Sabtu, 07 September 2013
Kenapa Saya Jadi Perawat????
Lahir sebagai bocah dibawah naungan zodiak Gemini-menurut primbon- adalah salah satu watak saya yang terkadang plin-plan dan tak punya pendirian. Saya bisa sangat baik sekali tapi 5 menit kemudian berubah menjadi sangat kejam. Saking ekstrimnya saya bahkan sempat berpikir kalau saya terkena gangguan bipolar.
Mungkin akibat sifat saya yang gampang berubah-ubah itu maka dari dulu saya gampang sekali kagum terhadap sesuatu. Karena itu sejak kecil saya tidak pernah mempunyai citacita yang pasti. Cita-cita pertama yang saya ingat waktu kecil adalah menjadi seorang astronot. Saya juga lupa kenapa waktu itu ingin menjadi seorang astronot, mungkin karena kata "astronot" yang terdengar keren untuk bocah kecil seusia saya. Tapi cita-cita saya itu tidak bertahan lama.
Memasuki masa-masa SD, karena sering diajak bermain sepakbola oleh teman-teman (+ demam piala dunia '98) mendadak saya bercita-cita ingin menjadi pemain sepakbola. Bermimpi bisa seperti David Beckham yang saat itu rambutnya masih belah tengah dan mirip personil boyband. Maka berubahlah cita-cita saya, dari luar angkasa ke lapangan bola. Cita-cita ini setidaknya bertahan cukup lama sampai saya lulus SD.
Memasuki masa SMP lagi-lagi cita-cita saya berubah. Semua terjadi karena sifat saya yang gampang terkagum-kagum itu. Semua berawal saat saya nonton film Ada Apa Dengan Cinta? Yang saat itu menampilkan Dian Sastro ketika fase kimcilnya. Gara-gara lihat si Rangga bawa-bawa buku Aku karya Sjuman Djaya (yang saat itu terlihat keren di mata saya) maka sekonyong-konyong cita-cita saya berubah lagi. Jadi sastrawan! Beuh! Mulailah saya rajin berkunjung ke perpustakaan sekolah dan mulai rajin baca, dari roman Siti Nurbaya sampai puisi-puisi Kahlil Gibran. Hal itu didukung juga oleh gelora cinta monyet saya yang waktu itu sedang menggebu-gebu. Hasilnya lumayan laah, bisa dapat pacar.
Tapi kemudian musik mengubah hampir segalanya. Ini terjadi di bangku SMA kelas 2. Saat pertama kali saya mendengar album American Idiot milik Green Day dan berteriak laiknya Archimides setelah mendengarnya, Eureka!! Rasanya inilah yang saya cari selama ini. Dari situ lah saya seolah-olah menemukan dunia baru yang penuh dengan halhal menarik. Dan tentunya mengagumkan.
Saat itu sempat terpikirkan juga untuk menjadi seorang rockstar. Tapi setelah saya pikir lebih dalam, rasanya tidak ada sekolah/universitas yang bisa mencetak seorang rockstar. Setahu saya, Billie Joe Armstrong dan Kurt Cobain D.O pas SMA. Jim Morrison sempet kuliah sih, tapi bukan jurusan musik. Akhirnya saya memutuskan kembali kepada citacita awal saya menjadi seorang sastrawan.
Semuanya mungkin akan sesuai rencana jika saja saya tidak mempunyai satu sifat menyebalkan lainnya, yaitu gampang kasihan dan tidak tegaan. Karena tidak tegaan itu maka saya pun luluh saja ketika diajak Nyonya (pacar saya waktu itu) untuk daftar ke akper. Meskipun agak enggan tapi saya ikutin semua tesnya. Orang tua saya bahkan sangat mendukung saya masuk akper. Mungkin karena mereka melihat Mantri Otong yang prakteknya rame di kampung saya.
Tanpa disangka-sangka saya diterima di akper. Sedangkan nyonya yang mengajak saya malah tidak lulus. Tapi saya galau. Karena waktu itu saya juga lulus SMPTN, jurusan Sastra Indonesia. Saya lihat kedua orang tua lebih setuju kalau saya masuk Akper, tapi saya lebih tertarik masuk sastra. Jadilah saya bingung terombang-ambing pilihan yang ada. Tapi sialnya karena saya orangnya tidak tegaan maka akhirnya pilihan pun jatuh ke Akper. Ya, saya masuk Akper dan bertemu dengan Omesh, Agiet, Cadila, Diding, Dhea, Ocha. Juga ketemu Pakbeb, Cacing, dan yang lainnya. And the rest is history.
***
Saya selalu terkagum-kagum dengan cara Tuhan bekerja. Entah ini sebuah kebetulan belaka atau memang sebuah takdir yang sudah tertulis. Saya paling tidak suka memakai seragam, apalagi seragam kampus saya yang putih-cokelat itu (sangat-tidak-nyeni-sekali), juga saya tidak suka kalau lagi praktek kebagian shift malam (saya orangnya gampang ngantuk). Tapi ketika kemudian saya bekerja sebagai perawat (ya, akhirnya saya beneran jadi perawat!), saya bisa memakai baju bebas ketika berangkat ke rumah sakit (karena kebetulan saya ditempatkan di ruang OK yang mempunyai baju khusus sendiri sehingga saya tidak perlu memakai seragam putih-putih). Pun saya tidak perlu khawatir kena shift malam karena dinas pagi terus dari hari Senin-Jum'at dengan libur di hari Sabtu dan Minggunya. Jadi saya punya waktu yang lumayan luang untuk keluarga juga untuk menulis hal remeh-temeh seperti ini.
Apakah itu kebetulan belaka? Mungkin bukan, karena konon "Tuhan tidak sedang bermain dadu ketika menciptakan dunia ini". Tapi silahkan saja jika tidak percaya dengan pernyataan tadi, toh itu bukan kata-kata saya sendiri. Itu perkataan seorang Albert Einstein.
Dalam gerbong kereta, 06 September 2013
(Curhatan Seorang Ayah By Accident)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar