Sabtu, 14 Februari 2015

Pemuda No. 38 Yang (Kadang) Terlupakan



I.
Nama lengkap bangunan itu adalah Politeknik Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya Program Studi Keperawatan Cirebon, tapi saya (juga hampir semua mahasiswanya) lebih senang menyebutnya Akper Depkes Cirebon. Selain terlalu panjang, rasanya ada sedikit sentimen tersendiri kenapa tidak mau disebut sebagai Poltekes Kemenkes Tasikmalaya.Mungkin seperti perseteruan antara Manchester United dan Manchester City. Bagi mereka kami adalah tetangga yang berisik, begitu pula sebaliknya, bagi kami mereka adalah tetangga yang berisik.

Bangunan itu terletak di Jl. Pemuda No. 38. Kau cukup berjalan beberapa puluh meter ke arah timur dari lampu merah Pemuda atau perempatan By Pass. Kau akan melewati sebuah mesjid yang diberi nama Mesjid Cimanuk. Dulu waktu saya masih kuliah tingkat 1, saya sering sholat Jum’at di mesjid itu. Tapi kemudian pindah ke mesjid lain karena khotbahnya kelamaan. Konon pula, di mesjid itulah Dendi sering memodusin korban-korbannya. Kampus kami terletak persis di samping mesjid itu.

Tapi sebelum melewati mesjid kau akan melewati sebuah warung rokok kecil di sekitaran situ. Boim, teman saya, dengan resmi menamakan warung itu dengan Warung Masgar. Alasannya karena penjaga warungnya adalah 2 orang Mas-Mas (1 cukup ganteng, 1nya lagi wajahnya mirip tokoh Mario Bross) yang berasal dari daerah Garawangi, Kuningan. Jadi disingkat Masgar. Di warung itu saya dan teman-teman biasa nongkrong untuk ngopi dan merokok.

Tentang Warung Masgar ini saya mempunyai sebuah cerita yang lucu. Waktu itu kami hendak berangkat untuk praktek di RSJ Marzoeki Mahdi di Bogor. Seperti biasa saya dan teman-teman nongkrong dulu di Warung Masgar sebelum bus yang kami tumpangi berangkat. Saya tidak ingat siapa saja yang ikut nongkrong disitu, mungkin ada saya, Cacing, Kempot, Boim, Mas Maung, Mbol. Tapi yang jelas tidak ada si Omesh, karena waktu itu Omesh belum datang. Dan karena nungguin Omesh datang pula maka bus yang kami tumpangi berangkat terlambat dari jadwal yang sudah ditentukan.

Setelah Omesh datang bus pun berangkat. Ngeeeeeeng. Meninggalkan kampus, lalu melewati Warung Masgar tempat tadi kami nongkrong sebelum berangkat. Tiba-tiba saya lihat si Masgar dadah dadah sambil melambaikan tangannya ke arah kami. Kami seisi bus pun bersorak dan membalas lambaian tangannya.

“Dadaaaaaah, Masgaaar”

“Bay bay, Masgar. We’ll miss you”

“Masgar, i love you” (eh, sepertinya tidak ada yang bilang i love you sih). Yang jelas kami semua merasa terharu karena tak menyangka Masgar mempunyai sisi yang romantis dan melankolis juga. Melepas keberangkatan kami ke Bogor dengan lambaian tangannya yang tidak berhenti sampai dia tidak terlihat dari jendela bus lagi.

Bus terus melaju melewati Kedawung lalu tiba di perempatan Plered yang selalu ramai karena ada pasar. Kalau belok kanan dari perempatan itu kau akan sampai di Trusmi. Tapi waktu itu bus yang kami tumpangi terus berjalan lurus, tidak belok kanan karena kami memang mau ke Bogor bukan ke Trusmi.

Tiba-tiba si Cacing teriak,

“eh, ini aing mana?” Kata dia sambil menggerak-gerakkan tangan dan pundaknya.

“Apaan, Cing?”

“Ini, ini aduuuuh apa tuh namanya?” katanya lagi sambil nunjuk-nunjuk pundaknya.

“Apaan sih, Cing? Pundak?” tanya Bang Mamat

“Bukan”

“Guling?” si Bayu ikutan nanya

“Bukan!”

“Bantal?” 

“Bukan, iiih!”

“Terus apaan dong? Topi? Sabun? Sepatu? Kondom? Cangcut? Rinso? Oskadon? Bu Dedoh? Bu Sriyatin?”  Semua hal kami sebutkan satu per satu tapi ternyata bukan itu jawabannya.

“Oh iya aing inget! TAS!!!” kata si Cacing ketika akhirnya dia ingat.

“Tas aing mana ya?” kata Cacing bertanya kepada kami semua. Saya dan teman-teman pun segera mencari tas Cacing dalam bus tapi tidak ketemu.

“Coba diinget-inget lagi Cing terakhir dimana?”

Cacing berpikir keras mengingat-ngingat kembali.

“Anjiiiing!”

“Kenapa, Cing?”

“Aing inget”

“Dimana?”

“di Masgar!!!”

