Apa hal yang paling khas dari anak-anak? Mungkin
ada beberapa jawaban yang bisa dihadirkan, tetapi salah satunya dan mungkin
yang paling banyak ditemui adalah bermain. Ya, anak kecil memang selalu identik
dengan bermain. Makanya terkadang ada lelucon kalau seorang dewasa sedang asyik
bermain dengan sesuatu sering dibilang “masa kecilnya kurang bahagia”.
Ada banyak teori tentang bermain yang
dikemukakan oleh para ahli. Namun konon katanya
Plato adalah orang pertama yang menyatakan teori tentang pentingnya
bermain bagi anak-anak. Menurut Plato anak-anak lebih mudah diajari aritmatika
dengan jalan bermain membagi-bagikan buah apel. Saya juga teringat saat kuliah
dulu kawan saya, Yosie Rivanto, membuat presentasi makalahnya tentang teori
bermain yang sayangnya isi makalahnya saya tidak ingat sama sekali karena
presentasinya yang sungguh terlalu konyol.
Hanya terkadang hak anak untuk bermain
tidak bisa selalu terpenuhi. Ada beberapa macam alasan, tapi yang paling sering
adalah saat anak sakit, bahkan jika sampai harus dirawat di rumah sakit. Hal
ini pula yang terkadang memberikan dampak buruk pada anak-anak pasca
hospitalisasi. Untuk menghindari hal tersebut di beberapa rumah sakit ruangan
untuk anak sengaja dibedakan sendiri, misalnya temboknya warna-warni dan
dipenuhi gambar kartun yang lucu-lucu.
Adalah sebuah komunitas nirlaba bernama
Happy Play yang kemudian hadir dalam posisinya untuk memenuhi hak bermain bagi
anak-anak. Saya secara tidak sengaja menemukan komunitas ini ketika berselancar
di timeline @pemotolkontong. Lalu dari @pemotolkontong saya dikenalkan kepada
Fanni Yadarusman, salah satu volunteer awal gerakan ini. Dan dari Fannilah saya
berkesempatan untuk mewawancarai Vitri Darlene, penggagas komunitas Happy
Play.
Berikut adalah wawancara saya dengan Mbak
Vitri beberapa waktu yang lalu. Karena keterbatasan jarak dan waktu wawancara
ini hanya dilangsungkan melalui fasilitas Whats App. Dan karena berbagai
kendala yang melanda, seperti hp saya yang tiba-tiba eror (mungkin akibat Karmaduu) sehingga data wawancara ini
sempat hilang, juga kesibukan saya sebagai seorang ayah dan suami teladan
se-Kalitanjung akhirnya wawancara ini baru sempat dimuat sekarang.
Mari menyimak wawancara singkat dengan
Vitri Darlene bersama Happy Playyang memulai geraknya di awal Juli 2011 di
Bandung. Happy Play rutin menghibur anak-anak sakit di Poli Anak RSHS Bandung
untuk bermain. Menggambar, mewarnai, beberapa board games adalah hal rutin yang
biasa mereka lakukan bersama beberapa anak yang sedang sakit. Dengan hanya mengandalkan
volunteer dan donator gerakan ini secara perlahan mulai berkembang menjadi
besar.
Bisa
diceritain gak awal terbentuknya Happy Play ini?
Awalnya aku sama temen suka ngadain board game session, sesi main board game
buat teman-teman pencinta board game. Terus kepikiran gimana kalo game
sessionnya bareng anak-anak di RS. Dengan bantuan seorang temen akhirnya kita
dapat izin buat ngadain game session rutin di poli anak RSHS Bandung. Setiap
dua minggu sekali kita bawa board game ke Poli Anak buat main sama pasien disana.
Dan ternyata adanya Happy Play membuat anak-anak di poli senang, karena mereka
bisa ikut main sambil nunggu panggilan dokter atau urusan administrasi di RS. Dan
mereka bisa belajar banyak dari board game, karena board game yang kita bawa
punya dampak positif untuk mereka. Mereka bisa berinteraksi sama pasien lain disana,
beberapa board game kita malah bikin mereka belajar banyak hal. Nah nyadarin
games bisa berdampak baik untuk anak kita mulai bangun Happy Play pelan-pelan
sekarang.
Waktu
pertama kali ada berapa orang yang terlibat Mbak?
Anaknya atau volunteernya?
Volunteernya?
Awalnya banget cuma berdua. Saya dan Iqbal,
yang membantu perizinan di RS.
Kalau
yang rutin sekarang biasanya berapa orang? Apa tergantung volunteernya?
