Rabu, 12 Februari 2014

Wawancara singkat bersama Vitri "Happy Play"

Apa hal yang paling khas dari anak-anak? Mungkin ada beberapa jawaban yang bisa dihadirkan, tetapi salah satunya dan mungkin yang paling banyak ditemui adalah bermain. Ya, anak kecil memang selalu identik dengan bermain. Makanya terkadang ada lelucon kalau seorang dewasa sedang asyik bermain dengan sesuatu sering dibilang “masa kecilnya kurang bahagia”.

Ada banyak teori tentang bermain yang dikemukakan oleh para ahli. Namun konon katanya  Plato adalah orang pertama yang menyatakan teori tentang pentingnya bermain bagi anak-anak. Menurut Plato anak-anak lebih mudah diajari aritmatika dengan jalan bermain membagi-bagikan buah apel. Saya juga teringat saat kuliah dulu kawan saya, Yosie Rivanto, membuat presentasi makalahnya tentang teori bermain yang sayangnya isi makalahnya saya tidak ingat sama sekali karena presentasinya yang sungguh terlalu konyol.

Hanya terkadang hak anak untuk bermain tidak bisa selalu terpenuhi. Ada beberapa macam alasan, tapi yang paling sering adalah saat anak sakit, bahkan jika sampai harus dirawat di rumah sakit. Hal ini pula yang terkadang memberikan dampak buruk pada anak-anak pasca hospitalisasi. Untuk menghindari hal tersebut di beberapa rumah sakit ruangan untuk anak sengaja dibedakan sendiri, misalnya temboknya warna-warni dan dipenuhi gambar kartun yang lucu-lucu.

Adalah sebuah komunitas nirlaba bernama Happy Play yang kemudian hadir dalam posisinya untuk memenuhi hak bermain bagi anak-anak. Saya secara tidak sengaja menemukan komunitas ini ketika berselancar di timeline @pemotolkontong. Lalu dari @pemotolkontong saya dikenalkan kepada Fanni Yadarusman, salah satu volunteer awal gerakan ini. Dan dari Fannilah saya berkesempatan untuk mewawancarai Vitri Darlene, penggagas komunitas Happy Play. 

Berikut adalah wawancara saya dengan Mbak Vitri beberapa waktu yang lalu. Karena keterbatasan jarak dan waktu wawancara ini hanya dilangsungkan melalui fasilitas Whats App. Dan karena berbagai kendala yang melanda, seperti hp saya yang tiba-tiba eror (mungkin akibat Karmaduu) sehingga data wawancara ini sempat hilang, juga kesibukan saya sebagai seorang ayah dan suami teladan se-Kalitanjung akhirnya wawancara ini baru sempat dimuat sekarang.

Mari menyimak wawancara singkat dengan Vitri Darlene bersama Happy Playyang memulai geraknya di awal Juli 2011 di Bandung. Happy Play rutin menghibur anak-anak sakit di Poli Anak RSHS Bandung untuk bermain. Menggambar, mewarnai, beberapa board games adalah hal rutin yang biasa mereka lakukan bersama beberapa anak yang sedang sakit. Dengan hanya mengandalkan volunteer dan donator gerakan ini secara perlahan mulai berkembang menjadi besar.
 
Bisa diceritain gak awal terbentuknya Happy Play ini?
Awalnya aku sama temen suka ngadain board game session, sesi main board game buat teman-teman pencinta board game. Terus kepikiran gimana kalo game sessionnya bareng anak-anak di RS. Dengan bantuan seorang temen akhirnya kita dapat izin buat ngadain game session rutin di poli anak RSHS Bandung. Setiap dua minggu sekali kita bawa board game ke Poli Anak buat main sama pasien disana. Dan ternyata adanya Happy Play membuat anak-anak di poli senang, karena mereka bisa ikut main sambil nunggu panggilan dokter atau urusan administrasi di RS. Dan mereka bisa belajar banyak dari board game, karena board game yang kita bawa punya dampak positif untuk mereka. Mereka bisa berinteraksi sama pasien lain disana, beberapa board game kita malah bikin mereka belajar banyak hal. Nah nyadarin games bisa berdampak baik untuk anak kita mulai bangun Happy Play pelan-pelan sekarang.

Waktu pertama kali ada berapa orang yang terlibat Mbak?
 Anaknya atau volunteernya?

Volunteernya?
Awalnya banget cuma berdua. Saya dan Iqbal, yang membantu perizinan di RS.