Akhirnya kami semua sadar kalau ternyata Masgar memang bukan lelaki romantis yang mengiringi kepergian kami dengan lambaian tangan. Saat itu dia mungkin sedang mencoba memberi tahu kami, “wooooy ini tas siapa ketinggalan di warung??!”. Tapi sayang, tidak ada seorang pun dari kami yang menyadarinya. Pada akhirnya tas itu dititipkan kepada Pak Eyet yang menyusul berangkat ke Bogor esok harinya, karena pada saat Cacing inget keberadaan tasnya mobil bus yang kami tumpangi sudah sampai di Palimanan.

II.
Sebelum memasuki kampus kau akan ketemu dengan pos satpam di dekat pintu gerbang. Saya tidak pernah tahu siapa nama bapak-bapak satpam itu. Tapi suatu kali, kelas kami pernah sampai mau berantem dengan salah satu bapak satpam itu. Gara-garanya, teman-teman saya selalu iseng mindahin motor yang sudah di parkir ke atas teras. Paling jauh, mindahin motor si Mul ke belakang kampus. Suatu ketika ada kakak tingkat yang marah-marah, dia mengaku kalau motornya ada yang mindahin dan menuduh kelas kami sebagai pelakunya. Tentu saja tidak ada seorang pun diantara teman-teman saya yang mengaku, karena seiseng-isengnya kami motor yang selalu kami pindahin adalah motor teman-teman kami sendiri. Tidak pernah ada kasus kami mindahin motor selalin motor teman sekelas.  Karena tidak ada yang mengaku Bu Dedoh sampai harus turun tangan dan tentu saja dia bawa bapak satpam. Bapak satpam ngajakin berantem kalau belum ada yang mau mengaku. Akhirnya si Mbol berdiri, dia bilang,

“Kami akan bertanggung jawab untuk apa yang sudah kami lakukan. Tapi, berantem sampai mati pun kami tetap tidak akan bertanggung jawab untuk hal yang tidak pernah kami lakukan!”

Anjing! Gagah banget si Mbol waktu bilang gitu. Coba saya cewek sudah klepek-klepek pasti.
Setelah si Mbol bilang gitu, satu per satu teman cowok di kelas ikutan berdiri. Wah gawat, perang nih! Kata saya dalam hati. Untung saja Bu Dedoh bisa mencegahnya. Tapi setelah itu kami dilarang mindah-mindahin motor lagi meskipun itu motor punya teman sekelas.

Belakangan, setelah saya lulus saya jadi tahu kalau kasus itu hanya karangan dari kakak tingkat yang ingin cari gara-gara saja. Coward! 

III.
Kampus kami terdiri dari 3 gedung utama. 1 yang paling depan adalah gedung administrasi, juga merangkap ruang dosen, aula dan perpustakaan. 2 gedung dibelakangnya yang saling berhadap-hadapan adalah kampus keperawatan dan kebidanan. Katanya sih masih ada beberapa gedung lagi yang rencananya akan dibangun, tapi sampai saya lulus tidak pernah ada bangunan baru lagi.

Di samping gedung utama adalah tempat dimana para mahasiswa biasa memarkir motornya. Tempat biasa Bang Mamat akan datang dengan motor Mionya yang bersuara ngiiiiiiiiiiiing,yang bisa didengar dari radius 500 meter. Juga terdapat sebuah bangku dan pohon mangga yang daunnya rindang. Tempat yang cocok untuk beristirahat di kala terik siang. Jika kau berjalan terus ke depan maka kau juga akan menemukan deretan pohon kersem yang kadang jika buahnya sudah matang suka dipetik oleh para mahasiswa. Di deretan pohon kersem inilah sejarah lupa mencatat suatu peristiwa penting. Tapi disini saya akan mencatatnya agar kelak kau mengingatnya.  Di salah satu pohon kersem itulah, pada suatu siang yang terik, Mas Mbeb ditembak oleh seorang cewek dan akhirnya mereka jadian. Ini penting untuk dicatat karena selama ini yang kita tahu adalah MasMbeb selalu jomblo selama 3 tahun kuliah, padahal sebenarnya dia pernah punya pacar. Dan mereka meresmikan hari jadian mereka dibawah pohon kersem.  Aiiih, romantis sekali.

Kampus keperawatan dan kebidanana terdiri dari 2 lantai. Lantai 1 adalah ruang kuliah untuk mahasiswa tingkat 1. Tingkat 2 dan tingkat 3 ada di lantai 2. Setiap tingkat terdiri dari 2 kelas, A dan B. Saya di kelas A bareng dengan Yosie Rivanto, Cacing, Mas Maung, Ipunk, Mbol, Boim, Kmepot dan tentu saja Dendi Nugraha. Mas Mbeb ada di kelas B. Cewek yang nembak Mas Mbeb juga ada di kelas B.

