Sabtu, 21 September 2013

Lelaki Yang Dituduh Ganteng


Sebenarnya kisah ini bukanlah kisah yang saya tulis sendiri. Saya hanya menuliskannya kembali dari kisah aslinya yang saya dengar dari beberapa kawan saya. Saya pertama kali mendengar kisah ini dari Antonio Nurhega atau yang saya sering sapa dengan sebutan Pak Wapres. Pak Wapres menceritakan kisah ini pada suatu malam ketika dia menginap di tempat kos saya, ketika kita berdua kehabisan bahan cerita setelah berjam-jam bergulat dengan teori konspirasi yang dibawa Eiichiro Oda ke dalam komik One Piece. Pun ketika kawan saya yang lain yaitu Ohan Susandi mengiap di tempat kos saya, dia juga kembali menceritakan kisah ini. Dan orang terakhir yang menceritakan kisah ini dengan begitu dramatis dan penuh penghayatan adalah Bung Haris Julyansyah. Antonio Nurhega, Ohan dan Haris adalah teman-teman satu kelas, mereka bertiga adalah adik tingkat saya ketika kuliah. Bagi angkatan mereka, kisah tentang Lelaki Yang Dituduh Ganteng ini adalah sebuah urban legend yang akan terus menerus dikisahkan kepada generasi sesudah mereka. Secara singkat beginilah kisahnya (nama tempat dan tokoh sudah disamarkan) :

Cantik itu relatif. Artinya setiap orang mempunyai penilaian dan ukuran tersendiri tentang kata cantik versi mereka. Contoh, bagi sebagian orang mungkin Raisa itu cantik gak ketulungan tapi bagi sebagian lainnya Dian Sastrowardoyo masih yang paling cantik. Seperti halnya buah durian, ada sebagian orang yang menganggapnya sebagai buah surga saking nikmatnya, tapi bagi saya buah itu adalah buah neraka. Rasanya cukup sekali saya harus muntah-muntah akibat terpaksa memakannya. Kejadian itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Tapi tidak bisa saya ceritakan disini, karena kisah ini bukan kisah tentang buah durian. Ini adalah kisah tentang lelaki yang dituduh ganteng.

Hal itulah yang terjadi pada Tiwi (sebut saja begitu). Bagi teman-teman di kelasnya mungkin penampilan dan wajah Tiwi itu biasa-biasa saja. Tapi lain halnya dengan Eko dan Pipik, 2 orang mahasiswa yang berbeda kampus dengan Tiwi, jika pertanyaan itu dilemparkan kepada mereka berdua maka jawabannya bisa dipastikan Tiwi itu cantik keterlaluan. Tidak perlu didebat lagi. Ini masalah selera dan selera itu haram hukumnya untuk diperdebatkan. Benar kata pepatah, rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, mahasiswi kampus lain selalu lebih menarik daripada mahasiswi kampus sendiri. Singkat cerita katakanlah kalau Eko dan Pipik itu jatuh cinta kepada Tiwi.

Meskipun katanya everything is fair in love and war tapi Eko dan Pipik bersaing secara sehat dan positif. Tidak seperti kandidat para kepala daerah yang terkadang melakukan black campaign untuk menjegal lawan-lawan politiknya, Eko dan Pipik tidak saling menjegal dengan cara-cara yang busuk dan menjijikan. Mereka menjunjung tinggi sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Jomblo untuk mengejar cintanya masing-masing. Contohnya, jika Eko mengantar Tiwi berangkat kuliah maka Pipik yang akan menjemput dan mengantar Tiwi pulang. Begitupun jika Eko dan Tiwi jalan siang hari maka Pipik akan kebagian jatah jalan untuk malam harinya. Begitulah mereka bersaing untuk mendapatkan cinta Tiwi.

Tapi siapalah di dunia ini yang sanggup menebak kemana arah mata panah cinta akan tertancap. Tidak Eko, tidak Pipik, tidak pula dengan Tiwi. Misteri cinta biarlah tetap menjadi milikTuhan Yang Maha Pembolak-balik hati manusia, begitulah kata seorang kawan saya yang lain. Dan kemudian panah cinta itu melesat melewati hati Eko, melewati hati Pipik, melesat terus hingga kemudian menancap dengan tepat di hati Dodi. Ahhh, siapa pula Dodi? Tiba-tiba muncul ke dalam kisah ini? Dodi adalah adik kelas Eko dan Pipik. Dan kepada Dodilah kemudian Tiwi melabuhkan biduk cintanya. Bukan Eko, bukan pula Pipik. Sementara Dodi dan Tiwi berbahagia, Eko dan Pipik harus mendulang duka.

Tapi begitulah cinta, deritanya tiada akhir, kata Pat Kay temannya Sun Go Kong. Dan mungkin tanpa duka kisah cinta itu sendiri tidak akan pernah menjadi sesuatu yang luar biasa. Silahkan disimak kisah cinta yang melegenda dari mulai Layla-Majnun, Romeo-Juliet hingga Cleopatra-Julius Caesar, semuanya berkelindan erat dengan duka. Tanpa duka mungkin tidak akan pula hadir sajak Sayap-sayap Patah dari Khalil Gibran. Tanpa duka tidak mungkin Ahmad Dhani akan menulis lagu selirih Roman Picisan dimana Once bernyayi dengan syahdu, cintaku tak harus miliki dirimu meski perih mengiris-iris segala waktu. Tidak mungkin pula kita akan mendengar Someone Like You dari Adele yang lahir karena duka ditinggal kawin ataupun lagu Separuh Jiwaku Pergi dari Anang Hermansyah. Juga The One That Got Away-Katty Pery maupun Love Will Tear Us Apart milik band post-punk Joy Division. Dan daftar ini masih bisa saya perpanjang lagi. Maka terberkatilah mereka yang berduka karena cinta, karena mungkin cinta kalian akan melegenda. Mungkin, suatu saat nanti.

