Rabu, 25 September 2013

Cerita Cinta Sang Magna Cum Laude


Sabtu, 21 September 2013, tepat malam ini adalah malam minggu yang tidak terlalu penting buat saya pribadi. Selain karena saat ini saya masih mengadopsi label jomblo, keadaan saya yang berada ditengah pedalaman hutan Kendari yang tanpa sinyal provider telekomunikasi pun menyulitkan saya untuk berkomunikasi dengan dunia luar, Jadi yah apa pentingnya saya punya pacar kalau keadaan saya seperti ini terus? sial!

Mengingat ini adalah malam minggu yang selalu dihubungkan dengan kisah cinta, saya jadi teringat pengalaman masa lalu saya yang menjadi saksi hidup kisah cinta seorang jawara kelas sekaligus jawara kampus dan pemegang sabuk magna cum laude di kampus saya. Kisah cinta yang akan saya tulis ini memang bukanlah kisah cinta yang berakhir sebahagia kisah cinta seorang Imam Taufik a.k.a Cacing yang menjadi pria tersukses dalam mengakhiri masa bujang lapuknya setelah lulus kuliah ataupun kisah cinta seorang Ricky Pradita Rikadi dengan pasien wanitanya yang sekarang sudah menghasilkan buah cinta mereka. Tapi kisah cinta yang akan saya tulis ini adalah kisah cinta seorang Dendi yang dikenal sebagai mahasiswa teladan di kampus kami, seorang mahasiswa ulet, aktif dan rajin yang dikenal oleh semua dosen, sekaligus akan tetap menjadi aktor protagonis jika tugas banyak melanda kami dan akan menjadi aktor antagonis bagi kami karena keaktifannya yang sudah keterlaluan.

Lalu siapakah gadis yang berhasil menaklukkan hati seorang kutu buku seperti Dendi? Sebut saja namanya ii, seorang mahasiswi kebidanan yang seangkatan dengan kami. Dia seorang pribadi yang baik dan cukup ramah dalam bergaul dengan siapapun, termasuk bergaul dengan saya tentunya. Ii juga seorang yang salehah dan rajin, tidak berbeda jauh dengan pribadi seorang Dendi.

Kisah ini berawal dari keberangkatan kami ke Tasikmalaya untuk mengikuti salah satu agenda organisasi dari kampus. Secara kebetulan saya yang menjadi anggota BLM (Badan Legislatif Mahasiswa), Dendi anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), dan Ii anggota kebidanan HIMA (Himpunan Mahasiswa) diharuskan mengikuti agenda organisasi tersebut. Hari itu semua tampak berjalan biasa saja, semua anggota organisasi berkumpul didalam suatu ruangan dan mengikuti acara organisasi ini. Tapi keadaan mulai menjadi tampak berbeda, selain karena acara organisasi ini cukup membosankan buat saya, handpone (hp) dalam celana saya pun bergetar. Ahhh.. ternyata ada sms masuk. Saya melihat dalam kotak masuk dan ternyata ii yang mengirimkan pesan tersebut.

"Hendro, dia lagi dimana?" Isi dari pesan yang baru masuk tersebut.

"dia siapa, i?" Saya balas sms itu.

"Dendi! Ngomong-ngomong dia kemana ya?"

Saya kembali membalas sms dari ii tersebut, "sebentar saya liat di masjid ya, i?"

Saya pun beranjak meninggalkan acara organisasi tersebut, dan berjalan menuju mesjid.

Setelah sampai di mesjid, benar saja apa yang saya pikirkan, ternyata Dendi ada di sana. Saya pun langsung memberi kabar kepada ii bahwa Dendi ada di mesjid. Saat itu saya langsung menegur Dendi.

"Den..., lagi ngapain? tumben lu gak ngikutin acara organisasi?"

"Gak kenapa-napa, Ndro*." Jawab Dendi. Gaya bicaranya agak bergetar, tidak seconfident biasanya.

"ii nyariin tuh??"

"Jangan kasih tau, Ndro kalau saya disini"

"Emang kenapa, Den?"

Belum sempat Dendi menjawab pertanyaan saya, dari kejauhan ii datang dan berjalan menuju kearah kami.

"Dendi.." Kata ii setelah sampai di hadapan kami.