Di tingkat 1 inilah saya pernah dimarahin oleh Pak Edi. Waktu itu kipas di kelas tidak nyala, sementara udara di Cirebon sangat panas jadi saya punya ide untuk membawa kipas angin ke kelas. Biar sejuk.  Sayangnya ketika kipas angin saya nyalakan seisi kelas menjadi ribut (sebenarnya Yosie Rivanto sih yang paling ribut) sementara saat itu Pak Edi sudah memulai materinya. Otomatis saya dimarahin. Tapi hanya saat itu saja saya dimarahin Pak Edi karena ternyata sebenarnya Pak Edi adalah dosen yang baik.

Di kelas itu pula Yosie Rianto pernah hampir berantem lawan Yoppy Dwi Hakiki. Kau tau apa masalahnya? Cuma pintu! Jadi, si Yosie kebelet boker mau keluar kelas sementara si Yoppy lagi sakit gigi pengan masuk kelas. Bruuuk. Tabrakan di pintu. Keduanya lagi sensi, si Yosie sensi karena eenya sudah di ujung tanduk, si Yoppy lebih sensi lagi karena sakit gigi. Ngotot-ngototanlah keduanya.

“Ira pengenne apo?!!”

“Gulet bae tah?!”

“Dadi!!”

Wah, udah mau perang lagi tuh. Tapi kali ini bukan Bu Dedoh yang berhasil mencegahnya, melainkan Mas Maung.  Ya, dialah Mas Maung yang waktu kuliah pacaran sama Tini tapi sering meliuk-liuk bareng Hempilah. 

Di kelas itu memang banyak cerita. Terutama soal asmara. Tapi kebanyakan yang menyedihkan. Di kelas itu saya dan Ipunk pernah suka sama Lilis tapi Lilisnya malah jadian sama Anas. Kempot dan Urank suka sama si Puput anak bidan tapi dua-duanya ditolak. Bayu suka sama Hani terus nembak di depan SMA 4 tapi ditolak karena ternyata Hani sudah jadian sama A Wowo. Omesh suka sama Fitri tapi Fitri malah jadian sama Kempot. Cacing pergi ke Karawang buat nembak Sefty Sunarya hasilnya ditolak. Boim nembak si Yayah anak Dharma Husada, ditolak juga. Kata si Yayah ke Boim, “biarkan perasaan itu mencair”. Entah apa maksudnya tapi yang jelas semuanya berakhir tragis. Mungkin kelas itu memang dikutuk.

Di samping kelas itu, di dekat tangga yang membawa kita ke lantai 2, dulu terdapat sebuah kulkas juga sebuah loker yang tidak terpakai lagi. A Wowo, sebagai ketua HIMA saat itu, mempunyai sebuah program bernama Kantin Kejujuran. Jadi di kulkas itu diisi oleh bermacam-macam minuman dingin. Siapa saja yang mau beli tinggal ambil saja dalam kulkas. Uangnya tinggal dimasukin ke dalam toples yang ada di atas kulkas. Program yang mulia sekali. Jika saja a Wowo mau maju sebagai calon presiden pasti beliau akan terpilih. Jokowi sama Prabowo mah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan a Wowo. 

Sayangnya, a Wowo lupa kalau dia tidak tinggal di Jepang tapi Indonesia. Jadi program mulia tersebut dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang dalam hal ini biasanya saya dan Yosie.

“Brooot, haus gak?” kata saya ke Yosie

“Haus, Broot”

“Yaudah ambil Fruit Tea”

“Oke”

 Kemudian Yosie akan mengambil sebotol Fruit Tea dan saya akan memasukan selembar uang seribuan, padahal harganya 3 ribu rupiah.

“Wah kurang tuh Broot duitnya. Ya wes isun tambahin” kata Yosie. Kemudian dia ikut nambahin, sebesar 500 perak.

Lama kelamaan program itu bangkrut juga. Karena selalu merugi akhirnya pintu kulkas selalu dikunci. Kita tidak bisa mengambil minuman seenaknya. Tapi karena selalu dikunci otomatis tidak ada yang membeli, jadilah program itu benar-benar bangkrut. Entah sejak kapan kulkas itu selalu terlihat kosong.
 Karena selalu terlihat kosong, terlintas sebuah ide untuk memindahkan kulkas itu ke dalam kelas. Saya tidak tahu siapa yang melontarkan ide brilian ini tapi yang jelas pada suatu hari, dengan dipimpin oleh Bayu Purnomo maka kulkas tersebut dipindahkan ke kelas kami. Diangkut dari lantai 1 ke lantai 2! Saat itu kami merasa sangat keren sekali. Bayangkan sebuah kelas mempunyai kulkas di dalamnya! Rasanya selama kampus kami berdiri baru hari itu ada sebuah kelas yang mempunyai kulkas.

Tapi kekerenan itu tidak berlangsung lama. Bu Ayu langsung marah-marah ketika melihat kulkas itu sudah nangkring di dalam kelas. 

“Kenapa kulkas ada disini? Balikin lagi ke tempatnyaaaa!!!” 

Jika sudah begitu tak seorang pun yang berani melanggar titahnya.  Bayu Purnomo, kembali memimpin pengangkutan kulkas itu kembali ke tempatnya semula.