Tergantung volunteernya. Untuk tiap game
session bisa beda-beda orang yang dating. Jadi terbuka bagi siapa saja yang mau
ikut jadi volunteer tinggal datang ke game session Happy Play. Jadi volunteer
lepasan gitu, bisa dateng per sesi game.
Apakah
kegiatannya hanya berfokus pada anak-anak sakit yg berada di RS atau bisa
dimana saja? Misalnya, anak-anak korban bencana alam?
Nah itu dia yang saya bilangg kita lagi
bangun Happy Play pelan-pelan. Tujuan kita sekarang pengen bawa kegiatan
bermain ke anak-anak dengan kondisi sulit. Gak cuma pasien saja.
Melihat
dari maraknya anak-anak yang masih kecil tapi sudah harus bekerja membantu
perekonomian keluarga mereka?
Ya, itu bisa termasuk anak-anak dengan
kondisi sulit.
Lalu
kesulitan apa yang Mbak hadapi dalam membangun dan mengembangkan Happy Play
ini?
Menyebarkan semangat positif dari kegiatan
bermain mungkin yang paling sulit. Karena orang-orang kebanyakan berpikir main
ya sekedar main, tapi dibalik itu sebenarnya game bisa membawa hal yang
positif, apalagi yang menggunakan unsur interaksi. Nemuin orang-orang yg
percaya dengan impact yg dibawa Happy
Play itu yang bikin semangat banget. Dari orang-orang inilah Happy Play jadi keep growing. Mereka adalah dukungan
terbesar buat Happy Play. Sepertt dokter yg memberi izin untuk kegiatan Happy Play,
volunteer, partner, dan donatur.
Mbak
tampak bersemangat sekali menyebarkan makna positif dari kegiatan bermain untuk
anak-anak. Apa yang membuat Mbak begitu yakin dengan hal itu?
Iya saya yakin banyak hal baik yang bisa
didapat dari kegiatan ini. Ruang bermain untuk anak itu penting, bahkan hak
anak yang paling penting salah satunya adalah hak bermain. Saya ngarepin dengan semakin luas kesempatan
bermain untuk anak-anak ini maka akan banyak hal baik yang tumbuh dari diri
mereka, juga orangtuanya.
Tampaknya
Mbak Vitri adalah seorang pecinta anak-anak ya?
Hahaha bisa dibilang begitu. Mereka lucu
sih
Lalu
apa yg Mbak lihat dengan kemajuan teknologi sekarang ini yg memungkinkan setiap
anak bisa bermain di rumahnya sendiri, di komputer, PS, dsb, yg menurut
beberapa pendapat justru berdampak buruk karena membuat anak-anak cenderung
anti sosial dan tidak melatih gerak motorik mereka, jika dibandingkan dengan
permainan tradisional semacam petak umpet?
Itu bukan hal yang sepenuhnya negatif
menurut saya. Anti sosial yang tumbuh kebanyakan kan karena game itu kurang unsur interaktifnya dan ditambah
lagi,sayangnya orang tua sering lupa untuk menemani anak bermain. Jadi ya
sebenarnya arahan dari orang tuanya saja gimana? Itulah peran dari orang tua bukan?
Balik
lagi ke Happy Play, jadi sekarang kegiatan Happy Play yang rutin dilaksanakan
baru ada di Poli Anak RSHS saja?
Iya dan mulai Agustus depan akan rutin juga
di tumbuh kembang RS Al Islam.
Masih
di wilayah Bandung juga?
Iyap. Pengennya nambah terus sampai ke kota
lain.
Lalu
bagaimana caranya jika kota-kota lain tersebut ingin mengadakan kegiatan seperti
Happy Play ini? Misalnya, di RSCM, Jakarta?
Iya, kita sudah pernah kepikiran di RSCM, tapi
belum ada kenalan waktu itu. Kebetulan sekarang aku lagi susun SOPnya. Jadi
untuk temen-teman yang pengen bikin Happy Play sendiri nanti dari kita bakal provide happy play kit nya. Dan
promotional kit kayak template logo,
dibuzz di social media. Kita juga akan bantu sediakan proposal kalau perlu.
Mungkin nanti volunteernya bisa kumpulkan beberapa teman, set dimana venuenya,
perizinannya, dan teknis acaranya.
Well, terima kasih atas
perbincangan singkatnya, Mbak. Karena sudah terlalu malam jadi saya cukupkan
sekian. Sukses dengan Happy Playnya.
Okay sama-sama.
Ricky P. Rikardi
Tambahan : Untuk lebih jelas mengenai berbagai hal dan kegiatan Happy
Play ini bisa diliat di happyplay.org atau follow twitter mereka @Happy Play.






0 komentar:
Posting Komentar