matanya. Yang terakhir dilihatnya adalah sinar matahari berwarna jingga sebelum kemudian gelap dan bibirnya mencecap substansi lain yang bukan bagian tubuhnya. Bibir Cadila. Dalam remang senja mereka berciuman. Cadila pun lupa apa yang dirasakannya. Bukan rasa durian, bukan rasa kue ulang tahun. Hanya sesak. Dadanya kembali terasa sesak. Ribuan kali lipat. Mungkinkah ini cinta? Mereka tidak pernah tahu.

Aku ingin berdua denganmu

Diantara daun gugur

Aku ingin berdua denganmu

Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Kampung Melayu, 02 September 2013

0 komentar:

Posting Komentar