IV.
Bu Ayu tidak selalu galak. Meskipun sering marahin saya karena rambut saya gondrong, atau marahin Wastika karena malah ngegambar wayang pas mata kuliah Bu Ayu, beliau kadang juga baik, malah sekali waktu pernah kena sial. Ceritanya waktu itu Bu Ayu mempunyai sebuah peraturan. Jika beliau sedang mengajar maka kita harus datang sebelum beliau datang. Jika kita datang setelah beliau ada di kelas maka hukumannya kita tidak boleh ikut jam kuliah tersebut. Sialnya waktu itu jam kuliah Bu Ayu adalah hari Senin jam 8 pagi. Ini adalah hal yang cukup membahayakan buat saya. Karena setiap akhir pekan saya harus mudik ke Kuningan, maka saya beresiko datang terlambat pada hari Seninnya. Saya tidak berharap itu terjadi tapi ternyata terjadi juga. Saya datang terlambat. Sudah lari-lari menuju kelas ternyata Bu Ayu sudah ada di dalam. Coba ketuk-ketuk pintu ternyata tetap tidak boleh masuk. Akhirnya selama jam pelajaran tersebut saya harus menunggu di luar dan suruh mengisi laporan keterlambatan. Kalau tidak salah, waktu itu sama Dea Julyansyah.

Minggu depannya saya berangkat lebih pagi karena tidak ingin kembali menunggu di luar. Sebelum jam 8 saya sudah berada di kelas. Tenang rasanya. Tapi sampai jam 8 Bu Ayu belum juga hadir di kelas. Anak-anak di kelas sudah mulai pada ribut. 

“udah kunci aja pintunya”

Entah siapa yang punya ide seperti itu, tapi kemudian Mbol tampil sebagai eksekutor. Dia mengambil tali yang biasa digunkan untuk mengikat gorden lalu memakai tali itu untuk mengunci pintu. Sreet sreet sreet. Pintu pun terkunci. Mbol kembali duduk di bangkunya.

Beberapa menit kemudian Bu Ayu terlihat berjalan hendak memasuki kelas. Tapi tidak ada seorang pun yang membuka  tali yang mengikat pintu. Terlihat Bu Ayu berusaha membuka pintu, didorong ditarik didorong lagi ditarik lagi tapi pintu tetap tidak terbuka. Ketika ada yang berusaha membuka tali itu tiba-tiba saja Bu Ayu balik badan dan meninggalkan kelas! Waduh, Bu Ayu marah nih gawaaaat! Mbol segera saja jadi sasaran kemarahan, terutama oleh Ghesti yag selalu marah-marah.

Untung Mbol bersikap gentle dan segera menyusul Bu Ayu untuk meminta maaf. Tapi ternyata Bu Ayu tidak marah, katanya beliau juga harus konsisten dengan apa yang sudah diucapkannya. Bener kan? Bu Ayu tidak selalu galak.

V.
Itulah kampus saya, Akper Depkes Cirebon. Meskipun di kalangan para mahasiswa Akper dan rumah sakit kampus kami bisa dibilang terkenal, lain halnya dengan masyarakat awam. Setidaknya, satu kali dalam hidupmu kau akan mengalami situasi semacam ini,

“Kuliah dimana, Dek?”

“Di Akper Depkes, Pak”

“Dimana itu?”

“Di jalan Pemuda”

“Oh, Unswagati ya?”

“Bukan, Pak. Akper Depkes”

“Oh iya, STAIN ya?”

“Bukan, Pak. Akper Depkes. Sekolahnya perawat!”

“Oh perawat. Ya, saya tahu. Muhammadiyah kan ya?”

“pppppfffffttttttttt”

Jika sudah begitu jalan satu-satunya adalah segera balik badan dan ucapkan “kuatkan Baim Ya Alloh”sebanyak 69 kali.

Diakui atau tidak kenyataannya memang seperti itu. Saya sendiri baru tahu kampus ini setelah diajak mendaftar oleh Endah (mantan pacar saya). Mas Maung pertama kali mendaftar di Stikes dan Muhammadiyah. Bang Mamat dan Gembul malah daftar di UPI. Yang sepertinya memang sudah berniat kuliah disini mungkin cuma Antonio Nurhega. Dan beliau sukses menduduki jabatan Wakil Presiden BEM. Fufufu.

Tapi buat saya itu bukanlah hal yang penting. Karena yang paling penting saya bisa lulus dan akhirnya dapet kerja. Juga, yang penting ketika mengenangnya saya selalu senang. Itu tandanya apa yang saya jalani selama 3 tahun kuliah adalah hal yang menyenangkan. Kalau tidak senang buat apa juga saya mengingat-ngingat dan capek-capek menuliskannya.

Dan ya, itulah kampus saya. Setiap sudutnya mempunyai cerita tersendiri bagi saya. Ada beranda di lantai 2 tempat saya biasa liatin anak-anak bidan di seberang, tapi tidak pernah terlihat jelas karena mata saya minus. Ada juga papan whiteboard di kelas yang sering digambarin jorok oleh teman-teman saya.  Biasanya digambarin gambar penis. Ada penis yang diwarnain hitam terus ditulis “Punya Bayu”. Atau gambar penis besar dan berotot “Punya Sumedi”. Atau gambar penis yang mungil, itu sudah jelas ditulis “Punya Yosie”. Dari papan whiteboard kemudian pindah ke tas, baju bahkan sepatu. Lengah sedikit saja, siap-siap ada gambar penis di tasmu. 

