Jumat, 04 Oktober 2013

Jangan Sepelekan Kami, Meskipun Kami Masih Muda


"Kak, pasien ini kenapa infusnya..bla bla bla. Harusnya kan..bla bla bla. Terus kenapa obatnya belum dikasih, padahal kan..bla bla bla."

Aku menghela nafas lelah. Hampir 15 menit lebih 'dia' yang menyebut dirinya sebagai dokter bercuap-cuap protes padaku.Aku hanya bisa mengangguk, bergumam "hmm" dan menghela nafas. Begitu seterusnya hingga 15 menit penuh 'ungkapan cinta' berakhir. 'Dia' yang sudah bosan pun akhirnya pergi.

Aku pernah membaca sebuah cerita fiksi dimana penulisnya mengatakan bahwa sekali kau menghela nafas, maka satu kebahagianmu akan hilang.Tentu saja itu omong kosong menurutku, karena bagiku dinas pagi di hari Minggu sudah merupakan satu kebahagiaan yang hilang. Plus plus diocehi pula.Seorang senior yang dinas bersamaku pagi itu hanya bisa mengatakan "sabar". Huh, kalau selama ini aku tak sabar sudah kujadikan dendeng semua keluarga pasien yang menyebalkan.

Aku sendiri sempat khawatir begitu melihat status pasien yang kami "diskusi"kan tadi (jika memang hal diatas bisa disebut sebagai diskusi). Bukan karena aku takut dimarahi, tapi lebih ke kondisi pasien. Pasien bayi ini nampak lemah dan rapuh.Cairan infus dan obat antibiotik yang 'dia' sebutkan tadi tak ada di kotak obat pasien. Bagaimana aku bisa memberikan keduanya jika persediaan pun tak ada.Entah ada masalah apa di bagian farmasi. Tapi yang jelas aku tak tahu harus komplain kemana soal ini, mengingat bagian repacking obat dan cairan infus tutup saat hari libur.

Lagi-lagi helaan nafas yang keluar dari mulutku. Aku merasakan lelah dan penat yang sangat. Entah sudah berapa kali aku menghela nafas, juga entah berapa banyak kebahagiaan yang hilang dariku. Aku tak peduli. Setelah sekian jam dan sekian helaan nafas yang keluar, tibalah saat itu. Saat paling berbahagia bagi orang yang berdinas pagi. Saat dimana operan dengan dinas sore tiba. Senior yang operan denganku bertanya "mukamu kenapa ditekuk gitu dek, emang dinas pagi repot ya?". Sebagai junior yang jujur, aku menceritakan semua yang terjadi pada seniorku. Terlebih dia baik dan merupakan salah satu senior favoritku. Setelah bercerita, ada sedikit perasaan takut dalam diriku. Takut jika senior favoritku ini marah dan menganggap kerjaku tidak maksimal, melihat wajahnya yang datar seperti tak menanggapi ceritaku malah menyuruhku melanjutkan operan ke pasien selanjutnya.

Tak disangka-sangka, seniorku tersenyum setelah operan selesai. Dia pun bertanya "emang siapa dokter yang datang tadi pagi dek?". Tanpa banyak kata, aku membuka status pasien dan menunjukkan cap nama 'dia' yang sudah membuatku bete seharian ini. "Oh, ternyata dia. Itu mah udah biasa dek, dokter ini emang kebanyakan protes. Dari yang gue perhatiin, dia emang ngincar anak-anak baru kayak kamu buat di ocehin. Kalau sama kita yang udah lama disini, dia gak pernah sampai begitu protesnya. Gak usah kamu pikirin dek, ini kesalahan farmasi kok bukan salah kamu. Lagipula dokter itu suka ngejelekin kita di depan konsulennya, makanya kita semua disini gak ada satupun yang suka sama dia. Udahlah, jangan sedih gitu, dek." kata seniorku panjang dikali lebar sama dengan luas. "What the..." pikirku.

Setelah mendengar ucapan seniorku barusan, jujur aku tak lagi bete melainkan kesal. Amat sangat kesal sekali.Aku merasa diremehkan, mentang-mentang aku masih baru. Aku tahu pengalamanku menangani pasien anak masih kurang.Aku juga kadang dimarahi oleh senior-senior di ruangan, tapi aku bisa terima karena senior-seniorku tak hanya sekedar marah dan menuntutku untuk bekerja dengan benar tapi mereka juga mengajariku semua hal yang mereka tahu. Sedangkan 'dia', hanya bisa protes dan protes. Tak ada penjelasan sama sekali. Hanya sedikit dari 'mereka' yang menjelaskan dengan baik. Selebihnya... kalian tentu akan mengalami jika bekerja di rumah sakit dimana banyak profesi yang bekerja disana.

Note : Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya. Tak ada maksud sedikitpun untuk menjelek-jelekkan profesi lain yang juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan saya.

Oleh : Haerunnisa 'nisa xoxo'

0 komentar:

Posting Komentar