Kalau yang rutin sekarang biasanya berapa orang? Apa tergantung volunteernya?
Tergantung volunteernya. Untuk tiap game session bisa beda-beda orang yang dating. Jadi terbuka bagi siapa saja yang mau ikut jadi volunteer tinggal datang ke game session Happy Play. Jadi volunteer lepasan gitu, bisa dateng per sesi game.

Apakah kegiatannya hanya berfokus pada anak-anak sakit yg berada di RS atau bisa dimana saja? Misalnya, anak-anak korban bencana alam?
Nah itu dia yang saya bilangg kita lagi bangun Happy Play pelan-pelan. Tujuan kita sekarang pengen bawa kegiatan bermain ke anak-anak dengan kondisi sulit. Gak cuma pasien saja.

Melihat dari maraknya anak-anak yang masih kecil tapi sudah harus bekerja membantu perekonomian keluarga mereka?
Ya, itu bisa termasuk anak-anak dengan kondisi sulit.

Lalu kesulitan apa yang Mbak hadapi dalam membangun dan mengembangkan Happy Play ini?
Menyebarkan semangat positif dari kegiatan bermain mungkin yang paling sulit. Karena orang-orang kebanyakan berpikir main ya sekedar main, tapi dibalik itu sebenarnya game bisa membawa hal yang positif, apalagi yang menggunakan unsur interaksi. Nemuin orang-orang yg percaya dengan impact yg dibawa Happy Play itu yang bikin semangat banget. Dari orang-orang inilah Happy Play jadi keep growing. Mereka adalah dukungan terbesar buat Happy Play. Sepertt dokter yg memberi izin untuk kegiatan Happy Play, volunteer, partner, dan donatur.

Mbak tampak bersemangat sekali menyebarkan makna positif dari kegiatan bermain untuk anak-anak. Apa yang membuat Mbak begitu yakin dengan hal itu?
Iya saya yakin banyak hal baik yang bisa didapat dari kegiatan ini. Ruang bermain untuk anak itu penting, bahkan hak anak yang paling penting salah satunya adalah hak bermain. Saya ngarepin dengan semakin luas kesempatan bermain untuk anak-anak ini maka akan banyak hal baik yang tumbuh dari diri mereka, juga orangtuanya.

Tampaknya Mbak Vitri adalah seorang pecinta anak-anak ya?
Hahaha bisa dibilang begitu. Mereka lucu sih

Lalu apa yg Mbak lihat dengan kemajuan teknologi sekarang ini yg memungkinkan setiap anak bisa bermain di rumahnya sendiri, di komputer, PS, dsb, yg menurut beberapa pendapat justru berdampak buruk karena membuat anak-anak cenderung anti sosial dan tidak melatih gerak motorik mereka, jika dibandingkan dengan permainan tradisional semacam petak umpet?
Itu bukan hal yang sepenuhnya negatif menurut saya. Anti sosial yang tumbuh kebanyakan kan karena game itu kurang unsur interaktifnya dan ditambah lagi,sayangnya orang tua sering lupa untuk menemani anak bermain. Jadi ya sebenarnya arahan dari orang tuanya saja gimana? Itulah peran dari orang tua bukan?

Balik lagi ke Happy Play, jadi sekarang kegiatan Happy Play yang rutin dilaksanakan baru ada di Poli Anak RSHS saja?
Iya dan mulai Agustus depan akan rutin juga di tumbuh kembang RS Al Islam.

Masih di wilayah Bandung juga?
Iyap. Pengennya nambah terus sampai ke kota lain.

Lalu bagaimana caranya jika kota-kota lain tersebut ingin mengadakan kegiatan seperti Happy Play ini? Misalnya, di RSCM, Jakarta?
Iya, kita sudah pernah kepikiran di RSCM, tapi belum ada kenalan waktu itu. Kebetulan sekarang aku lagi susun SOPnya. Jadi untuk temen-teman yang pengen bikin Happy Play sendiri nanti dari kita bakal provide happy play kit nya. Dan promotional kit kayak template logo, dibuzz di social media. Kita juga akan bantu sediakan proposal kalau perlu. Mungkin nanti volunteernya bisa kumpulkan beberapa teman, set dimana venuenya, perizinannya, dan teknis acaranya.

Well, terima kasih atas perbincangan singkatnya, Mbak. Karena sudah terlalu malam jadi saya cukupkan sekian. Sukses dengan Happy Playnya.
Okay sama-sama.

Ricky P. Rikardi



Tambahan : Untuk lebih jelas mengenai berbagai hal dan kegiatan Happy Play ini bisa diliat di happyplay.org atau follow twitter mereka @Happy Play.


0 komentar:

Posting Komentar