Dan ada pagi-pagi yang selalu saya ingat. Setiap kali berangkat ke kampus. Dengan mata yang masih mengantuk karena keseringan begadang.  Berjalan menaiki tangga. Masuk kelas, menyimpan tas, lalu keluar lagi dan nongkrong di beranda kelas. Menunggu dosen masuk. Biasanya saya minjem hp Bang Mamat atau si Mul buat dengerin musik. Itu sekitar jam 7 atau jam 8 pagi. Mataharinya masih segar. Dan warnanya bagus sekali. 

Ricky P. Rikardi

Kampung Melayu, 14 Februari 2015

Sabtu, 03 Januari 2015

Random Notes

Sebenarnya tulisan-tulisan dibawah ini bisa menjadi tulisan dengan judul sendiri dan bisa menjadi sebuah karangan yang panjang, namun saya bukan tipe orang yang getol dan gak suka yang panjang-panjang. Baru setengah nulis ajah, saya sudah bosan, mungkin bakat saya bukan menulis. Tapi saya suka berkhayal, khayalan bisa menjadi sebuah karya masterpiece bila bisa tervisualisasikan kepada sebuah tulisan dan mungkin bisa tervisualisasikan lebih lanjut menjadi sebuah film. Ide dalam kepala saya dalam menulis banyak sekali walaupun mungkin tidak menarik bagi anda baca,namun saya tidak peduli. Saya hanya menuangkan apa yang saya rasakan dalam suatu tulisan pendek (inget yah saya gak suka yang panjang-panjang). Saking banyaknya ide dalam otak saya, saya analogikan seperti sperma yang begitu banyaknya yang sedang bersaing memperebutkan sel ovum. Sel ovum disini adalah saya. Dan sperma sendiri adalah ide dalam otak saya. Akhirnya dari beberapa hal seperti saya tidak suka yang panjang-panjang dan begitu banyak ide yang saya ingin tumpahkan, maka saya tuliskan beberapa tulisan dibawah ini. Sebagai penyaluran hasrat terpendam sepeti judul novel karangan Eka Kurniawan “seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas”. Jeng... jeng....

I. Saya dan menulis

Menulis, sebagian orang menganggap menulis atau mengarang adalah sebuah hal yang membosankan,. Dan bagi saya ada benarnya, namun tidak seutuhnya benar. Awalnya saya mengenal dunia tulis menulis dan akhirnya bisa menghasilkan beberapa tulisan yang terbit di kalangan para ibu-ibu muda, karena dikenalkan oleh Ricky Joe Amstrong, temen tapi bukan temen deket waktu kuliah dulu.

“Mas Mbeb awalnya bisa deket sama Ricky gimana ceritanya?” Mas Maung bertanya disebuah pagi yang hujan.

“saya lupa, dan bener-benar lupa”. Dari momen tersebutlah saya berpikir keras, “iya yah awalnya saya bisa deket ama Ricky  gimana ceritanya? Padahal waktu kuliah dulu kita hanya sebatas kenal, jarang menyapa”.

Kalau kita ingin menarik benang merah, tentunya kita tidak boleh lupa akan sejarah. Ada beberapa persamaan saya dengan Ricky, salah satunya yaitu kita sama-sama bekerja RSCM. Mungkin berawal dari situ saya bisa deket dengan beliau. Awal saya kerja di RSCM Ricky sering main ke kostan saya, sebatas hanya untuk istirahat atau dia sengaja ingin mengenalkan film-film atau buku-buku yang dia sudah baca dan menawarkan kepada saya untuk dipinjamkan. Salah satunya film kontroversial The Act of Killing.
  
Kadangkala Ricky datang ke kostan saya, namun saya merasa badannya ada disini tapi jiwanya tidak disini. Asal kita tahu, waktu itu Ricky sedang mempersiapkan pernikahannya. Hingga suatu saat, Ricky bercerita kepada saya, kalau dia ingin membuat sebuah zine yang bertemakan keperawatan. Zine bukan majalah, lebih kecil dari sebuah majalah dan gratis. Diproyeknya tersebut saya diajak untuk menjadi penulis tetap, awalnya saya ragu namun akhirnya saya mencoba dan bisa menghasilkan beberapa tulisan. Saya sendiri suka mengkhayal sebuah cerita,namun sulit tervisualisasikan kepada suatu hal yang berbentuk seperti tulisan.Ditambah lagi saya belum menemukan bakat apa yang saya miliki? Mungkin menulis?? Saya tidak bakat dalam seni.

II.Kesombongan Bang Udin Bukan Pada Tempatnya

Tulisan ini saya ingin bercerita tentang Bang Udin, penjaga kostan yang kita sebut “Kostan Bang Udin Syndicate”. Bukan kostan beliau sih, tapi kepada beliaulah saya bayar kostan tadi pagi. Akhir-akhir ini Bang Udin sering menyombongkan koleksi batu akiknya ke saya atau pun Mas Maung.