Sayangnya bukan duka yang menjadi inti dari kisah ini. Sekali lagi, kisah ini adalah kisah tentang lelaki yang dituduh ganteng. Segera setelah Eko dan Pipik menyadari bahwa Tiwi malah jadian dengan Dodi maka Eko dan Pipik pun membentuk sebuah aliansi. Aliansi Pipik dan Eko United atau disingkat APEU. Dari lawan menjadi sekutu. Atas kesamaan visi dan misi mereka, “jika Tiwi tidak menjadi milik salah satu dari mereka maka orang lain pun tidak boleh memilikinya”. Apalagi seorang junior. Di negeri yang masih erat memegang senioritas, tindakan junior mengangkangi senior adalah sebuah penghinaaan. Dosa besar, cih. Sebuah pengibaran bendera perang. Maka kali ini Eko dan Pipik bertekad bersatu padu untuk menghancurkan hubungan itu, setidaknya menghajar Dodi si junior kurang ajar. Everything is fair in love and war.

Disinilah kemudian permasalahan itu bermula. Ternyata Eko dan Pipik tidak pernah benar-benar mengetahui sosok Dodi yang sebenarnya. Ekstrimnya, Eko dan Pipik bahkan tidak tahu muka Dodi sama sekali. Sialnya, sosok yang mereka anggap Dodi adalah justru Bambang. Disinilah letak masalahnya. Bambang itu bertubuh tinggi, berkulit putih, dan ya tentu saja ganteng. Ini ibarat kita ingin menghajar Tukul Arwana tapi kemudian orang yang kita anggap Tukul itu adalah Joe Taslim. Nyali kita meper duluan, vroooh. Itu pula yang dirasakan oleh Eko dan Pipik, menyadari kalau Bambang (yang mereka anggap Dodi) lebih ganteng dari mereka berdua secara spontan nyali mereka pun menciut. Hingga akhirnya mereka memilih untuk menerima kenyatan ini walaupun dengan berat hati.

Mungkin, jika sampai saat ini Eko dan Pipik tidak menyadari kekeliruannya maka kisah ini sudah pasti akan berakhir disini. Tapi ternyata pada suatu hari mereka berdua akhirnya menyadari kekeliruan mereka. Mereka akhirnya sadar kalau orang yang selama ini mereka anggap sebagai Dodi adalah Bambang. Saya sendiri tidak mengetahui bagaimana mereka bisa mengetahui kekeliruan mereka. Ketika saya tanyakan hal ini kepada Anton dan Haris mereka berdua pun tidak mengetahuinya. Mungkin Eko dan Pipik mengetahui dengan sendirinya, atau mungkin ada seseorang yang memberitahu mereka sosok Dodi yang sebenarnya. Entahlah, saya tidak tahu. Hidup selalu menyisakan tanya yang tidak semua jawabnya dapat kita temukan dalam kehidupan ini.

Setelah mereka berdua mengetahui sosok Dodi yang sebenarnya. Dan menyadari bahwasannya Dodi tidak seganteng mereka maka emosi yang dulu sempat menciut pun kini membuncah kembali. Bisa-bisanya Tiwi jatuh cinta kepada seseorang yang menurut Eko dan Pipik level kegantengannya masih berada dibawah mereka. Dikangkangi junior yang level kegantengannya ada dibawah mereka (bahkan sempat dituduh ganteng juga oleh mereka) adalah sebuah penghinaan tingkat tingi. Tidak ikhlas ridho dunia akhirat. Penghinaan ini harus segera dibalas. Bendera perang kembali dikibarkan. Serupa Mahapatih Gajah Mada yang memimpin pasukan Majapahit mengepung utusan Kerajaan Pajajaran di Ladang Bubat. Harga diri harus dibela sampai mati.

Saya tidak tahu dengan cara apa dan bagaimana perang ini kemudian berlangsung. Dari penuturan Haris Julyansyah saya mendengar bahwa Eko dan Pipik berencana menghajar Dodi di WC kampus yang terkenal bau dan tak ada airnya itu. Tapi dari penuturan Anton, Eko dan Pipik kemudian mengurungkan niat mereka. Entah karena alasan apa. Apakah karena wajah Dodi terlalu melankolis sehingga mereka tidak tega menghajarnya? Atau mungkin karena mereka berdua kemudian menyadari kalau ganteng itu juga relatif. Meski di mata mereka Dodi itu kalah ganteng tapi buat Tiwi mungkin Dodi adalah lelaki terganteng, just the way he is. Atau mungkin juga mereka akhirnya menyadari kata-kata Agnes Monica bahwa cinta itu kadang-kadang tak ada logika?

Entahlah? Saya tidak tahu. Sekali lagi, karena terkadang hidup selalu menyisakan sebuah tanya yang jawabannya tidak selalu kita temukan dalam kehidupan ini.

Kampung Melayu, 08 Juli 2013
Ricky P. Rikardi

3 komentar:

  1. Seandainya mreka tau dari awal mngkin crita nya ga akan se tragis ini ya..haha..
    Sanji dan zoro mengejar nico robin, namun brook lah yg pd akhirnya brsama robin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi zoro tidak suka wanita bung |\(⌣_ƪ )

      Hapus
  2. dodi sepertinya mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi orang lain!!

    BalasHapus