Judul Buku : Dunia Kafka
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Pustaka Alvabet
Tebal : 608 halaman
Satu sisi novel ini bercerita tentang Kafka Tamura, seorang remaja berusia 15 tahun yang memutuskan untuk kabur meninggalkan rumahnya demi menghindari kutukan sang ayah dan untuk mencari ibu serta kakak perempuannya yang sudah lama pergi. Dia memutuskan untuk tinggal di sebuah perpustakaan dan menghabiskan waktunya dengan membaca berbagai buku. Sebelum kemudian menjadi buronan polisi setelah ayahnya ditemukan tewas mengenaskan penuh luka tusukan beberapa hari setelah kepergiannya.
Sedangkan sisi lain novel menceritakan seorang kakek bernama Satoru Nakata yang tidak bisa menulis dan membaca tapi mempunyai sebuah kemampuan unik nan ajaib, yaitu bisa berbicara dengan kucing. Karena kemampuannya itu si kakek diminta untuk mencari kucing yang hilang bernama Goma. Pencariannya tersebut kemudian membawa kakek itu kepada seorang pria misterius yang menyebut dirinya Johny Walker (ya Johny Walker yg itu jika anda tahu apa yang saya maksud). Setelah pertemuannya dengan pria misterius tersebut, insting si kakek membawanya ke dalam sebuah perjalanan-ditemani dengan supir truk bernama Hoshino yg ditemuinya di jalan dan memutuskan untuk ikut menemaninya- yang perlahan membawanya ke tempat dimana Kafka Tamura berada.
Haruki Murakami dengan iseng membawa kita kedalam dunia 2 orang tokoh yang berlainan tapi di satu sisi mereka saling berkaitan, melalui sebuah cerita yang mencampur adukkan antara fiksi ilmiah tentang alien, gejala oedipus Complex, sastra, filsafat, juga humor yang lumayan satir (selain Jhony Walker kita juga akan diperkenalkan kepada salah satu ikon kapitalis paling top di seluruh dunia, Kolonel Sanders, yang dalam novel ini diceritakan berperan sebagai seorang mucikari).
Gabungan berbagai campuran tadi-ditambah dialog yg sederhana dan mudah dipahami- membuat novel ini langsung mencengkeram saat pertama kali saya membacanya. Meskipun mungkin bagi anda yang menyukai cerita-cerita misteri penuh teka-teki ala Dan Brown akan dikecewakan dengan akhir dari novel ini, karena Haruki Murakami tetap membiarkan teka-teki itu tidak terjawab tetapi malah menuntun kita kepada sebuah kisah surealis dan filosofis penuh perenungan tentang pencarian jati diri, kekecewaan dan tragedi.
Ricky P. Rikardi, AMK







0 komentar:
Posting Komentar