“nih liat Adi dan Arief batu akik sebelum diolah” cetus beliau sambil memperlihatkan batu akik seukuran kepala bayi.

“iya bagus, Bang Udin.” jawab saya, dengan muka datar.

Pembicaraan berhenti sampai disitu, saya kembali mengobrol dengan Mas Maung sementara Bang Udin masih mengelap batu akik di depan kami sambil berusaha menarik perhatian saya dan Mas Maung. Tapi usahanya tidak berhasil, Bang Udin pun lelah dan pergi.

Situasi akan tampak berbeda bila Bang Udin menyombongkan batu akik tersebut kepada Bunglay (temen Beny). Tanggapan Bunglay pasti tidak sedatar tanggapan saya yang gak memiliki ketertarikan terhadap batu akik. Entah kenapa Bunglay tidak menjadi hipster seperti sebelum-sebelumnyanya, beliau menjadi penikmat dan pengkoleksi batu akik mengikuti tren para om-om kebanyakan.  Bukan hanya Bunglay yang terpikat terhadap batu akik pada usianya yang masih belia, masih banyak remaja-remaja di luar sana yang bangga memakai batu akik di jari-jemarinya.

“nih liat Haris (nama samaran Bunglay) batu akik sebelum diolah” kata Bang Udin sambil memperlihatkan batu seukuran kepala bayi ke Bunglay.

“keren banget Bang Udin, pasti batu akik ini berjenis homo sapiens dan biasanya terdapat dibulan, pasti ini harganya sangat mahal Bang Udin, kalo dijual harga jualnya pasti masih tinggi.” jawab Bunglay dengan memperlihatkan muka horny.

Dari situ saya belajar, kalau mau sombong, sombonglah pada tempatnya. Kalau sedang sombong tapi tidak mendapatkan feedback positif dari target kesombongan kita, pastilah hal itu akan sangat mengecewakan.

III. Saya, RSCM, dan Celana Pendek
 
Jakarta itu panas dan salah satu aktivitas keseharian saya adalah berangkat kerja ke RSCM. Jarak dari kostan Bang Udin ke RSCM sekitar 500 meter dan biasanya saya berjalan kaki untuk menempuh rute tersebut. Saya mudah berkeringat, berjalan 500 meter di cuaca Jakarta yang adem aja kadang saya berkeringat apalagi di cuaca panas. Oleh karena itu saya lebih nyaman pake kaos belel sama celana pendek untuk pergi kerja. Karena pada intinya, haram hukumnya pake seragam perawat RSCM di luar lingkungan RSCM. Akhirnya pada suatu pagi, pagi itu pagi yang terik, dan pagi itu pagi di hari Senin yang begitu sibuk, saya berjalan di lorong lantai basement gedung A RSCM. Berjalan menuju  kamar ganti dengan hanya mengenakan kaos belel bergambarkan logo Starbucks namun berisi plesetan yang saya beli awal tahun 2011 (kejadian ini terjadi di tahun 2014) seharga 20 ribu rupiah di Bandung. Kaosnya emang belel bahkan ada bagian bolong di area perut seukuran paku payung. Selain pake kaos belel, saya juga pake celana pendek dan sendal jepit. Sekitar 5 meter sebelum nyampe kamar ganti saya bertemu dengan kepala SDM gedung A, dan terjadilah perbincangan seperti ini:

“Arief!! Kamu mau kerja atau mau berlibur?!” sindir kepala SDM YTH dengan muka ketus karena beban kerja hari Senin kali yah.?

“Saya menganggap bekerja itu adalah berlibur, makanya saya selalu mengawali hari Senin dengan senang dan gembira serta saya mencintai pekerjaan saya. Bapak tau moto hidup saya KERJA,, KERJA,,, DAN KERJA,,, RSCM sudah menjadi rumah ketiga saya, Pak. Bapak udah saya anggap saudara. Direktur kita, sudah saya anggap kakek sendiri. Dan saya menganggap semua pegawai RSCM adalah saudara ketiga saya” jawab saya tegas dalam hati. Kurang apa coba saya sebagai seorang pegawai yang menjunjung tinggi dedikasi dan selalu memegang teguh istilah MENOLONG DAN MEMBERIKAN YANG TERBAIK.

“Saya menganggap bekerja itu adalah berlibur Pak, makanya saya selalu santai dalam bekerja dan saya senang” nah ini ciusan jawaban saya yang sebenernya ketika beliau menyindir saya.

Saya langsung tinggalkan beliau begitu saja, dan beliau juga pergi tanpa sepatah kata pun.

IV. Saya, Mas Maung, Yosi : 3 laki-laki yang tidak mempunyai prinsip kah? Atau kami belum menemukan pasangan yangmembuat kami memiliki rasa takut kehilangan bila tidak memiliki, menikahi,serta menggagahi?