Saya tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka, tapi Dendi tiba-tiba saja pergi menjauh dan tidak mau bertemu dengan ii. Saya pun mulai bingung dengan kondisi ini, sialll!!! lagi-lagi posisi saya selalu saja berada diantara masalah orang lain.

"Sebentar i," saya mencoba menenangkan ii dan beranjak mengejar Dendi.

"Den, kenapa lu?itu ii manggilin lu!"

Entah hari apa saat itu, saya lupa. Tapi saya rasa saat itu hari tampak cerah , dan di media massa pun saya rasa tidak ada berita duka ataupun berita pengibaran bendera setengah tiang. Tapi hari itu menjadi hari yang berbeda bagi seorang Dendi, seorang pria yang selalu tampak bersemangat dan rajin dalam belajar kini terlihat nafasnya tersengal-sengal di depan saya, suaranya bergetar, dan air matanya pun mengalir dikedua pipinya.

"Ndrooo..," suaranya bergetar, memanggil nama saya sambil menangis.

Jujur saat itu saya pribadi pun mulai bingung, kenapa ini anak tiba-tiba menangis, ada masalah apa? Dan apa yang harus saya lakukan? (Ahh..., ternyata kau ini melankolis juga, Den)

"Ada apa sebenarnya dengan kalian?" Tanya saya sambil duduk disamping Dendi.

Dendi masih menangis dan nafasnya semakin tersengal-sengal. Kemudian saya teringat adegan-adegan dalam sinetron, biasanya kalau ada adegan seperti ini yahhh.., kita berikan pundak kita untuk mengurangi beban sang pemeran utama yang sedang berduka. Akhirnya saya tahu apa yang bisa saya lakukan, saya pun memberikan pundak saya untuk Dendi!! (sialan kau ini, Den. Cewek saja belum pernah nangis atau bersandar dipundak saya lah kamu sekarang malah nangis dipundak saya. Tapi it's okay lah berhubung saat ini saya yang sedang berada diposisi seperti ini, sekaligus sebagai teman satu kelas, kau boleh nangis dipundak saya).

Sambil menangis Dendi pun menceritakan permasalahannya pada saya.(Tentu sambil nyandarin kepalanya dipundak saya!). Aahhh parah gila!! Untung gak ada cewek yang merhatiin saya dan Dendi waktu itu.

"ohh, seperti itu masalahnya? ya sudah, selesaikanlah masalah ini baik-baik, Den. Jangan lari dari masalah dengan menghindari ii seperti ini, gak baik" kata saya seolah kerasukan roh Mario Teguh. (dan pada moment itu saya terlihat jauh lebih keren dibanding Dendi saat di kelas. Hahahaha)

"Udah usap air mata lu tuh, malu sama ii"

"iya, Ndroo.."

Akhirnya mereka berdua bertemu didalam mesjid dan menyelesaikan masalahnya. Terlihat air mata menghiasi pembicaraan mereka, dan adegan ini menjadi adegan termelankolis bagi saya yang melihatnya. Kemudian saya pun pergi meninggalkan mereka untuk menyelesaikan permasalahannya sendiri.

Dan sejak saat itu, hubungan mereka kembali baik seperti biasanya, mereka kembali terlihat sering jalan berdua saat di kampus ataupun di mesjid dekat kampus untuk belajar bersama seperti biasanya.

Tapi sayangnya, kisah mereka tidak berakhir bahagia seperti apa yang kita harapkan, setelah ii memutuskan untuk menikah dengan pria yang dipilihnya ketika kami duduk di tingkat 3 kuliah. Dan hidupnya kini semakin bahagia karena saat ini dia sudah menjadi seorang wanita sempurna setelah menjadi seorang ibu.

Lalu, bagaimana dengan seorang Dendi?? Emmmpp, well..., saya rasa dia juga baik-baik saja, apalagi berbicara tentang pencarian cintanya saya rasa teman-teman bisa tahu dalam tulisan seorang Ricky Pradita Rikardi**.

* : Ndroo disini adalah panggilan untuk penulis karena namanya Hendro, bukan Indro seperti yang sering dikatakan oleh Kasino dalam film Warkop DKI, "gile lu, Ndro"

** : tulisan Ricky Pradita Rikardi bisa dibaca disini http://mickeymousedesade.blogspot.com/2013/08/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html#links

Hendro Handayano, AMK

0 komentar:

Posting Komentar