Pedekate adalah fase sebelum pacaran, fase ini sebenarnya lebih menyenangkan daripada fase pacaran. Entah kenapa wanita akan lebih menunjukkan siapa dirinya, seberapakah posesifnya ketika status telah meningkat dari pedekate ke pacaran. (Ricky Joe Armstrong, 2014)

Ada banyak letupan-letupan badai serotonin ketika masih pedekate, ada banyak kebutuhan seksual secara arti luas yang terpenuhi selama masa pedekate, tapi entah kenapa hal itu menjadi membosankan setelah pacaran. Setidaknya itulah yang saya, Mas Maung, dan Yosi rasakan. Kami terlihat tidak mempunyai prinsip kah? Atau belum menemukan wanita yang membuat kita merasakan takut kehilangan? Atau mungkin kita hanya puas hanya dengan status gebetan? Kalau kita analogikan kenapa kami merasa lebih nyaman menjalani masa pedekate daripada masa pacaran mungkin seperti ini :

Ada sepasang kekasih yang hendak berhubungan badan, mereka melakukan pemanasan, cium kanan, cium kiri, cium sanah, cium sinih. Ketika pemanasan semakin panas, nadi semakin cepat, respirasi rate meningkat, ada gejolak perasaan yang perlu dituntaskan, dan ketika sang pasangan wanita pasrah terhadap sang pasangan laki-laki mau diapakan. Tapi tiba-tiba saja sang laki-laki lebih memilih untuk pergi dan meninggalkan wanita yang sedang terbaring pasrah dan memperlihatkan muka keanehan. (sumpah absurd dan gak nyambung sekali analoginya)

Mas Maung dan Yosi sendiri banyak gebetannya. Kalau lagi ditanya sedang dimana? Jawaban mereka pasti meliuk-liuk alias lagi jalan dengan gebetan, dan tentunya gebetan-gebetannya selalu berbeda-beda di setiap momennya. Mereka berdua termasuk laki-laki yang tidak mempunya prinsipkah? Atau mereka sedang mencari pasangan yang tepat?

Ketika saya curhat kepada mas maung (kita memang laki-laki lemah) tentang gebetan saya, Mas Maung bertanya,

“Mas Mbeb,kenapa gak jadian aja sih? Tinggal sekali shoot tuh, pasti gol?” tanya Mas Maung.

“Aduh gimana yah Mas Maung, gebetan saya nyarinya calon suami bukan pacar. Nampaknya dia orang yang berperasaan banget dan emang seriusan cari calon suami, apalagi usianya udah cocok untuk menikah. Sayakan belum kepikiran berumah tangga.” jawab saya.

“Jalanin aja Mas Mbeb, kalau jodoh pasti bertemu, kalau bukan jodoh yah lari deh” sergah Mas Maung.

Saya tampak tidak memiliki prinsipkah? Atau saya tidak ingin menyakiti gebetan saya di lain waktu ketika dia sangat berharap lebih terhadap saya?

Pernah ada temen yang bilang kalau laki-laki itu memiliki golden period, periode dimana waktu yang tepat bagi seorang laki-laki mencari pasangan hidup dan Tuhan mengirim pasangan yang tepat untuknya. Kadangkala laki-laki tidak peka dengan golden period tersebut. Banyak wanita yang ingin serius dengannya namun sang laki-laki sibuk dengan hobi dan karirnya. Dan akhirnya golden period tersebut terlewati begitu saja. Efek jangka panjangnya setelah golden period tersebut terlewati adalah sang laki-laki susah menemukan pasangan yang tepat.

Kesimpulannya masih sebuah tanda tanya :
1.      Kami tidak mempunyai prinsip?
2.      Kami terlalu nyaman sendiri?
3.      Kami sedang mencari pasangan yang tepat? Yang bisa membuat kami cemburu, merasa takut kehilangan, dan merasa nyaman di dekatnya?

Salemba Tengah, Kostan Bang Udin, 3 Januari 2015

Arief Rahma Hidayat, AMK

Senin, 22 Desember 2014

Urip (yang sedang tidak) Mengkenen Temen : Untuk Si Mamah yang Tidak Pernah Terlihat Tua




Hidup tidak hadir dengan sebuah buku panduan. Ia hadir melalui seorang ibu.

Beuh keren sekali kan kutipan diatas? Tentu saja keren karena itu bukan kutipan dari saya. Saya menemukannya dari linimasa seseorang di twitter. Maklum hari ini kan Hari Ibu jadi di media sosial orang rame-rame mem-posting segala hal tentang ibu.

Tapi mari kita baca secara seksama kutipan diatas. Tidak seperti handphone atau barang elektronik lainnya yang begitu kita beli lalu buka kita akan mendapatkan booklet berisi panduan dan segala tetek-bengeknya (meskipun saya yakin buku panduan itu tidak pernah dibaca), hidup manusia tidak seperti itu. Kita brojol ke dunia tanpa tahu apa-apa. Kecuali nangis karena lapar dan minta nenen. Itupun tidak serta-merta langsung ngomong ke ibu kita “Mah nenen dong Mah?”. Semua membutuhkan proses yang tidak sebentar. Dari mulai kita belajar merangkak, berdiri, berjalan sampai bisa berbicara. Dan dari semua proses itu, ibu adalah seseorang yang mempunyai peranan yang sangat besar dan krusial. Maka tidak heran juga kalau ada idiom yang menyebutkan kalau proses pembelajaran pertama seorang anak berasal dari ibunya. Coba saja perhatikan para mamah-mamah muda kalau sedang mengajari anaknya bicara. “Ma ma, pa pa, da da” begitu berulang-ulang dengan wajah ceria dan penuh kehangatan. Mengenalkan nama-nama hewan, pohon, bunga dan semua benda yang ada di sekelilingnya.

Maka adalah sebuah usaha yang sia-sia jika kita ingin mencoba menghitung jasa-jasa seorang ibu. Menghitungnya saja sudah susah bagaimana cara kita membalasnya? Wah ini menurut saya lebih susah lagi. Tapi kalau saya pribadi sih percaya cara sederhana untuk membalas jasa seorang ibu adalah dengan tidak membuatnya kecewa. Yah meskipun saya bukanlah anak yang baik-baik amat, suka coli, suka minum bir, suka ngecein Jonru dan Felix Siauw, dan di pilpres kemarin dengan rendah hati menolak  ajakan ibu saya  untuk nyoblos Prabowo tapi kalau berada di depan ibu saya sebisa mungkin bersikap seperti anak yang baik-baik. Semata karena saya benar-benar tidak ingin membuatnya merasa kecewa karena sudah melahirkan anak sebadung saya. Semoga itu semua cukup untuk membuatnya bahagia.

Diantara jasa-jasanya yang segunung itu, ada satu hal yang saya syukuri telah Mamah (ini panggilan untuk ibu saya) wariskan kepada saya, yaitu kegemarannya membaca dan mendengarkan musik. Kesukaan saya terhadap buku dan musik itulah yang saya kira berasal dari ibu saya. Saya sendiri sebenarnya juga tidak tahu kenapa saya bisa tumbuh dengan suka membaca, hanya saja dulu waktu kecil saya sering kali meliha si Mamah sedang membaca cerpen di Majalah Femina atau pun di Majalah Kartini. Kadang si Mamah membacanya ketika sedang menunggu nasi matang atau ketika potong rambut di salon. Saya juga ingat dulu si Mamah pernah membaca sebuah novel berjudul Kisi-Kisi entah karangan siapa. Aneh juga, saya masih mengingatnya sampai sekarang meskipun pada waktu itu saya tidak pernah membacanya. Mungkin saja dari situ hasrat membaca saya mulai tumbuh. Apalagi ketika saya sudah  mulai masuk sekolah dasar, si Mamah terkadang suka membawa buku bacaan dari perpustakaan sekolahnya ke rumah. Satu judul buku yang saya ingat adalah kumpulan cerita Petani Dan Kerbaunya. 

Begitu juga halnya dengan musik. Pendidikan musik pertama saya bisa dibilang berasal dari si Mamah juga. Dari sejak saya TK saya sudah akrab dengan lagu-lagunya Oma Irama, Elvie Sukaesih, Rita Sugiarto sampai Evi Tamala. Juga dengan lagu-lagu pop Sunda macam Darso, Yayan Jatinika ataupun Hetty Koes Endang. Saya dapatkan semuanya dari si Mamah. Karena si Mamah ini rutin menyetel lagu-lagu tadi setiap sore. Biasanya sih sambil beliau ngepel. Atau kalau tidak menyetel lagu-lagu dari penyanyi tadi si Mamah akan mendengarkan siaran radio yang juga memutarkan lagu-lagu dangdut atau pop Sunda.

Mungkin karena itu juga sampai sekarang saya lebih merasa akrab dengan lagu-lagu dangdutnya Rhoma Irama ataupun Evi Tamala dibandingkan dengan misalnya Cita Citata atau pedangdut masa kini lainnya. Karena sering diperdengarkan sejak saya kecil maka lagu-lagu dangdut juga pop Sunda tadi begitu menempel di alam bawah sadar saya. Meskipun lagu-lagu tadi sangat-tidak-obscure-dan-gaul sama sekali tapi saya selalu suka setiap kali mendengarnya.

“Urip mengkenen temen” begitu kawan saya Yosie Rivanto sering berkata.   Terkadang saya sendiri pun sering merasakan berada di situasi yang tersebut. Situasi yang urip-mengkenen-temen, situasi yang kadang selalu membuat saya merasa, “anjiir kok idup gini-gini amat ya?”. Tapi dengan buku-buku yang pernah saya baca dan musik yang pernah saya dengarkan saya merasa bahwa hidup juga terkadang menyenangkan. Tidak selalu untuk menggerutu dan menyesali. Bahwa biasanya dengan membaca buku dan mendengarkan lagu kesukaan sambil ngopi, hidup saya sudah terasa indah seperti di surga. Untuk kedua hal itu saya merasa sangat berterima kasih kepada si Mamah. 

Terimakasih Tuhan sudah memberi ibu yang tidak pernah terlihat tua di mata saya. Selamat hari ibu dan i love you.

Ricky P. Rikardi